Sunday, June 26, 2016

Tesis Terhambat dan Terancam DO, Ternyata Ini Penyebabnya



Minggu lalu, seorang wanita usia 40 tahun, mahasiswi program pascasarjana di salah satu perguruan tinggi di Kaltim ini menghubungi saya melalui media sosial.

“Pak Endro, saya mahasiswa S2 suatu perguruan tinggi di Kaltim. Saya sudah menerima peringatan DO (drop out) jika dalam enam bulan ke depan tidak menyelesaikan tesis saya. Secara akademik, ngga ada masalah. IPK (indeks prestasi komulatif) saya tinggi. Tapi saya merasa tidak mampu duduk diam dan menulis tesis. Saya punya ribuan alasan untuk tidak melakukannya. Entah kenapa, selalu saja ada hal lain yang mengalihkan perhatian saya dan akhirnya sama sekali tak menyentuh tesis saya,” bebernya melalui WhatsApp.


“Ini sebenarnya bukan kejadian pertama. Dulu waktu saya menempuh pendidikan S1 juga hampir DO karena masalah yang sama,” sambungnya lagi.

Klien ini kemudian menjelaskan, dirinya termasuk pribadi yang disiplin dan pekerja keras, namun anehnya untuk duduk tenang dan mengerjakan tesis, sangatlah sulit.

“Saya sebenarnya agak ragu mau menjalani sesi hipnoterapi ini. Tapi saya ingin menyelesaikan tesis saya. Saya merasa ada yang salah dengan diri saya, tapi saya sendiri tidak tahu apa masalahnya,” ujarnya kemudian.

Ibu ini menyampaikan, sempat beberapa lama berselancar di internet untuk mencari solusi atas masalahnya, hingga akhirnya mendarat di laman saya www.endrosefendi.com dan memberanikan diri untuk menjalani sesi hipnoterapi.

Beruntung, setelah menghubungi saya, ada calon klien yang membatalkan janjinya karena ada keperluan lain. Jadwal ini pula yang saya tawarkan kepada ibu ini, dan langsung bersedia. “Lebih cepat lebih baik,” ujarnya.

Keesokan harinya, sesuai janji yang sudah disepakati, klien ini tiba di kediaman saya dengan membawa serta formulir yang sudah diisi. Formulir terapi ini memang sudah saya kirim sebelumnya melalui surat elektronik, sehingga klien bisa lebih leluasa mengisi di rumah.

Sesuai protokol Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology (AWGI), lembaga tempat saya bernaung, saya memberikan penjelasan terlebih dahulu kepada klien ini mengenai proses hipnoterapi. Dari mulai apa saja syarat untuk menjalani sesi terapi, arahan dan bimbingan yang harus dijalani klien, hingga teori tungku mental serta teori tentang kedalaman pikiran bawah sadar. Penjelasan lain yang tak kalah pentingnya adalah tentang hipnoterapi itu sendiri. Hal lain adalah, klien berkomitmen mau menjalani empat kali sesi terapi, jika diperlukan. Namun jika sesi pertama langsung klir dan tuntas, maka sesi kedua hingga keempat, tentu tidak diperlukan lagi.

Setelah mendapat penjelasan, klien pun merasa yakin dan siap menjalani sesi terapi. Di ruang terapi, proses penggalian informasi awal pun dilakukan sesuai dengan masalah yang ingin diatasi, yakni tidak fokus saat mengerjakan tesis. Dari formulir yang sudah diisi, beberapa data penting adalah soal emosi yang cukup tinggi yakni marah, kecewa, terluka, dendam, sakit hati, tersinggung, benci, dan frustasi. Semua emosi ini skalanya maksimal. Klien mengaku sangat stres dengan kondisi dikejar deadline harus menyelesaikan tesisnya. Sensasi fisik pun dirasakan klien akibat masalah ini, yakni leher belakang kaku dan kram atau kaku pada tangan dan persendian.  

Setelah informasi yang disampaikan dirasakan cukup, klien pun dibimbing untuk masuk ke kondisi relaksasi yang dalam dan menyenangkan. Tidak ada hambatan saat proses relaksasi ini. Dengan mudah klien selanjutnya dibimbing memasuki kedalaman pikiran bawah sadar yang presisi untuk proses terapi.

Begitu masuk pada kondisi kedalaman yang tepat itulah, proses hipnoanalisis dilakukan. Ternyata, ada beberapa kejadian di masa lalu yang menyebabkan klien enggan mengerjakan tesisnya. Di antaranya ketika klien berusia 10 tahun, saat belajar matematikan bersama ibunya. Klien kena marah ibunya karena tidak bisa mengerjakan soal matematika. Penyebab lain adalah ayahnya tidak pernah memuji meski klien selalu bisa meraih prestasi yang cukup baik.

Namun, akar masalah yang paling utama adalah ketika klien berusia 7 tahun. Pagi hari itu sebelum sekolah, klien sedang mengerjakan PR ditemani ayahnya. Klien dimarahi oleh ayahnya karena tidak bisa menulis huruf hijaiyah dengan benar.



Sempat dilakukan konfirmasi ulang pada pikiran bawah sadar, untuk memastikan bahwa masalah itulah yang menjadi akar masalah yang dialami klien. Konfirmasi tuntas, dan ternyata kejadian di usia 7 tahun itulah penyebab awalnya.

Proses restrukturisasi pun dilakukan. Dengan bimbingan dan arahan yang diberikan, klien membuang semua emosi tersebut dengan nyaman hingga klien merasa lega dan plong. Proses pengujian hasil terapi dilakukan, klien pun merasa tetap lega dan nyaman. Kemudian klien dibimbing keluar dari kondisi relaksasi, dan tetap merasa nyaman dan tidak ada beban sama sekali.

Tadi, menjelang salat isya, klien coba dikonfirmasi kembali, dan menyampaikan bahwa kondisinya sangat nyaman dan saat ini sedang bersemangat mengerjakan tesisnya sesuai tenggat waktu yang diberikan.

Selamat mengerjakan tesisnya dengan mudah dan nyaman ya bu. Semoga hasilnya memuaskan dan bisa lulus dengan nilai maksimal. Terima kasih pula atas izin yang diberikan untuk membagikan kisah terapi ini, sebagai edukasi untuk masyarakat luas.

Demikianlah kenyataannya. (*)


Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...