BREAKING NEWS

Wednesday, May 25, 2016

Masih Perawan Setelah Dua Bulan Menikah, Ternyata Ini Penyebabnya


Tiga bulan lalu, pasangan suami istri datang untuk konsultasi. Tapi kali ini saya merasa ada yang ‘ganjil’. Biasanya, saat sesi penjelasan kepada pasangan suami istri, umumnya aktif bertanya dan meminta penjelasan detail terkait proses yang akan dilakukan. Pasangan yang datang kali ini, lebih banyak diam dan lebih banyak menggunakan bahasa isyarat di antara keduanya. Saling berpandangan dengan pasangannya namun tak menyampaikan apa pun.

“Ada yang ingin ditanyakan?” tanya saya mencoba memecah suasana. Namun pasangan ini hanya menggeleng dan membiarkan saya meneruskan penjelasan 
hingga tuntas.


Usai saya berikan penjelasan, pasangan ini pun meminta waktu berdua untuk berdiskusi kembali, apakah benar-benar ingin menjalani sesi hipnoterapi atau tidak. Hingga akhirnya, pasangan ini kembali memanggil saya dan siap menjalani sesi hipnoterapi.

“Istri saya sudah siap pak,” ujar sang suami. Ternyata, hanya istrinya saja yang ingin diterapi. Lalu, masalahnya apa? “Bolehkah saya sampaikan di ruang terapi saja pak biar nyaman,” jawab sang istri. Termasuk untuk proses pengisian formulir, dia meminta diulang kembali karena formulir yang sebelumnya saya minta isi saat baru datang, belum ditulis secara spesifik masalah apa yang ingin diatasi.

“Maaf pak, kami memang sempat ragu, apakah metode ini bisa mengatasi masalah kami. Sekarang kami yakin, istri saya membutuhkan bantuan,” sambung sang suami.

Klien wanita ini kemudian saya persilakan untuk masuk ruangan terapi dan duduk di kursi terapi. Klien juga saya beri waktu untuk mengisi formulir kembali dengan lebih jelas dan detail. Sementara itu saya lebih banyak berbicara dan diskusi tentang masalah lain dengan suaminya di ruang tamu. Setelah mengisi formulir, klien wanita ini pun memberi tahu saya, sehingga saya kembali ke ruang terapi dan mencoba mencari tahu, masalah apa yang ingin diatasi.

Ternyata, dari formulir yang diisi, wanita ini mengalami vaginismus. “Takut dan cemas setiap akan melakukan hubungan suami-istri,” demikian tulisan yang tercantum di formulir tersebut. Akibatnya apa? Wanita yang ternyata pengantin baru ini, masih virgin alias perawan, meski sudah dua bulan menjalani pernikahan.

“Saya merasa kasihan dengan suami saya, untungnya dia sabar dan terus menenangkan saya. Sampai akhirnya kami memutuskan meminta bantuan bapak,” sebut wanita ini.

Dari data di formulir terungkap, emosi cemas dan takut berada di angka maksimal. Selain itu, reaksi fisik yang muncul setiap kali akan menunaikan kewajiban sebagai istri adalah, perut sakit melilit dan migrain.

Yang sangat mendukung adalah, keinginan wanita ini untuk mengatasi masalahnya, sangat tinggi. Hanya perlu waktu 5 menit untuk membawa klien ini masuk ke kondisi pikiran bawah sadar yang presisi untuk terapi. Begitu masuk ruang terapi, klien memang sudah sangat pasrah dan ikhlas, sehingga cukup mudah dibimbing untuk berada di kedalaman profound somnambulism.    

Proses hipnoanalisis pun dilakukan untuk mencari akar masalah. Dari proses ini diketahui ada perasaan tidak nyaman setiap kali membaca atau melihat berita tentang pemerkosaan atau pencabulan. Namun hal tersebut ternyata hanya dampak lanjutan. Pikiran bawah sadar klien kembali dibimbing untuk menemukan akar masalah takut dan cemas berlebihan tersebut. Klien akhirnya mendarat di usia 8 tahun, ketika kakak sepupunya mencoba memperkosa dirinya.

Ketika itu, klien sedang di rumah kerabatnya karena sedang ada acara keluarga. Suasana di rumah itu sedang ramai. Klien yang masih berusia SD ini diajak bermain oleh sepupunya laki-laki yang sudah SMA untuk bermain di lantai atas. Ternyata, klien diajak menonton video porno, dan saat itulah percobaan pencabulan dilakukan. Beruntung, klien berontak dan kabur.

Namun, sejak saat itu klien memang pemurung dan penyendiri, namun tidak berani menyampaikan kejadian tersebut kepada siapa pun, sampai akhirnya dia menikah. Selama sekolah sampai kuliah dan bekerja, klien pun tidak pernah berpacaran, karena trauma dengan laki-laki. Dia akhirnya berani menikah, setelah pamannya yang seorang ustaz, memberikan jaminan bahwa pria yang akan menikahi dirinya, sangat baik dan taat beragama. Pria itu juga tidak pernah berpacaran.

Hanya perlu waktu tiga bulan untuk saling taaruf, mengenal secara singkat, pernikahan pun digelar dengan sederhana. Namun, wanita 23 tahun ini ternyata sangat cemas ketika mencoba menunaikan kewajibannya. “Suami saya sebenarnya tetap sabar, tapi ya saya yang merasa tidak nyaman,” ucapnya sebelum proses terapi dilakukan.

Kembali ke proses terapi, klien akhirnya dibimbing untuk mengatasi trauma atas percobaan pemerkosaan yang dialami ketika masih berusia 8 tahun itu. Dengan teknik khusus untuk mengatasi trauma, klien akhirnya berhasil merasa lega dan plong. Masih di kedalaman pikiran bawah sadar, klien juga saya beri waktu untuk mencoba kembali menunaikan kewajibannya sebagai istri.

Klien akhirnya mengaku merasa lebih nyaman dan yakin bisa melakukannya. Proses ini saya lakukan beberapa kali, namun tetap merasa nyaman dan merasa tidak ada masalah. Proses restrukturisasi dan konfirmasi tuntas, klien akhirnya dibimbing kembali untuk keluar dari kondisi relaksasi tersebut.

Begitu klien buka mata, dia terlihat semringah dengan senyum mengembang. “Jadi malu,” ucapnya. “Tidak apa-apa, semua demi kebaikan mbak dan suami kan?” ucap saya seraya mempersilakan dia menemui suaminya di luar ruang terapi.

Dengan senyum mengembang, segera dia hampiri suaminya dan memeluknya dengan mesra. Saya tentu tidak ingin mengganggu momen tersebut, sehingga keduanya saya beri waktu agar si istri menyampaikan perasaan yang sudah dirasakan.

Begitu saya kembali di ruang tamu, kali ini tak hanya istrinya yang senyum, suaminya juga ikut tersenyum bahagia. “Terima kasih banyak pak,” ucap suaminya.

Tiga bulan berlalu, saya pun sudah lupa dengan pasangan ini. Hingga akhirnya tadi siang, saat menghadiri undangan di Kantor Gubernur Kaltim, saya menerima pesan singkat. “Alhamdulillah pak, istri saya positif. Terima kasih ya pak atas bantuannya,” sebut pesan singkat ini. Saya masih sedikit bingung menerima pesan ini. “Positif apa?” tanya saya dalam hati. Namun, saya hanya membalas singkat, “sama-sama, semoga bermanfaat.”

Hingga ketika sampai rumah, saya kembali ke ruang terapi, saya cek kembali satu demi satu nomor pesan yang masuk tadi dengan daftar klien yang sudah pernah terapi. Barulah saya paham, positif yang dimaksud adalah hamil. Saya pun langsung ingat dengan klien yang sebelumnya mengalami vaginismus ini.

Maka saya kembali mengirimkan pesan pendek, “selamat ya pak, semoga kandungan istrinya selalu sehat dan proses kehamilannya lancar sampai dengan persalinannya nanti.” Tak lupa, saya merekomendasikan untuk membaca buku karya rekan sejawat saya, The Conny Method. Buku karya pasangan suami istri Conny Widya dan Agus Wirajaya ini berisi panduan agar sang ibu bisa menjalani kehamilan hingga proses persalinan dengan tenang dan nyaman.

Sekali lagi selamat buat pasangan ini. Terima kasih juga sudah mengizinkan berbagi kisah ini, sebagai bahan pembelajaran untuk orang lain.


Demikianlah kenyataannya.   

Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes