BREAKING NEWS

Saturday, July 16, 2016

Mas Medok, Pendekar Jari Sakti


BAGI pengguna media sosial, tentu pernah melihat iklan dalam bentuk film pendek yakni Mas Medok, Pendekar Jari Sakti. Bagi saya, iklan milik situs jual beli online, BukaLapak itu sangat menarik dan benar-benar memahami konsep bagaimana menanamkan ide ke dalam pikiran, utamanya ke pikiran bawah sadar.

Awalnya, saya tidak terlalu memperhatikan video iklan yang kerap dibagikan beberapa rekan dan sahabat ini. Hingga suatu ketika, saat sedang memiliki waktu luang, saya mencoba membuka beberapa video yang dipasang di dinding facebook milik orang lain.


“Medok, Pendekar Jari Sakti” begitu judul yang terpampang. Iseng, coba saya ikuti video ini. Ternyata, cukup menarik. Video yang saya lihat ketika itu adalah, hantu di sebuah jembatan. Saya lupa judul kisah ini. Yang jelas, video itu menggambarkan seorang wanita yang harus berjuang hidup dengan berjualan dari satu pasar malam, ke pasar malam lainnya. Wanita single parent itu harus menghadapi kendala, munculnya isu hantu di sebuah jembatan, yang membuat dirinya takut. Sementara, dua juga tetap harus berjualan untuk bertahan hidup.

Singkat cerita, hantu itu ternyata hanya rekayasa. Sekelompok orang sengaja melakukan itu karena motif bisnis. Di sinilah Mas Medok muncul sebagai hero. Dia berhasil mengungkap tipu muslihat berupa hantu palsu itu.

Di akhir cerita, wanita single parent tadi akhirnya tak perlu berjualan di pasar malam. Cukup berjualan di BukaLapak, maka dia tetap bisa menyambung hidup, sembari tetap bisa berkumpul dengan buah hatinya. Sementara sebelumnya, dia terpaksa meninggalkan anaknya hingga malam hari hanya untuk berjualan.

Tertarik dengan kisah ini, saya pun mengikuti cerita Mas Medok ini dalam episode yang lain. Video sarat makna ini benar-benar mampu memikat perhatian. Banyak pesan moral yang disampaikan dalam video yang rata-rata berdurasi 15 menitan ini.

Di tengah menjamurnya situs belanja online di Tanah Air, investasi yang gelontorkan BukaLapak untuk membuat film pendek Mas Medok ini cukup tepat sasaran. Selain sarat makna, film pendek ini mampu menawarkan sosok super hero lokal. Sebab selama ini film yang ada didominasi kisah kepahlawanan dari dunia Barat.

Di samping itu, film Mas Medok ini juga dengan mudah mampu menanamkan pesan ke pikiran bawah sadar konsumen. Kenapa? Karena cara menembus pikiran bawah sadar benar-benar dimiliki film pendek ini.

Nilai moral. Salah satu cara agar mudah diterima pikiran bawah sadar adalah memiliki nilai moral. Karena video tersebut sarat pesan moral, maka dengan mudah masuk ke pikiran bawah sadar. Cara berikutnya adalah menyentuh perasaan. Semua episode Mas Medok, selalu menyentuh perasaan. Ketika seseorang sedih atau emosinya tersentuh, maka pikiran bawah sadar terbuka lebar. Itulah yang terjadi di film pendek Mas Medok. 

Ketika emosi sedang dipermainkan, saat itulah tulisan BukaLapak akan muncul. Baik itu digambarkan dalam kemasan kardus paket, atau di handphone. Cara berikutnya adalah diulang-ulang. Banyaknya episode Mas Medok ini, memungkinkan setiap orang untuk menonton lagi, lagi dan lagi. Semakin diulang, maka iklan BukaLapak ini akan semakin melekat ke pikiran bawah sadar.

Cara lain menyentuh pikiran bawah sadar adalah memanfaatkan sentimen kelompok tertentu. Dalam film Mas Medok itu, jelas akan menarik mereka yang berasal dari Jawa. Kenapa, karena dialog Mas Medok digambarkan benar-benar medok. Ingat, penduduk terbesar Indonesia adalah warga Jawa. Praktis video ini mudah mendapat tempat bagi mayoritas penduduk Tanah Air. Tak puas hanya menyentuh warga Jawa dengan Mas Medok-nya, iklan ini juga selalu melibatkan mereka dari suku lain. Sunda, Batak, Padang, Bugis, Papua, Tionghoa, dan lainnya. Inilah cara efektif pesan bisa diterima pikiran bawah sadar, ketika mereka merasa kelompoknya dilibatkan.

Saya tidak ada hubungan apa pun dengan BukaLapak. Saya menulis ini murni karena melihat keunikan iklan yang disajikan situs tersebut. Saya sengaja menulis hal ini terkait dengan dunia teknologi pikiran yang saat ini sedang saya geluti.

Bagaimana menurut Anda?



Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes