BREAKING NEWS

Tuesday, July 19, 2016

Bisnis di Masa Sulit? Ini Solusinya…


Semua bisnis, sedang berat. Ibarat tinju, pengusaha kini sedang terkena pukulan yang bikin bonyok. Namun, bisnis kali ini pukulannya lebih berat dibandingkan tinjunya Muhammad Ali atau Mike Tyson. Tak sedikit yang benar-benar melambaikan tangan ke kamera, mengibarkan bendera putih, dan lempar handuk. Pendek kata, dunia seolah gelap, kiamat benar-benar sudah di depan mata.

Separah itu kah kondisinya? Nyatanya memang demikian. Ironisnya, di tengah kondisi yang sulit bagi para pengusaha itu, masih ada saja buruh yang unjuk rasa menuntut tambahan ini dan itu. Padahal, dalam kondisi saat ini, bisa tetap bertahan saja sudah untung. Masih bisa bekerja saja harus bersyukur. Jangankan berharap tambahan gaji, untuk bisa mempertahankan karyawan saja ibarat mencari jarum dalam jerami.


Ketika pengusaha sulit, sudah pasti kondisi buruh pasti lebih sulit. Namun, jika para pekerja tidak membantu lepas dari kesulitan ini, bagaimana kondisi bisa berubah? Tentu tulisan ini akan memantik pro dan kontra. Tidak apa-apa. Sebagai sebuah gagasan, saya pun harus menyampaikan apa adanya.

Satu hal yang umumnya dilupakan saat bekerja adalah, para pekerja selalu merasa bahwa dirinya hanya sebatas buruk, hanya sebatas objek penderita, hanya sebatas bekerja dan mendapat gaji. Padahal, yang tepat adalah, ketika bekerja, sadari sepenuhnya bahwa bekerja itu adalah masuk dalam satu bagian atau sistem yang tidak terlepas dari satu sama lain.

Seperti halnya mobil, bayangkan kalau semua tidak menjalankan sistemnya. Andai kata pentil ban yang harganya hanya beberapa itu tidak ada, yakinlah mobil semahal apa pun, tidak akan bisa jalan. Nah, di sini, pentil menyadari bahwa dia juga bagian penting di sebuah mobil. Maka dia pun bekerja maksimal sehingga mobil tetap berjalan dengan baik.

Begitu juga saat bekerja. Di mana pun posisi Anda, laksanakan tugas dan fungsi dengan baik. Maka itulah bentuk dukungan yang tepat. Kalau sudah dilakukan, maka yakinlah akan ada penambahan rezeki. Karena rezeki itu datang karena pekerjaan yang sudah dilakukan, bukan atas permintaan. Bukankah di Alquran pun disebutkan, “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum mereka mengubah apa yang ada di dalam dirinya.” Artinya, ubahlah diri menjadi manusia berkualitas. Sebagai pekerja, bekerja berkualitas. Sebagai apa pun peranannya, lakukan dengan berkualitas.

Lalu bagaimana jika Anda sudah bekerja sangat maksimal namun yang didapatkan tidak sebanding? Silakan cek perasaan Anda. Kalau masih nyaman saja, tetap lakukan yang terbaik, bahkan kalau bisa ditingkatkan. Kalau perasaan tidak nyaman, silakan cari tempat bekerja lain yang lebih baik. Jika Anda sudah yakin memiliki kemampuan yang mumpuni, jelas tidak akan takut kehilangan pekerjaan dan akan mudah diterima di mana saja.

Saya memang sangat beruntung, bekerja di Kaltim Post Group. Ada sosok Dahlan Iskan plus Zainal Muttaqin yang menjadi atasan sekaligus guru dalam memberikan contoh bagaimana bekerja dengan baik. Zainal Muttaqin, Chairman Kaltim Post Group pernah menyampaikan, pekerja yang baik akan menghasilkan pemimpin yang baik. Artinya apa? Jika Anda ingin dipimpin oleh atasan yang baik, maka mulailah bekerja dengan baik dari diri sendiri. Dari sini, maka saya tetap yakin dengan prinsip, “untuk bisa berubah, maka ubahlah diri sendiri. Setelah diri sendiri berubah, maka lingkungan akan mengikuti.”

Lantas bagaimana sikap karyawan menghadapi masa sulit ini? Pilihan yang biasanya dilakukan pengusaha adalah efisiensi. Bentuk efisiensi itu salah satunya dengan pengurangan karyawan. Nah, sudah jelas karyawan yang dipertahankan adalah yang memiliki nilai (value) plus. Jika karyawan bekerja biasa-biasa saja, otomatis mudah dilirik untuk diberikan ‘surat cerai’ dari perusahaan. Maka, pilihannya jelas, kerja keras dan cerdas, harus dikombinasikan agar nilai yang dimiliki semakin maksimal.   

Jika karyawan biasa-biasa saja menghadapi kondisi ini, maka boleh jadi pekerja benar-benar tidak ingin masuk dalam sebuah sistem tadi. Ingin lepas tangan dan tidak mau tahu dengan kondisi yang ada. Mari ubah kondisi ini, sekali lagi, dengan bekerja dua kali lipat lebih maksimal. Kalau perlu, lebih lagi. Usahakan bekerja tanpa kesalahan. Di tengah persaingan, sementara dihadapi dengan santai saja, wajar kalau tergilas mesin perubahan.

Bahkan, bos saya Zainal Muttaqin menyampaikan, jika suatu saat perusahaan mendapat prestasi terbaik, harus dicek dulu bagaimana pesaingnya? Kalau pesaing kerjanya biasa-biasa saja, maka tidak boleh bangga dulu. “Senang boleh, tapi jangan bangga dulu,” katanya.

Bangga baru bisa dilakukan, setelah terbukti pesaing ternyata juga melakukan berbagai usaha yang maksimal. Artinya, keberhasilan itu didapatkan benar-benar dengan kerja keras dan kerja cerdas. Bukan berhasil karena yang pesaing lainnya malas-malasan.

Jika seseorang sudah terlatih mengahadapi persaingan seperti ini, maka dipastikan akan melahirkan kualitas individu yang sangat mumpuni. Berikutnya, maka perusahaan akan semakin maksimal dalam meraih apa yang diharapkan.

Ini pula yang perlu dilakukan dalam membangun sebuah kota. Samarinda misalnya, bisa lebih baik jika warganya juga ikut bekerja keras dan bekerja cerdas mewujudkan kota yang terbaik. Kalau hanya mengkritik dan menyumpahi wali kota, dijamin kota ini ya tidak akan maksimal. Kenapa? Karena energi warga kota hanya habis untuk mencela dan mencaci-maki. Bagaimana kalau energi itu dialihkan untuk bergerak bersama menata kota, maka Samarinda akan benar-benar menjadi Kota Tepian sesuai semboyannya.

Kerja keras memang sulit dan capek. Namun, di tengah kondisi saat ini, mutlak diperlukan. Satu lagi, semua ini juga harus diawali dengan impian. Maka, mulai saat ini, set impian Anda. Apa saja yang ingin dicapai, dan bereskan semua hambatan dari dalam diri. Jika ini sudah dilakukan, maka bekerja baik, bekerja keras, sekaligus bekerja cerdas, akan mudah dilakukan. Jika semua penduduk di Tanah Air sudah melakukan ini, mustahil rasanya Indonesia tidak lepas dari badai krisis.

Bagaimana menurut Anda?


Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes