BREAKING NEWS

Thursday, July 28, 2016

Utamakan Pola Asuh Kasih Sayang, Ponpes Al Mukhlis Dibekali Teknologi Pikiran


Endro (berdiri, tengah) bersama Ustaz Mamat (5 dari kanan) dan para pengasuh Pondok Pesantren Al Mukhlis.

BANDUNG - Di tengah derasnya pengaruh modernisasi, pondok pesantren dianggap sebagai salah satu solusi pendidikan yang mengutamakan akhlak dan keagamaan. Namun, benarkah sistem pendidikan yang ada di pesantren sudah benar-benar sesuai dengan perkembangan zaman? Kegelisahan inilah yang dirasakan pengasuh Pondok Pesantren Al Mukhlis di Kampung Panyaungan RT 1 RW 1 Desa Nagrak Kecamatan Cangkuang Kabupaten Bandung – Jawa Barat.

“Kami selalu mengajarkan kepada para santri agar meneladani Rasulullah. Semua harus dilandasi kasih sayang. Namun pada kenyataannya, terkadang ustaz dan pengasuh sesekali terpancing emosinya. Inginnya santri bisa disiplin, namun yang terjadi mungkin terlalu keras dalam mendidik,” sebut Ustaz KH Mamat Ruhimat Hidayatullah, pimpinan Ponpes Al Mukhlis saat berbincang santai di salah satu saung yang banyak tersebar di areal pondok ini.

Wednesday, July 27, 2016

'Sekolah Kuliner' ala Djongko. Jalankan Bisnis dengan Hati, Semua Karyawan Dianggap Anak Sendiri

Pak Yana Hendayana (kanan), berbagi kisah suksesnya dalam merintis usaha kulinernya.


Di sela padatnya kegiatan Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) di Bandung – Jawa Barat, saya mendapat undangan spesial dari sahabat saya Pak Yana Hendayana. Saya mengenal beliau ketika sama-sama mengikuti workshop Quantum Life Transformation di Tretes – Pasuruan – Jawa Timur, Desember 2014 silam. Sejak itu, saya sering berdiskusi dan berkomunikasi dengan beliau melalui media sosial.

Malam sebelumnya, saat akan beranjak ke Gedung Sate hendak menghadiri Welcome Dinner, undangan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, tiba-tiba beliau berkunjung ke hotel tempat saya menginap. Hanya sempat ngobrol sebentar, terpaksa saya harus mohon maaf meninggalkan beliau yang sudah jauh-jauh mendatangi saya.

Friday, July 22, 2016

“Mas, Anakku Suka Lihat Video Begituan”



Minggu siang, ketika sedang santai di sebuah pusat perbelanjaan, secara tidak sengaja saya bertemu dengan sahabat lama. Lazimnya seorang kawan yang lama tak jumpa, tentu banyak bercerita dari hal-hal yang sekadar bumbu pertemuan, hingga menukik ke persoalan yang lebih spesifik, yakni soal anak.

Sahabat wanita ini, memiliki tiga anak, semuanya laki-laki. Namun, di antara ketiga anaknya ini, dia menyampaikan, ada satu anak yang membuatnya was-was dan khawatir. Budi, tentu bukan nama sebenarnya, anaknya yang masih duduk di bangku kelas 2 sekolah menengah pertama (SMP) itu, diam-diam suka membuka situs dewasa melalui telepon pintar (smartphone) miliknya.

Bisnis Sering Gagal? Jangan-jangan Lupa Punya Utang


Bisnis dan utang, ternyata merupakan dua hal yang saling berkaitan. Faktanya, tak sedikit mereka yang punya utang, tapi kemudian lupa atau pura-pura lupa sehingga dianggap lenyap begitu saja. Pikiran sadar mungkin sudah melupakan utang itu. Belum tentu dengan pikiran bawah sadar. Karena hardisk alias pikiran bawah sadar diri Anda, menyimpan semua memori utang itu, dan bisa-bisa utang yang belum terbayar ini menjadi virus yang menghambat sistem kemajuan Anda.

Seperti klien saya, sebut saja namanya Anggrek. Wanita ini sudah sejak 11 tahun lalu mencoba merintis berbagai bisnis. Terakhir, dia datang ke tempat praktik sedang menekuni bisnis berjaringan. Kalkulasinya jelas. Berbagai usaha untuk meningkatkan omzet juga sudah dilakukan. Berbagai seminar juga sudah khatam. Namun, setiap kali bisnisnya mau berkembang, selalu saja datang masalah yang tiba-tiba menggerus omzet bisnisnya.

Tuesday, July 19, 2016

Takut Hamil dan Gagap Gara-gara Hari Pertama Masuk Sekolah

Foto: Berau Post 
Hari pertama masuk sekolah merupakan momen penting dalam tumbuh kembang anak. Transformasi dari anak rumahan menjadi anak sekolahan, memerlukan dukungan maksimal dari para orang tua. Jika tidak, dampak negatifnya bisa dirasakan sampai usia dewasa.

Tak semua anak bisa beradaptasi dengan mudah dengan lingkungan yang baru termasuk dengan orang asing. Maka, dukungan dari orang tua memang sangat diperlukan. Karena itu, upaya yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan meluncurkan Gerakan Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah, patut diapresiasi.

Bisnis di Masa Sulit? Ini Solusinya…


Semua bisnis, sedang berat. Ibarat tinju, pengusaha kini sedang terkena pukulan yang bikin bonyok. Namun, bisnis kali ini pukulannya lebih berat dibandingkan tinjunya Muhammad Ali atau Mike Tyson. Tak sedikit yang benar-benar melambaikan tangan ke kamera, mengibarkan bendera putih, dan lempar handuk. Pendek kata, dunia seolah gelap, kiamat benar-benar sudah di depan mata.

Separah itu kah kondisinya? Nyatanya memang demikian. Ironisnya, di tengah kondisi yang sulit bagi para pengusaha itu, masih ada saja buruh yang unjuk rasa menuntut tambahan ini dan itu. Padahal, dalam kondisi saat ini, bisa tetap bertahan saja sudah untung. Masih bisa bekerja saja harus bersyukur. Jangankan berharap tambahan gaji, untuk bisa mempertahankan karyawan saja ibarat mencari jarum dalam jerami.

Sunday, July 17, 2016

Benarkah Tingkat Kecerdasan Masyarakat Bisa Dilihat dari Kebersihan Sungainya?


Benarkah kebersihan sebuah sungai bisa menjadi indikator untuk menentukan kecerdasan masyarakat di suatu tempat? Ini tentu bisa menimbulkan pro dan kontra. Sangat mudah diperdebatkan. Namun pada kenyataannya, di negara maju yang tingkat kecerdasannya terbukti mumpuni, sungai yang mereka miliki terlihat cantik dan indah, bahkan menjadi objek wisata yang mendunia.

Tengok saja di Jepang, Inggris, Belanda, Turki, bahkan negara terdekat, Malaysia atau Singapura. Aliran air di tengah kota yang mereka miliki benar-benar nyaman dipandang mata. Sungai bersih yang kemudian menjadi objek wisata juga menjadi bukti bahwa sejatinya setiap manusia suka dengan kebersihan dan keindahan. Lantas, kenapa banyak sungai di Tanah Air yang tidak mudah dibersihkan?

Saturday, July 16, 2016

Mas Medok, Pendekar Jari Sakti


BAGI pengguna media sosial, tentu pernah melihat iklan dalam bentuk film pendek yakni Mas Medok, Pendekar Jari Sakti. Bagi saya, iklan milik situs jual beli online, BukaLapak itu sangat menarik dan benar-benar memahami konsep bagaimana menanamkan ide ke dalam pikiran, utamanya ke pikiran bawah sadar.

Awalnya, saya tidak terlalu memperhatikan video iklan yang kerap dibagikan beberapa rekan dan sahabat ini. Hingga suatu ketika, saat sedang memiliki waktu luang, saya mencoba membuka beberapa video yang dipasang di dinding facebook milik orang lain.

Ternyata, Ini Cara Paling Mudah Menjadi Bahagia



Masa terus berlalu. Dari detik berganti menit, menuju ke jam, membentuk hari, bulan, tahun, windu, dasa, dan seterusnya. Usia terus bertambah, otomatis bermakna jatah untuk hidup di bumi ini semakin berkurang. Lantas, apakah hari esok akan sama dengan hari ini?

Tentu, sahabat semua yang bisa menjawab sendiri. Apakah hari esok akan sama saja atau akan lebih baik dari hari ini. Satu hal yang perlu dikoreksi bahkan dihilangkan sama sekali adalah, berhenti mencari kesalahan orang lain. Ada baiknya, setiap hari dijadikan momen tepat untuk fokus pada pembenahan diri sendiri.

Monday, July 11, 2016

Anda Wanita Karir? Pahami Hal Ini


Anda memutuskan tetap berkarir meski sudah memiliki buah hati? Tidak masalah. Faktanya, begitu banyak wanita karir yang sukses dan tetap mampu mengurus keluarganya dengan baik dan harmonis. Namun ketika memutuskan menjadi wanita karir, harus siap dengan konsekuensi logis. Apa itu? Sebagai wanita karir harus tetap menjadi istri dan ibu yang ideal untuk suami dan anak-anaknya. Saat konsekuensi ini diabaikan, maka sehebat apa pun karir yang sudah berhasil diraih, rasanya akan percuma.

Ini pula yang kerap saya jumpai di ruang praktik. Mereka yang punya masalah dengan anak-anaknya maupun dengan kehidupan rumah tangganya, umumnya karena fungsi seorang wanita sebagai istri dan sebagai ibu, mulai tergerus.

Thursday, July 7, 2016

Minta Maaf Saat Lebaran, untuk Apa?

Sumber: Ekspresi Suara Remaja

Salah satu ritual utama saat Idulfitri adalah, saling maaf-memaafkan. Betapa Sang Maha Pencipta benar-benar sudah mendesain manusia begitu sempurna, sehingga urusan maaf-memaafkan pun diatur sedemikian rupa. Ibarat pabrik yang memproduksi mobil, setahun sekali dianjurkan untuk servis lengkap, memperbaiki segala hal yang perlu penyempurnaan atau penggantian.

Begitu pula Sang Pembuat Hidup sebagai pencipta manusia, memberikan panduan agar melakukan servis secara berkala, dari mulai proses Ramadan, diakhiri dengan Lebaran dengan agenda utama saling maaf-memaafkan tadi. Lalu, untuk apa sebenarnya prosesi saling memberi maaf tersebut?

Sunday, July 3, 2016

Becak Spesial dan Loper Koran



Hari ini, tenggat akhir daftar ulang. Jika tidak datang untuk menjalani prosesi itu, maka namaku pasti terancam hilang dari daftar murid baru di SMP Negeri 33 Surabaya. Bapak sedang sakit keras, sementara ibu harus menggantikan posisi bapak untuk bekerja, menjaga bengkel tambal ban di ruas Jalan Raya Kupang Indah Surabaya.

Bengkel kaki lima itu menjadi penopang utama untuk menjaga agar dapur di rumah tetap berasap. Ibu berubah menjadi wonder women keluarga. Dengan tangkas ibu mampu menambal ban mobil yang bocor, dan pekerjaan lain yang lazimnya dilakukan oleh laki-laki.

Cubitan Murid Seharga Rp 20 Juta



Sudah beberapa hari, postingan soal guru yang mencubit murid itu, menghiasi dinding facebook saya. Artikel itu terparkir rapi di dinding media sosial, karena nama saya memang ditautkan dalam artikel tersebut. Cukup lama saya tidak memberikan komentar apa pun.

Rasanya serba salah. Mau membela guru, tapi saya juga punya anak yang masih sekolah. Mau membela si anak, nyatanya kelakuannya yang berani merokok secara terbuka, juga tidak pantas diberi ampunan.

Setelah cukup lama menimbang-nimbang rasa, akhirnya saya coba menulis artikel ini. Saya tidak tahu pasti apakah timbangan yang saya pakai ini pas ukurannya. Apalagi timbangan hati ini tak pernah dikalibrasi atau ditera ulang oleh Badan Metrologi, sehingga belum tentu pas dan tepat sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).

Friday, July 1, 2016

Lebaran, Hentikan Mem-Bully Para Jomblo



Di setiap momen Lebaran, salah satu pertanyaan yang membuat para jomblo ngenes adalah pertanyaan, “kapan kawin?” atau “kapan nikah?” Pertanyaan lain adalah “mana calonnya?” dan berbagai pertanyaan sejenis. 


Jujur, dulu saya juga kerap melakukan hal itu, bertanya kepada rekan atau sahabat yang masih hidup sendiri, belum berpasangan. Namun, seiring waktu, belajar dari ruang praktik terapi, nyatanya pertanyaan seperti ini bisa memunculkan trauma mendalam bagi yang menerimanya. Alih-alih bisa memberikan motivasi atau semangat, pertanyaan seperti ini justru membuat energi seseorang semakin lemah dan terpuruk. 

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes