BREAKING NEWS

Thursday, June 23, 2016

Lebaran, Energi Maha Dahsyat Pikiran Bawah Sadar


Bagi sebagian besar warga Indonesia, mudik adalah sesuatu yang istimewa. Momen Lebaran selalu menjadi saat yang spesial untuk kembali ke kampung halaman, tanah kelahiran, atau berkunjung ke tempat yang memiliki makna tersendiri.

Coba perhatikan saat Lebaran, orang tidak lagi menghitung nilai rupiah. Berapa pun mahalnya tiket pesawat, tetap dibeli. Antre tiket kereta api sejak jauh-jauh hari, tetap dilakukan. Berdesak-desakan di kapal laut, tidak dipersoalkan. Termasuk naik motor menempuh ratusan kilometer dengan banyak barang bawaan pun tetap dijalankan. Kenapa? Karena ada energi yang maha dahsyat, yaitu energi untuk bertemu dengan sanak keluarga yang mungkin di hari-hari biasa, semua tersebar mencari penghidupan masing-masing di berbagai tempat.


Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa pulang ke kampung halaman saat Lebaran adalah sebuah ‘kewajiban’. Jika ini ditanamkan ke pikiran bawah sadar, maka program inilah yang akan berjalan terus-menerus. Segala daya dan upaya pasti akan dilakukan agar bisa mudik. Disadari atau tidak, inilah penyemangat bagi setiap orang untuk bekerja dengan baik dan maksimal. Jika program mudik sudah diterima dan dijalankan pikiran bawah sadar, maka energi dari dalam diri ini akan menarik semua rezeki untuk menutupi semua kebutuhan saat Lebaran.

Maka silakan perhatikan mereka yang merantau, baik mereka yang bekerja kantoran maupun bekerja di sektor informal, setiap menjelang Lebaran pikiran dan perasaannya sebenarnya sudah sampai kampung halaman. Fisiknya memang masih di tempat kerja, namun pikiran dan perasaannya sudah sampai di tanah kelahiran. Hal inilah yang kemudian mampu menarik rezeki dan kemudahan-kemudahan untuk mewujudkannya.

Pikiran bawah sadar selalu sampai lebih dulu ke tempat tujuan, sementara tubuh atau fisik perlu waktu untuk mengikutinya. Namun, pastikan apakah ketika pikiran dan perasaan sudah sampai tujuan tersebut, seluruh tubuh Anda merasa nyaman? Kalau nyaman, berarti impian Anda dengan mudah bisa diwujudkan. Tapi bagaimana bila merasa tidak nyaman? Maka Anda bisa cek, apa penyebab perasaan tidak nyaman itu?

Jika misalnya rasa tidak nyaman itu disebabkan oleh “dana yang kurang,” maka tanyakan dalam diri Anda, bagaimana cara mengatasinya? Apa yang harus dilakukan? Semua jawaban atas pertanyaan ini sebenarnya sudah ada di dalam diri Anda. Namun jawaban yang muncul terkadang Anda abaikan sendiri.  

Bagaimana jika muncul perasaan tidak nyaman namun dipaksakan tetap mudik? Inilah mereka yang berusaha memaksakan diri berlebaran dengan berbagai cara. Bahkan bila perlu utang atau pinjam kesana kemari. Akibatnya, saat mudik pun sejatinya sudah dengan perasaan tidak nyaman, ada perasaan bersalah atau membohongi diri sendiri. Apalagi kalau punya prinsip, ‘biar tekor asal kesohor’, maka sebenarnya orang seperti ini sedang menggali lubang untuk diri sendiri. Apa enaknya Lebaran dengan dana hasil utang? Bukankah tidak ada satu pun dalil yang mewajibkan seseorang mudik saat Lebaran?  

Sekali lagi, meski Anda memiliki energi yang sangat besar untuk mudik, tapi salah satu tolok ukur yang pas adalah pikiran dan perasaan Anda. Pastikan semua nyaman. Jika ada yang tidak nyaman, pastikan bisa diantisipasi atau tidak. Segala kemungkinan juga tetap harus diperhitungkan dengan matang. Jangan sampai niat mudik mendapat kebahagiaan, yang terjadi malah sebaliknya.

Saya sejak dulu tidak pernah menanamkan program harus mudik saat Lebaran. Program yang saya tanamkan adalah, berlebaran di mana saja, tetap menyenangkan dan membahagiakan. Faktanya, untuk bertemu orang tua dan keluarga, tidak harus saat Lebaran. Kapan pun bisa dilakukan, dan rasanya jauh lebih nyaman. Bagaimana menurut Anda? (*)




Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes