Sunday, April 24, 2016

Yuk, Isi Baterai Cinta di Meja Makan


Makan bersama, adalah salah satu upaya mempererat silaturahmi, baik dengan teman, kerabat, paling utama adalah dengan keluarga. Bahkan sejak zaman Nabi Muhammad, makan bersama pun sudah menjadi tradisi untuk mempererat kebersamaan dengan para sahabat. Makan dalam satu wadah bersama, serta tidak menggunakan sendok, melainkan menggunakan suapan tangan.

Di era serba modern saat ini, makan bersama pun tetap menjadi salah satu sarana untuk berkomunikasi bahkan untuk menghormati kedatangan orang penting. Jamuan makan malam, biasanya kerap dilakukan untuk menghargai kehadiran seseorang, bahkan untuk sekadar makan bersama keluarga besar.


Banyak hal positif yang didapatkan melalui acara makan bersama. Di antaranya, ini adalah momen penting untuk mengisi baterai kasih sayang. Baik itu mengisi baterai kasih sayang keluarga, termasuk mereka yang ingin mengisi baterai kasih sayang dengan pasangan, hingga dengan teman dan sahabat.

Menurut Gary Chapman, ada lima bahasa cinta untuk mengisi bateri kasih sayang. Masing-masing adalah pujian, hadiah, waktu yang berkualitas, sentuhan, dan pelayanan. Kelima bahasa cinta ini masing-masing harus ditambah dengan tatapan mata yang tulus.

Dalam proses makan bersama, lima bahasa cinta ini bisa mencakup semuanya. Mari simak dari mulai bahasa cinta pertama yakni pujian. Lihat saja jika komunitas ibu-ibu sedang berkumpul dan makan bareng, pasti akan saling memuji.

“Wah, bunda hari ini bajunya bagus banget….” Atau pujian lain seperti, “wah, ibu tubuhnya semakin langsing aja nih…” Pujian-pujian semacam ini jelas akan membuat seseorang merasa terisi baterai kasihnya.

Begitu pula jika orang tua memuji anaknya di meja makan, tentu anak akan merasa sangat senang, sekaligus terisi bateri kasih sayangnya. Sembari menunggu makanan dihidangkan, pujian semacam ini jelas sangat diperlukan agar masing-masing individu bisa terpenuhi kebutuhan kasih sayangnya. Pujian tentu tidak hanya sebatas saat itu saja. Melainkan bisa juga mengulas kembali kejadian yang sebelumnya, terkait dengan keberhasilan yang sudah dicapai.

“Pa, adik hebat loh. Kemarin nilai ulangannya dapat 100,” ucap ibu kepada sang ayah di meja makan, untuk memuji anaknya. Kalimat seperti ini sangat dibutuhkan anak, untuk mendukung kemajuannya.

Lantas bagaimana dengan hadiah? Memperbolehkan anak memesan menu makanan kesukaannya, tentu merupakan sebuah hadiah bagi anak. Ini adalah bentuk apresiasi orang tua kepada anak. Jika anak diperbolehkan memesan makanan kesukaan, sejatinya baterai kasih sayang anak akan langsung terisi. Anak akan merasa bahwa orang tua sangat mengerti dan menghargai keberadaan dirinya.

Begitu pula saat makan bersama komunitas, bisa memakan menu kesukaan sudah termasuk hadiah untuk diri sendiri. Tentunya itu akan membawa kebahagiaan dan perasaan nyaman yang sangat menyenangkan.

Bahasa cinta ketiga adalah waktu berkualitas. Sudah barang tentu, saat makan bersama merupakan waktu berkualitas. Semua orang benar-benar melepas rutinitas dan fokus pada momen kebersamaan tersebut. Bagi orang tua yang sibuk bekerja, makan bersama ini akan sangat dinanti-nantikan anak-anak. Inilah saat bisa berkumpul bersama kedua orang tua, sekaligus menjadi sarana menyampaikan apa pun perasaan yang ingin disampaikan.

Setali tiga uang ketika bisa berkumpul dengan teman dan keluarga. Ini  merupakan waktu berharga di mana masing-masing bisa berkumpul, setelah cukup lama sibuk dengan rutinitas harian.

Berikutnya sentuhan. Sentuhan kasih sayang sebisa mungkin perlu dilakukan saat di meja makan. Kedua orang tua misalnya, sesekali perlu mengusap kepala sang anak sebagai tanda kasih sayang, sekaligus mengisi bateri cinta anak. Sentuhan baik di kepala, maupun pundak, sangat diperlukan agar anak selalu merasa nyaman dan bahagia.

Tak berbeda ketika bertemu teman dan sahabat lama, sesekali tentu ada sentuhan fisik. Dari mulai sekadar bersalaman maupun cipika-cipiki dilakukan oleh mereka yang sesama perempuan. Sentuhan seperti ini, sebagai cara mengisi baterai kasih yang efektif.

Terakhir, bahasa cinta yang dimaksud Gary Chapman adalah pelayanan. Memberikan layanan misalnya sekadar mengambilkan makanan kepada anak-anak, bahkan sekadar memberi sendok, atau mengusap mulut anak yang belepotan dengan makanan, adalah bentuk pelayanan kepada anak. Pelayanan seperti ini akan membuat anak merasa sangat berharga dan begitu dicintai kedua orang tuanya. Dengan demikian, anak akan tumbuh dan berkembang dengan perasaan kasih sayang yang maksimal.

Begitu pula jika makan bersama keluarga, teman atau sahabat. Sekadar mengambilkan makanan, memesankan makanan, termasuk menuliskan daftar menu yang akan dipesan, adalah contoh kecil pelayanan yang sangat penting dalam proses interaksi di meja makan tersebut.

Sekali lagi, semua bahasa cinta di atas perlu dilakukan dengan tatapan mata yang tulus. Karena itu, saat di meja makan, ada yang benar-benar ‘haram’ dilakukan. Apa itu? Memegang handphone. Perlu aturan ketat dan khusus terkait yang satu ini. Sebab, jika  masing-masing orang sibuk dengan handphone di tangan, maka lima bahasa cinta plus tatapan mata tadi mustahil bisa dilakukan. Kalau sudah seperti ini, alih-alih makan bersama untuk mempererat kebersamaan, malah semakin menjauhkan. Kenapa? Secara fisik memang berkumpul, tapi pikiran setiap individu masing-masing sedang mengembara ke tempat lain.  

Sebaiknya simpan handphone rapat-rapat di tas, atau di kantong. Mohon izin kepada anggota yang ada di meja makan, hanya akan mengangkat handphone jika ada panggilan. Namun jika bentuknya berupa pesan, chatting, atau sekadar membuat dan membaca status di media sosial, abaikan saja. Nikmati momen makan bersama itu sebagai sesuatu yang amat berharga.

Coba perhatikan, berapa banyak keluarga yang tidak bisa lagi makan bersama hanya karena Sang Maha Pencipta sudah tidak lagi memperpanjang kontrak hidupnya di dunia ini. Perhatikan di rumah sakit, begitu banyak mereka yang tidak mampu lagi berkumpul dengan nyaman bersama keluarga tercinta, hanya karena tangannya tertancap jarum infus.

Tidak berlebihan jika untuk sementara waktu, abaikan sejenak gadget Anda, dan nikmati makan bersama yang ada. Sadari bahwa kebahagiaan sesungguhnya ada di setiap detik momen kebersamaan tersebut. Rasakan bahwa di setiap suap makanan yang ada di mulut Anda, ada perasaan nyaman yang terus meningkat dan meningkat.

Demikianlah kenyataannya. (*)



Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...