Friday, April 22, 2016

“Jangan Mencintai dan Menyayangi Anak Anda”



Sebuah nasihat penting saya dapatkan dari sang guru, Adi W. Gunawan, saat bertemu di Balikpapan, Kamis (21/4) malam. Di hari bertepatan perayaan Hari Kartini tersebut, pendiri Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology itu menyampaikan agar orang tua “Jangan Mencintai dan Jangan Menyayangi Anak.”

Sontak, apa yang disampaikan pakar teknologi pikiran terkemuka di Tanah Air ini membuat siapa pun yang mendengarnya kaget. Suasana makan malam di sebuah restoran sea food cukup ternama di Kota Beriman ini pun sempat hening sesaat. Malam itu selain saya, ada beberapa warga Balikpapan yang menjamu kehadiran beliau. Lantas, kok bisa, seorang penulis lebih dari 20 buku ini menyarankan agar orang tua tidak mencintai dan menyayangi anaknya?


Tunggu dulu. Tentu saja apa yang disampaikan beliau itu belum selesai, alias masih koma. Orang tua memang dilarang mencintai dan menyayangi anak. Namun yang paling tepat adalah, pastikan bahwa anak merasa dicintai, dan merasa disayangi. Nah, sampai di sini apakah pesan yang disampaikan beliau sudah jelas?

Sahabat, sering kali yang terjadi, orang tua sudah merasa sangat mencintai dan sangat menyayangi anak-anaknya. Hal itu bisa dibuktikan dalam berbagai bentuk. Misalnya memenuhi semua kebutuhannya, termasuk untuk urusan game atau gadget yang paling mahal sekalipun. Pendek kata, apa pun maunya anak, akan dikabulkan. Dengan demikian, orang tua sudah merasa sangat mencintai dan menyayangi anaknya.

Pertanyaan berikutnya, apakah anak-anak sudah merasa dicintai atau disayangi orang tuanya? Nah ini yang kadang memerlukan jawaban tepat. Terkadang, orang tua tidak memiliki cukup waktu melakukan konfirmasi pada anak, apakah anaknya sudah merasa dicintai dan merasa disayangi?

Saya beberapa kali mendapatkan fakta di ruang praktik, beberapa anak yang katanya bermasalah dari sisi prestasi akademik hingga kecanduan bermain game, faktanya diakibatkan oleh anak yang merasa tidak disayangi orang tuanya.

“Saya ingin mama dan papa tidak usah kerja, di rumah aja sama adek….,” demikian ucap anak usia 8 tahun yang beberapa waktu lalu menjalani sesi terapi karena nilai belajarnya melorot saat mid semester.

“Aku pengen punya kamar di kantor ayah, supaya bisa lihat ayah tiap hari,” ungkap bocah usia 6 tahun, yang gagap saat berbicara. Ada lagi beberapa kasus lain yang penyebabnya mungkin dianggap sepele oleh kedua orang tuanya.  

Umumnya, anak yang kecanduan game atau menonton televisi hingga ketergantungan gadget, penyebabnya adalah kurangnya berinteraksi dengan keluarga. Ayah sibuk bekerja, demikian juga ibunya. Kalau pun tidak bekerja, tak sedikit ibu-ibu yang juga bersosialisasi hingga tak sadar membuang waktu penting bersama anak-anak.

Saat anak merasa membutuhkan kasih sayang, sejatinya orang tua yang harus mengisinya. Berhubung anak merasa sendiri karena orang tua sibuk bekerja, maka game, televisi maupun gadget adalah pengganti pengisi rasa kasih sayang tersebut. Yakinlah, ketika momen kebersamaan dengan keluarga benar-benar maksimal, anak sudah tidak memerlukan gadget lagi.

Coba perhatikan ketika sedang di pusat perbelanjaan. Berapa banyak keluarga yang secara fisik seolah bersama, namun sejatinya hati dan perasaannya saling berjauhan. Ketika makan bersama, suasana hening bukan karena sedang kusyuk makan, melainkan sibuk dengan gadget masing-masing. Jika seperti ini, jangan harapkan anak bisa lepas dari ketergantungan gadget.

Buat aturan, ketika sedang bersama-sama di mobil, misalnya, tidak boleh ada yang memegang handphone. Interaksi dengan sesama anggota keluarga itu akan meningkatkan perasaan tenang dan nyaman, sekaligus akan mengisi baterai kasih sayang. Begitu pula ketika makan bersama, sebaiknya handphone tidak boleh keluar. Sebaiknya ‘haram’ hukumnya ketika makan sembari memegang handphone.

Guru saya Adi W. Gunawan sempat memberikan tips khusus. Ketika sedang makan bersama keluarga, teman kantor, teman lama, teman reuni, hingga komunitas arisan, sebaiknya smartphone dikumpulkan di satu tempat.

“Nanti buat aturan khusus. Siapa yang duluan mengambil dan mengangkat telepon, dia yang membayar semua makanannya,” ucap Adi. Mengapa, ini untuk melatih kesabaran dan meningkatkan kesadaran untuk menghargai momen penting yang berkualitas. Dengan cara ini, maka setiap orang bisa saling menghargai satu sama lain, yang pada akhirnya akan saling mengisi bahasa cinta masing-masing.  Dengan cara ini, praktis tidak akan lagi individu yang merasa kesepian.

Demikianlah kenyataannya.  (*)



Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...