BREAKING NEWS

Wednesday, July 27, 2016

'Sekolah Kuliner' ala Djongko. Jalankan Bisnis dengan Hati, Semua Karyawan Dianggap Anak Sendiri

Pak Yana Hendayana (kanan), berbagi kisah suksesnya dalam merintis usaha kulinernya.


Di sela padatnya kegiatan Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) di Bandung – Jawa Barat, saya mendapat undangan spesial dari sahabat saya Pak Yana Hendayana. Saya mengenal beliau ketika sama-sama mengikuti workshop Quantum Life Transformation di Tretes – Pasuruan – Jawa Timur, Desember 2014 silam. Sejak itu, saya sering berdiskusi dan berkomunikasi dengan beliau melalui media sosial.

Malam sebelumnya, saat akan beranjak ke Gedung Sate hendak menghadiri Welcome Dinner, undangan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, tiba-tiba beliau berkunjung ke hotel tempat saya menginap. Hanya sempat ngobrol sebentar, terpaksa saya harus mohon maaf meninggalkan beliau yang sudah jauh-jauh mendatangi saya.


Nah, keesokan harinya, memanfaatkan waktu yang ada, saya pun membalas kunjungan Pak Yana. Saya dijemput, dibawa ke kediamannya, sekaligus menjadi salah satu tempat usahanya, Djongko.

Djongko, dalam bahasa Sunda artinya warung yang terbuka. Usaha kuliner yang berada di Jalan M Thoha Bandung, tak jauh dari pintu tol ini, sangat sederhana. Dibangun menggunakan kayu bekas, bahkan meja pun menggunakan bekas drum. Usaha yang dirintis sudah lebih dari 3 tahun ini, sangat laris. Kawasan ini sebenarnya bukan kawasan kuliner, namun ternyata Pak Yana membuka Djongko ini 24 jam.

Setiap hari tak pernah sepi pengunjung dari berbagai kalangan. Apalagi malam hari, barisan motor dan mobil terparkir rapi, memadati lahan yang ada. Bahkan saking padatnya, terkadang ada pengunjung yang tidak kebagian bangku.

“Itu bapak lihat sendiri, ada yang rapat. Kalau rapat di hotel, berapa biaya yang terbuang,” ujarnya sembari menunjuk beberapa pengunjung yang duduk melingkar, terlihat serius membahas sesuatu.


Salah satu menu andalan di Djongko ini adalah kue balok. Kue yang mirip seperti kue pancong namun ukurannya dua kali lipat lebih besar ini, diklaim paling laris dan paling terkenal. Ini karena cara pembuatan kue khas yang dilakukan Pak Yana ini, masih mempertahankan cara tradisional yakni menggunakan arang.

Dengan ramah, Pak Yana memberikan penjelasan bagaimana proses pembuatannya. Saya pun melihat dua karyawannya bagaimana menata arang di bagian bawah, kemudian di bagian atas cetakan khusus, dituangkan adonan. Setelah selesai, barulah ditutupi juga dengan besi yang berisi arang. Sehingga, bagian atas dan bawah kue ini, matang sempurna. Harganya per buah hanya Rp 1.500. Namun, jika ingin menambah toping seperti keju atau cokelat, harganya Rp 2.500 per buah.     

Sembari terus mengobrol, satu piring kue balok ada di hadapan saya. Ada yang original, keju dan cokelat. Satu demi satu saya coba. Rasanya memang enak, padanan rasa gurih dan manis. Garingnya juga pas, apalagi dimakan selagi panas dengan didampingi segelas kopi vietnam.

Kue balok (kiri) jadi salah satu menu andalan. Beberapa minuman racikan yang segar juga jadi daya tarik tersendiri.

Tapi nyatanya, Djongko bukan warung sembarangan. Siapa sangka, usaha kuliner pinggir jalan ini menyajikan juga menu bintang lima. Ada steak, hingga ramen. Minuman pun menggunakan sirup standar restoran papan atas. Para barista yang dimiliki juga sangat mahir beberapa kopi andalan Djongko ini.

Tentu saja, saya semakin penasaran mengulik bagaimana rahasia Pak Yana bisa sukses menekuni bisnis ini. Awalnya dia memiliki usaha toko bangunan. Kini, toko bangunan itu hampir menyatu dengan dengan Djongko dan kediamannya sendiri.

“Sekarang saya bisa mengambil kesimpulan, usaha apa pun, harus diawali dengan perasaan yang nyaman. Kalau masih ada mental block (hambatan diri), akan sulit,” sebut beliau.

Cukup panjang proses pencarian jati diri dilakukan Pak Yana. Dari mulai membaca buku, hingga berguru ke banyak orang. Apalagi latar belakangnya memang pernah di pesantren, praktis sudah terbiasa nyantri.

Hingga suatu ketika, beliau membaca sebuah buku milik Bante Karyadi yang berjudul Sembuh dengan Hipnoterapi. Dari sini, dia kemudian mencoba dan cari tahu, apakah hambatan diri yang mempengaruhi. Sempat kontak dengan Bante Karyadi, beliau sempat akan terbang ke Medan, untuk menemui Bante, dan minta terapi. Namun, oleh Bante yang juga alumnus Adi W. Gunawan Intitute of Mind Technology (AWGI), Pak Yana diarahkan agar terapi dengan alumni yang ada di Bandung.

Bertekad untuk menghilangkan semua perasaan tidak nyaman di dalam dirinya, Pak Yana akhirnya menjalani hipnoterapi dengan salah satu terapis di Bandung. Ternyata benar. Ada akar masalah di masa lalu yang menjadi penghambat usahanya. Sumber masalah inilah yang kemudian dicabut dan membuat beliau nyaman dan plong. Sejak itulah, dia semakin nyaman menjalankan usahanya.

“Ya dulu di pesantren, dengan guru dan kiai, selalu diajarkan bagaimana untuk ikhlas, lepaskan masalah agar nyaman. Tapi bagaimana caranya? Proses mencari cara untuk melepas masalah itulah yang akhirnya mempertemukan saya dengan hipnoterapi,” bebernya.

Kini, dia menjalankan bisnisnya dengan nyaman. Masa lalunya yang sempat membuat dirinya kurang nyaman, benar-benar sudah dilepaskan. “Belajar dari pengalaman masa lalu, sekarang saya menjalankan bisnis ini dengan hati,” tuturnya.

Bagaimana prinsip bisnis dengan hati? “Para karyawan saya anggap anak sendiri. Mereka semua panggil saya ‘ayah’. Saya benar-benar menghargai keberadaan mereka,” tuturnya.

Para karyawan itu benar-benar dididik dari nol. Dari mulai tidak tahu apa-apa, sampai menguasai banyak hal di bidang kuliner. “Ada yang cuma lulusan SD dan SMP. Tapi mereka mau dibimbing dan mau belajar. Sekarang merekalah yang menjalankan usaha ini,” tuturnya.

Saya sempat mencoba mi ramen dan kopi vietnam. Rasanya memang tidak kalah dengan kelas bintang lima.

Bahkan, ada beberapa karyawan yang disekolahkan di jurusan perhotelan. Ilmu dari bangku sekolah itulah yang kemudian diterapkan juga dalam usaha kuliner yang digeluti ini. Usaha kulinernya pun, oleh beliau dianggap sebagai sekolah. “Ini sebenarnya sekolah kuliner. Sekolah informal, tidak ada ijazahnya. Tapi siapa saja yang mau belajar, seminggu aja sebenarnya bisa,” urainya.

Dengan prinsip manajemen hati, terbukti para karyawannya sangat loyal. Begitu ada karyawan yang sudah pandai dan bisa menguasai cara pengolahan makanan, minuman serta manajemen, karyawan inilah yang biasanya diberikan kepercayaan ketika membuka cabang baru. “Pokoknya sekarang ya mereka semua yang mengurusi bisnis ini,” sambungnya.

Selain membuka cabang sendiri, ada pula yang kerja sama dengan pihak lain. “Soal kerja sama, saya tidak pakai sistem franchise yang mungkin merugikan pihak lain. Harus sama-sama menguntungkan,” ujarnya. Saat saya ngobrol pun, terlihat bartender yang dimiliki, sedang memberikan training kepada peracik minuman yang akan disiapkan untuk cabang lain.

Kepada karyawan, Pak Yana mengajarkan agar setiap karyawan bukan mengerjakan tugasnya karena takut atau terpaksa. “Saya selalu sampaikan ke mereka, jangan kerja hanya karena disuruh. Hilangkan perasaan disuruh itu. Tapi, fokus pada pekerjaan itu, nikmati. Maka pekerjaan itu akan menyayangi diri kita,” bebernya. Hasilnya, tentu akan dirasakan oleh karyawan itu sendiri.

Baginya, hukum siapa yang menabur dia yang menuai, benar-benar diterapkan. Untuk itulah, dia terus berusaha berbuat yang terbaik agar hasilnya juga maksimal.

Selain mengelola karyawan dengan hati, pilihan bahan baku juga tidak boleh diabaikan. Untuk minuman misalnya, menggunakan sirup standar bintang lima yang memang berkualitas.

“Pokoknya, di sini saya jual dari harga termurah Rp 1.500, sampai yang berkualitas. Impian saya, semua orang dari mulai anak-anak yang uang jajannya pas-pasan sampai yang dewasa, bisa ke sini,” ulasnya.

Hal lain yang diakuinya juga memberikan dampak besar dalam bisnisnya adalah, tidak segan berbagi. Setiap kali ada rekan atau temannya yang mampir ke Djongko, dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang menurunya membahagiakan. Tidak lagi memberikan diskon atau potongan harga, namun benar-benar free alias gratis.

“Ya rasanya bahagia kalau bisa menjamu teman,” katanya. Kadang, apa yang ia lakukan dipertanyakan oleh rekannya yang lain. Apa tidak rugi? Namun nyatanya dia tidak pernah merasa.

“Biasanya, kalau saya habis menjamu orang, besok atau lusanya, pengunjung Djongko langsung naik berlipat-lipat. Jadi memang ngga pernah rugi,” pungkasnya. (*)

  


Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes