Monday, July 11, 2016

Anda Wanita Karir? Pahami Hal Ini


Anda memutuskan tetap berkarir meski sudah memiliki buah hati? Tidak masalah. Faktanya, begitu banyak wanita karir yang sukses dan tetap mampu mengurus keluarganya dengan baik dan harmonis. Namun ketika memutuskan menjadi wanita karir, harus siap dengan konsekuensi logis. Apa itu? Sebagai wanita karir harus tetap menjadi istri dan ibu yang ideal untuk suami dan anak-anaknya. Saat konsekuensi ini diabaikan, maka sehebat apa pun karir yang sudah berhasil diraih, rasanya akan percuma.

Ini pula yang kerap saya jumpai di ruang praktik. Mereka yang punya masalah dengan anak-anaknya maupun dengan kehidupan rumah tangganya, umumnya karena fungsi seorang wanita sebagai istri dan sebagai ibu, mulai tergerus.


Wanita ini misalnya, mengeluhkan anaknya usia SMP yang sering tidak pulang. Beberapa kali, anak laki-laki yang lebih sering diasuh mertuanya itu, tidak pulang ke rumah. Wanita yang bekerja di salah satu perusahaan swasta ini pun cemas khawatir terjadi apa-apa pada anaknya.

Dia kemudian membawa anaknya untuk jumpa dengan saya, agar dilakukan terapi. Namun sebelum itu, saya diskusi tentang pola asuh dengan wanita ini dan suaminya. Dari hasil diskusi diketahui, anak terpaksa lebih banyak diasuh mertua karena kedua pasangan ini sama-sama sibuk bekerja. Wanita ini berkarir di perusahaan swasta, begitu pula suaminya. Setiap pagi, anak diantar sekolah, kemudian pulangnya ke rumah mertua. Nanti sore saat pulang kerja, baru anaknya dijemput dan dibawa ke rumah sendiri.

Lalu, bagaimana interaksi selama perjalanan pulang dari rumah mertua ke rumah sendiri? “Ya biasa saja. Anak saya lebih sering tidur di mobil. Sampai rumah ya paling istirahat. Saya dan suami juga capek, anak ya paling belajar sebentar terus tidur,” beber wanita ini. Hal itu sudah berlangsung terus-menerus bertahun-tahun.

Lantas kenapa anak jadi kurang dekat dan bermasalah? Dari pola asuh bisa dilihat, anak sangat kekurangan kasih sayang. Sama sekali tidak ada interaksi yang maksimal antara orang tua dengan anak. Anak lebih banyak diasuh oleh guru, teman sekolah, mertua, dan temannya di sekitar tempat tinggal mertua. Sementara malam hari semestinya waktu untuk mengisi kasih sayang, tidak dilakukan.

Maka, kepada pasangan ini, saya berikan tugas untuk mengubah pola asuh. Jika memang wanita ini berat berhenti dari pekerjaan dengan berbagai alasan, maka yang perlu dilakukan adalah, siap lebih capek demi anaknya. Caranya, bangun lebih dini dan upayakan banyak berinteraksi. Dari mulai sarapan pagi bersama, hingga saat perjalanan ke sekolah. Begitu juga saat pulang sore hari, harus ada interaksi. Syarat lain yang disanggupi adalah, tidak boleh membawa pekerjaan di rumah. Selain itu, perbaikan pola asuh itu juga harus diikuti dengan satu hal, dilarang ada handphone selama berinteraksi dengan anak. Baik orang tua maupun anak, dilarang memegang smartphone. Wanita ini dan suaminya menyanggupi semua syarat itu.

Setelah itu, proses terapi saya lakukan pada anaknya. Terbukti, dalam proses terapi anak memang merasakan kurang kasih sayang dan merasa tidak berharga. Perasaan ini pun dinetralisir dan diperbaiki dengan hipnoterapi. Anak merasa nyaman, dan dalam proses terapi juga tidak ditemukan sesuatu yang mengkhawatirkan pada anak. Dia tidak pulang hanya karena merasa tidak aman dan tidak nyaman di rumah. Proses terapi klir, termasuk beberapa akar masalah berhasil dicabut.

Awal pekan lalu, menjelang Lebaran, saya mendapat kabar menggembirakan dari wanita ini. Dia menyampaikan, perilaku anaknya berubah. Mudah diajak komunikasi dan lebih betah di rumah. Semua syarat yang diberikan, sudah dilakukan. Dia pun merasa lebih bahagia dan lebih nyaman.

Bagaimana menurut Anda? (*)  



Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...