Saturday, May 21, 2016

Apakah Semua Hipnoterapis Sama?


Banyak pertanyaan masuk melalui akun media sosial saya terutama terkait hipnoterapi. Di antaranya, apakah semua hipnoterapis sama? Apakah yang saya lakukan juga dilakukan hipnoterapis lain? Kenapa profesional fee yang saya bebankan ke klien lebih murah? Uraian di bawah ini semoga bisa memberikan penjelasan.

Apakah semua hipnoterapis sama? Jika hipnoterapis yang dimaksud adalah lulusan Adi W. Gunawan Institute (AWGI) dan aktif melakukan praktik hipnoterapi, serta tidak dicampur dengan metode lain, maka bisa dipastikan apa yang dilakukan memiliki standar protokol sama dengan yang saya lakukan. 


Atas alasan itulah, saya tidak berhak menilai apa yang dilakukan hipnoterapis yang bukan lulusan AWGI, karena saya tidak mengetahui protokol yang digunakan. Sebagai gambaran, AWGI memiliki standar yang cukup ketat serta sangat terbukti dan teruji dalam menangani  berbagai masalah berkaitan dengan emosi pikiran. Kode etik yang diterapkan pun sangat ketat sehingga para alumnus AWGI memegang teguh ketentuan tersebut. Jika terbukti melakukan malapraktik, tentu akan ada konsekuensi tegas, sampai dengan dikeluarkan dari lembaga.

Namun demikian, dari pengalaman di ruang praktik, beberapa klien yang sebelumnya menjalani terapi dengan hipnoterapis di luar lulusan AWGI, mengakui prosedur dan protokolnya memang tidak sama. Di antara perbedaan itu adalah, klien belum mendapatkan penjelasan lengkap dan rinci atas proses yang akan berlangsung, sebelum sesi hipnoterapi dijalankan.

Ini jelas berbeda dengan ketentuan AWGI. Sebelum proses hipnoterapi berlangsung, klien benar-benar diberikan pemahaman yang jelas dan rinci atas proses terapi yang akan berjalan Lantas, bagaimana jika setelah dijelaskan kemudian klien enggan melakukan terapi? Ya tentu proses hipnoterapi tidak akan dilakukan, karena terapi baru bisa dijalankan jika klien setuju dan bersedia menjalani semua alur yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Kalau memang seperti itu alurnya, lalu untuk apa pakai terapis? Bukankah yang menyembuhkan klien ya diri klien itu sendiri? Ya, hal ini memang sangat tepat. Proses hipnoterapi, sejatinya klien sedang mengatasi masalahnya sendiri. Yang menentukan kesembuhan atas apa yang dirasakan dan dialami, adalah klien sendiri. Keberadaan hipnoterapis hanya membantu dan membimbing pikiran bawah sadar untuk melakukan semua proses itu sampai tuntas dan benar-benar klir.

Ibarat mengikuti balap mobil, hipnoterapis hanya sebagai navigator, memegang peta atau rute yang akan dilalui. Sementara stir, pedal gas dan rem, semua ditentukan klien. Jika klien mengikuti semua arahan dan bimbingan, maka mobil bisa mencapai tujuan. Begitu sebaliknya, jika klien setop di tengah jalan, maka mobil juga langsung berhenti.

Lantas, bagaimana memilih hipnoterapis yang tepat. Anda boleh menghubungi lembaga AWGI melalui website www.adiwgunawan.com. Ada nomor kontak ke lembaga, dan dengan senang hati staf AWGI akan mengarahkan kepada terapis terdekat dengan klien. Lembaga hanya akan merekomendasikan hipnoterapis yang tetap memegang teguh ketentuan dan protokol sesuai standar yang sudah ditetapkan.   

Lalu kenapa profesional fee yang dibebankan ke klien lebih murah ketimbang hipnoterapis di luar AWGI? Lembaga tempat saya bernaung, mengatur sangat detail termasuk urusan profesional fee. Ada standar yang sudah dibuat, dan umumnya profesional fee yang dibebankan para hipnoterapis AWGI ke klien juga mengikuti aturan itu.

Untuk para lulusan AWGI, maksimal profesional fee yang ditetapkan adalah Rp 1,5 juta untuk satu kali sesi terapi selama 2 jam. Namun ini hanya boleh diterapkan para hipnoterapis dengan kualifikasi yang sudah lulus pendidikan 200 jam Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy (SECH) dengan gelar nonakademik Certified Clinical Hypnotherapy (CCH). Sementara untuk lulusan 100 jam SECH dengan gelar nonakademik Certified Hypnotherapist (C.Ht.), profesional fee yang boleh ditetapkan pada klien adalah Rp 500 ribu hingga maksimal Rp 1 juta untuk satu sesi terapi durasi 2 jam. Beberapa klien menyampaikan ke saya, fee yang dibayarkan ini cukup terjangkau, karena pernah dikenakan fee jauh lebih tinggi dari angka tersebut.

Lantas, kenapa soal profesional fee ini juga harus saya sampaikan? Begini. Untuk bisa membantu klien mengatasi masalahnya, maka ada empat hal yang harus ‘diberikan’ oleh klien. Masing-masing waktu, upaya, perasaan, dan materi. Materi alias profesional fee itu juga menentukan selesai tidaknya klien atas masalahnya sendiri. Dengan mau menyisihkan fee untuk terapis, maka sejatinya klien benar-benar ingin lepas dari masalah yang sedang dihadapi.

Demikianlah kenyataannya.  



Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...