BREAKING NEWS

Monday, June 13, 2016

Anjing Kelaparan dan Baginda Raja


Alkisah, di sebuah kerajaan, Sang Raja sedang bersiap untuk pergi berburu. Seperti biasa, semua perbekalan disiapkan oleh seluruh pasukan. Dari mulai bekal makanan, sampai peralatan hingga untuk keperluan beristirahat lainnya. Pendek kata, dari urusan A sampai Z, semua sudah disiapkan.

Tiba saatnya, perburuan mulai dilakukan di sebuah belantara yang selama ini belum pernah dijamah pasukan kerajaan. Dengan penuh hati-hati, proses berburu berlangsung. Pasukan pendahulu ada di bagian terdepan, Baginda Raja di bagian tengah, diiringi para pengawal dan tak lupa seorang penasihat kerajaan.


Perjalanan rombongan terhenti. Tiba-tiba dari kejauhan terlintas hewan buruan seekor rusa yang cukup besar. Segera Sang Raja mengambil anak panah, membidiknya dengan tepat. Rusa ini langsung tumbang, namun masih berusaha meronta. Sang Raja sigap menuju lokasi tumbangnya rusa. Dengan senjata tajam terhunus, Raja ingin menuntaskan perjuangannya. Ketika senjata tajam itu hendak mengarah ke leher si rusa, tiba-tiba energi sang rusa memuncak dan berontak. Hentakan kaki rusa itu mengenai senjata tajam yang sedang dipegang Sang Raja. Akibatnya, salah satu jari Sang Raja putus terkena senjata tajamnya sendiri.

Melihat kejadian ini, Sang Penasihat kerajaan mencoba menenangkan Raja yang terlanjur marah. “Sabar tuan raja. Harap tenang. Lagi pula, hanya satu jari yang putus, beruntung tidak semuanya,” kata Penasihat kerajaan ini mencoba bijak.

Namun apa lacur, perkataan Sang Penasihat ini justru membuat Sang Raja semakin meradang. Raja sangat tersinggung dengan ucapan penasihatnya ini. Meski Si Penasihat meminta maaf dan berusaha menarik kembali kata-katanya, tetap tidak bisa. Raja tetap tak bisa menahan amarah, dan bersiap menjatuhkan hukuman pada Penasihat Kerajaan yang sudah mengabdi puluhan tahun itu.

Akibat kejadian tersebut, perburuan dihentikan dan pasukan kembali ke kerajaan. Para tabib yang ikut serta dalam rombongan sudah sempat memberikan pengobatan awal pada Raja, dan harus dilanjutkan sesampainya di kerajaan.

Dalam kondisi masih kesakitan, Raja menggelar rapat dengan para petinggi istana. Keputusan sudah bulat, Penasihat akan dihukum yakni dimasukkan ke ruang bawah tanah yang banyak berisi anjing liar kelaparan.

Meski Sang Penasihat mencoba memohon keringanan hukuman, namun vonis sudah terlanjur dijatuhkan. Palu keputusan sudah diketok. Walau demikian, sebelum dimasukkan ke ruang bawah tanah, Sang Penasihat kembali memohon pengunduran eksekusi.

“Hamba memohon waktu 7 hari saja, sebelum menjalani hukuman itu,” pinta Sang Penasihat. Kali ini, Sang Raja menerima usulan itu. Raja tentu tahu, Sang Penasihat perlu waktu untuk berkumpul bersama keluarganya untuk terakhir kalinya.     

Lepas dari perkiraan, ternyata waktu selama 7 hari itu bukan dimanfaatkan untuk keluarganya. Sang Penasihat justru setiap hari berkunjung ke ruang bawah tanah, membawakan makanan untuk para anjing liar yang kelaparan itu. Hari pertama, jelas anjing itu sangat liar. Hari kedua dan seterusnya, anjing kelaparan itu mulai bisa dikendalikan. Hingga hari keenam, semua anjing liar itu berhasil dijinakkan dan dikendalikan oleh Penasihat Kerajaan. Tepat di hari ketujuh, barulah Penasihat Kerajaan ini pulang dan meminta kerelaan keluarganya agar dia menjalani hukuman dengan tenang.

“Saya sudah siap baginda Raja,” sebut Penasihat ini menghadap Sang Raja. Raja pun segera membawa Si Penasihat ini ke penjara bawah tanah. Begitu Si Penasihat masuk ruangan bawah tanah tersebut, para anjing liar itu langsung mengerubuti, menjilati dan terlihat sangat akrab. Penasihat ini tampak kewalahan menerima sambutan hangat dari para anjing itu.

Sontak pemandangan itu membuat Sang Raja kaget bukan kepalang. “Wahai Penasihat, apa yang sebenarnya terjadi dengan ajing-anjing ini? Kenapa mereka semua begitu jinak?”

“Mohon ampun Baginda Raja. Anjing ini selama enam hari saya urus, dan selalu saya beri makan. Baginda Raja bisa melihat sendiri. Anjing saja yang diurusi selama enam hari, tahu caranya berterima kasih dan tahu membalas budi. Sementara saya, sudah puluhan tahun mengabdi dengan baginda. Tapi hanya karena satu kesalahan saja, sudah membuat raja murka,” jawab Sang Penasihat.

Penjelasan itu membuat Sang Raja sadar, dan segera menganulir keputusan tersebut. Sang Penasihat pun batal menjalani hukuman yang sudah dijatuhkan.

Pembaca yang budiman, mari mengambil hikmah dari kisah tersebut. Sering kali sebagai manusia, enggan memaafkan kesalahan yang dilakukan orang terdekat. Padahal sosok itulah yang selama ini menyayangi dan mencintai diri Anda. Termasuk siapa saja yang selama ini mendukung dan membantu semua aktivitas dan pekerjaan Anda. Haruskan semua kebenarannya langsung sirna, digantikan setitik kesalahan yang diperbuat orang terdekat Anda itu?


Kata maaf dan memaafkan tidak akan membuat harga diri Anda jatuh. Sebaliknya, membuat diri Anda menjadi pribadi yang semakin berharga dan bijaksana. 

Bagaimana menurut Anda? (*)   

Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes