Tuesday, April 19, 2016

Kenapa Saya Menekuni Dunia Hipnoterapi?


Setiap kali bertemu dengan teman dan sahabat lama, pertanyaan yang meluncur dari bibir pertama kali adalah, “kok bisa sampai belajar hipnoterapi?” Jujur, saya sendiri terkadang bingung ketika ditanya soal ini. Sebab faktanya, saya memang tidak pernah bercita-cita menjadi hipnoterapis. Jangankan bercita-cita, terbayang pun tidak. Bahkan sama sekali tidak tahu jika ada profesi hipnoterapis.

Satu-satunya cita-cita yang saya tuliskan sejak masih duduk di kelas 6 sekolah dasar adalah ‘wartawan’. Ya, ketika teman saya yang lain menuliskan cita-cita sebagai dokter, guru, pegawai negeri, polisi, tentara, bahkan presiden, hanya saya satu-satunya di kelas yang menulis kata ‘wartawan’.


Impian saya ketika itu hanya satu, ingin jalan-jalan keliling Indonesia yang katanya sangat kaya akan sumber daya alam, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Bahkan kata Koes Plus, saking kayanya Indonesia sampai memiliki kolam susu.

Menjadi wartawan akhirnya benar-benar bisa diwujudkan. Bahkan sejak kelas 2 SMA, saya sudah memegang kartu pers sebagai salah satu koresponden sebuah majalah bulanan terbitan Cepu – Jawa Tengah, untuk wilayah Kalimantan Timur. Sayang kini majalah itu hanya tinggal nama.

Hingga akhirnya ketika berkuliah di Samarinda – Kaltim, saya memberanikan diri melamar untuk bekerja di surat kabar harian Suara Kaltim. Harian ini pun tak bertahan lama dan akhirnya benar-benar tidak terbit, sehingga kemudian saya hijrah ke Kaltim Post sambil terus berkuliah.

Menjalani profesi sebagai wartawan, praktis membuat waktu benar-benar tersita untuk pekerjaan. Hampir 24 jam, harus berkutat dengan liputan dan membuat berita. Ketika sudah berkeluarga dan memiliki anak, rutinitas ini pun tak banyak berkurang. Waktu benar-benar banyak didedikasikan untuk pekerjaan jurnalistik. Apalagi ketika mendapat amanah untuk mendirikan surat kabar Berau Post di Berau, saya pun benar-benar harus total dan membuktikan mampu mewujudkan impian perusahaan tersebut.



Puncaknya, setelah menjadi wartawan selama 15 tahun, dihitung sejak SMA hingga pertengahan 2014, ternyata ada sesuatu yang kurang nyaman di hati. Apa itu? Interaksi dengan keluarga ternyata sangat kurang. Alih-alih bekerja maksimal untuk memenuhi kebutuhan keluarga, yang terjadi malah terasa jauh dengan keluarga.

Beruntung, kesadaran ini muncul. Saya pun rajin berselancar di dunia maya untuk membaca artikel-artikel inspiratif dan memotivasi diri, sekaligus mencari solusi atas perasaan yang muncul pada saat itu. Hingga akhirnya saya terdampar di situs www.adiwgunawan.com yang kini menjadi guru saya. Banyak artikel menarik dari beliau, Adi W. Gunawan, hingga menggugah kesadaran diri untuk berubah lebih baik.

Saya pun sebenarnya tidak asing dengan pemilik situs ini. Sebab beberapa tahun sebelumnya, ketika masih liputan di desk pendidikan, saya pernah mendapat tugas meliput beliau yang memberikan pelatihan pada para guru PG/TK Budi Bakti Samarinda. Saya pun mencoba mengikuti fanspage facebook Adi W. Gunawan. Dengan cara itu, saya pun semakin mudah menyimak artikel-artikel baru yang ia tulis.

Merasa kurang puas hanya dengan membaca tulisan, saya merasa tertarik dengan workshop Quantum Life Transformation (QLT) yang dibuat Adi W. Gunawan untuk mengubah diri sendiri menjadi lebih baik. Saya mengetahui workshop ini melalui lamannya itu.

Cukup lama saya bersusah payah menabung untuk bisa ikut workshop yang menurut saya harganya cukup lumayan. Bahkan biaya workshopnya lebih mahal ketimbang gaji yang saya terima setiap bulan sebagai wartawan.

Tekad sudah bulat, keinginan sudah kuat. Medio Desember 2014, akhirnya saya benar-benar mewujudkan impian mengikuti workshop ini. Workshop selama 4 hari 3 malam yang digelar di Hotel Royal Senyiur, Tretes – Pasuruan – Jawa Timur ini benar-benar mengubah hidup saya. Pola pikir saya benar-benar di-install ulang. Ibarat komputer, workshop itu seolah melakukan defragment pada pikiran bawah sadar saya sehingga bisa dengan mudah membuang file-file yang tidak perlu dan mengganggu proses kehidupan sehari-hari.

Sepulang mengikuti workshop itu, saya pun selalu bercerita tentang perubahan yang saya alami kepada siapa saja. Baik teman, sahabat, hingga keluarga besar. Ternyata, keluarga besar memberikan dukungan yang luar biasa. Apalagi, teknik yang diberikan selama workshop, ternyata juga bisa dibantu untuk mengatasi beberapa persoalan yang dialami teman, sahabat, juga kerabat dan keluarga.

Inilah yang kemudian membuat keluarga besar di Samarinda memberikan dorongan untuk terus mendalami ilmu teknologi pikiran ini. Tak hanya istri, rekan dan sahabat yang sebelumnya saya ajak diskusi pun memberikan dukungan maksimal.

Alhasil, dorongan inilah yang memperkuat tekad saya untuk belajar lebih serius dengan bergabung di kelas Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy (SECH) Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology. Pendidikan selama 100 jam dengan durasi selama 3 bulan itu akhirnya benar-benar berhasil saya tuntaskan.

Setelah mendalami ilmu ini, ternyata ada kebahagiaan tersendiri ketika berhasil membantu orang lain lepas dari berbagai persoalan terkait pikiran. Dari mulai rasa takut, cemas, dan psikosomatis, hingga persoalan fobia bahkan penyimpangan perilaku seks. Rasa bahagia ini hampir sama ketika saya jadi wartawan kemudian tulisan yang saya buat diterbitkan sebagai headline halaman utama di Jawa Pos, induk dari Kaltim Post.

Entah sampai kapan saya akan menekuni profesi hipnjoterapis ini. Yang jelas, ada kebahagiaan yang saya dapatkan saat bisa membantu orang lain. Perasaan bahagia itu pula yang sampai sekarang saya rasakan ketika menulis dan masih berkutat di dunia jurnalistik.

Ibarat mendaki gunung, saya sudah berhasil mendaki gunung bernama ‘jurnalistik’ dan sudah mencapai puncaknya. Menjadi direktur Berau Post, wakil pemimpin redaksi Kaltim Post serta ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kaltim, ibarat sudah berada di puncak gunung jurnalistik itu.

Seperti halnya para pendaki gunung, tentu tidak ada yang ingin berlama-lama berada di puncak. Kenapa? Karena areal di puncak tentu terbatas dan lama-lama akan terjebak dengan perasaan jenuh. Sebelum perasaan jenuh itu hadir, saya memutuskan untuk segera turun, dan kini memilih gunung baru untuk didaki yakni gunung hipnoterapi. Saya tidak tahu, seperti apa puncak gunung hipnoterapi itu. Yang jelas, saya sedang mendakinya dengan tenang dan nyaman.

Pengalaman ketika mendaki gunung jurnalistik, tentu sangat bermanfaat untuk mendaki gunung ini. Tentunya, gunung jurnalistik masih bisa dinikmati dan dirasakan kebahagiaannya sampai sekarang, sehingga ikut memudahkan proses pendakian menuju puncak gunung hipnoterapi.

Tidak ada yang namanya pendaki gunung ulung, jika hanya bisa menaklukkan satu gunung saja. Keberhasilan menaklukkan setiap gunung itulah yang membuat seseorang dianggap sebagai pendaki yang ulung.

Semoga belantara gunung hipnoterapi ini bisa berhasil saya lalui dengan mudah dan nyaman. Demikianlah kenyataannya. (*)  


     

Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...