BREAKING NEWS

Wednesday, May 11, 2016

Trauma Gara-gara Ada Apa dengan Cinta

Film legendaris Ada Apa dengan Cinta (AADC) harus diakui menjadi tonggak bangkitnya perfilman Indonesia di masa lampau. Sejak munculnya film ini, berturut-turut banyak lagi film lain yang muncul meramaikan jagad layar lebar di Tanah Air. Medio Maret 2016, lanjutan film ini kembali muncul. 

Ya, Ada Apa dengan Cinta 2 ini merebut pemirsanya kembali setelah 14 tahun. Saya tentu tidak akan lebih jauh mengomentari film ini. Namun siapa sangka jika film ini bisa menjadi akar masalah bagi mereka yang pernah mengalami trauma. 


Seorang wanita berusia 31 tahun, beberapa hari lalu mengeluh sakit kepala sebelah. Rasanya sangat nyeri dan membuatnya sulit tidur saat malam hari.

"Saya sudah dua kali ke dokter, bahkan sempat periksa CT scan. Ternyata ngga ada apa-apa di kepala saya. Tapi kalau sudah kambuh, kepala bagian belakang sakit banget," ucapnya saat konsultasi awal sebelum masuk sesi hipnoterapi.

Sejak awal sesi konsultasi, pikiran bawah sadarnya sudah lebih aktif. Maka, saya tinggal membimbingnya untuk masuk lebih dalam lagi sampai kedalaman yang presisi untuk melakukan terapi.

Setelah dalam kondisi profound somnambulism, kedalaman yang paling pas untuk terapi, proses hipnoanalisis dijalankan. Ternyata ada beberapa penyebab hingga sakit kepala ini muncul.

Sakit kepala ini terakhir muncul setelah ramai diberitakan di berbagai media, baik sosial, elektronik maupun media cetak dan  televisi, bahwa film Ada Apa dengan Cinta 2 yang dibintangi Dian Sastro dan Nicolas Saputra ini segera dirilis.

Dengan teknik khusus, klien ini saya bimbing untuk menyusuri lorong waktu di masa lampau, saat sakit kepala ini pertama kali muncul. Ternyata, ada kejadian empat belas tahun lalu saat nonton film Ada Apa dengan Cinta di Bioskop Parahyangan Samarinda, yang kini sudah berganti menjadi Plaza Mulia.

Ketika itu, sore selepas pulang sekolah, klien diajak teman sekelasnya, cowok untuk nonton AADC. Janjinya menonton ramai-ramai, dan si cowok ini yang mentraktir. Hingga film dimulai, ternyata tidak ada teman lain. Dia hanya nonton berdua di bangku paling pojok kanan, deretan paling belakang.

Selama pertunjukan berlangsung, klien mengaku tidak tahu jalan ceritanya, sebab dia hanya sibuk menepis tangan teman sekelasnya yang 'nakal', mencoba menggerayangi tubuhnya. Hingga akhirnya dia sempat dipaksa untuk ciuman.

Klien ini selamat setelah beralasan hendak ke toilet, padahal akhirnya kabur dari bioskop dengan naik angkutan umum.

Sejak itu, klien mengaku trauma. Bahkan ketika AADC diputar di layar kaca, klien mengaku tak pernah menontonnya. Sebab, begitu melihat potongan tayangan film ini, yang diingat adalah dia menjadi korban pelecehan seksual.

Dengan metode yang tepat dan efektif, trauma atas film ini pun berhasil diatasi. Klien mengaku lega dan plong. Sakit kepala yang mengganggu selama proses terapi pun seketika lenyap.

Hingga malam minggu tadi, klien berkirim pesan, baru pulang dari salah satu mal di Samarinda untuk menonton AADC 2. Hasilnya klir, klien pun tetap merasa nyaman dan menyampaikan sedang mencari file AADC pertama untuk ditonton ulang. 

"Selama ini, jalan cerita AADC pertama, tahunya hanya diceritakan teman. Nanti mau nonton sendiri lagi," imbuhnya. (*)    

Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes