BREAKING NEWS

Thursday, July 28, 2016

Utamakan Pola Asuh Kasih Sayang, Ponpes Al Mukhlis Dibekali Teknologi Pikiran


Endro (berdiri, tengah) bersama Ustaz Mamat (5 dari kanan) dan para pengasuh Pondok Pesantren Al Mukhlis.

BANDUNG - Di tengah derasnya pengaruh modernisasi, pondok pesantren dianggap sebagai salah satu solusi pendidikan yang mengutamakan akhlak dan keagamaan. Namun, benarkah sistem pendidikan yang ada di pesantren sudah benar-benar sesuai dengan perkembangan zaman? Kegelisahan inilah yang dirasakan pengasuh Pondok Pesantren Al Mukhlis di Kampung Panyaungan RT 1 RW 1 Desa Nagrak Kecamatan Cangkuang Kabupaten Bandung – Jawa Barat.

“Kami selalu mengajarkan kepada para santri agar meneladani Rasulullah. Semua harus dilandasi kasih sayang. Namun pada kenyataannya, terkadang ustaz dan pengasuh sesekali terpancing emosinya. Inginnya santri bisa disiplin, namun yang terjadi mungkin terlalu keras dalam mendidik,” sebut Ustaz KH Mamat Ruhimat Hidayatullah, pimpinan Ponpes Al Mukhlis saat berbincang santai di salah satu saung yang banyak tersebar di areal pondok ini.


Dampak dari sistem pendidikan yang keras di pondok pesantren, diakui Ustaz Mamat -begitu biasa disapa- dikhawatirkan bisa memberikan trauma yang mendalam. “Saya sendiri pernah mondok, jadi santri di salah satu pesantren. Pola pendidikan yang keras memang rasanya membuat tidak nyaman. Inilah yang ingin saya ubah,” ujarnya.

Salah satu pendiri pondok pesantren ini, H Yana Hendayana, juga termasuk yang tidak setuju adanya pola pendidikan terlalu keras di pondok. Pria yang juga pernah jadi santri pondok itu juga mengaku sempat mengalami trauma. Beruntung, Yana pernah membaca buku tentang teknologi pikiran, hingga kemudian mengikuti workshop Quantum Life Transformation (QLT) dari Adi W. Gunawan Institute. Berbekal workshop ini pula, Yana berhasil merilis semua trauma dan emosinya di masa lalu, termasuk ketika masih menjalani pendidikan di pondok pesantren.

Suguhan masakan dari para santri, rasanya mantap.

“Ini juga yang sering saya sampaikan ke pengasuh pondok, supaya semakin meningkatkan kualitas pola asuh dengan mengedepankan kasih sayang,” tutur Yana.

Yana kemudian mengundang Endro S. Efendi, trainer teknologi pikiran lulusan Adi W. Gunawan Institute (AWGI) untuk sharing tentang materi teknologi pikiran, Quantum Life Transformation, di pondok pesantren pimpinan Ustaz Mamat.

“Saya dengar Pak Endro kebetulan sedang ada di Bandung, makanya saya undang supaya bisa sharing di pondok. Alhamdulillah pak Endro bersedia,” ujar Yana.

Bertempat di salah satu saung di pondok tersebut, Endro pun sharing tentang teknologi pikiran dengan materi Quantum Life Transformation. Dia menyampaikan, sangat senang bisa berbicara di lingkungan pondok pesantren. Kenapa? Karena faktanya, dalam beberapa kasus yang ia tangani, tak sedikit yang akar masalahnya berasal dari pola asuh pesantren yang keras.



“Pernah ada klien yang sulit mengendalikan emosinya. Mudah sekali marah terhadap karyawannya. Ternyata, ketika menjalani terapi, akar masalahnya ketika dia masih di pondok pesantren. Ketika itu klien terlambat ke masjid untuk salat, namun kemudian disabet pakai sajadah oleh salah satu pengasuhnya,” ujar Endro.

Selain kasus tersebut, masih ada beberapa kasus lain yang akar masalahnya berasal dari masa lalu saat masih di pondok pesantren. Itu sebabnya, ia sangat mendukung dan mengapresiasi upaya pondok pesantren yang ingin meningkatkan kualitas pola asuh, tanpa mengabaikan kualitas di bidang pendidikan akademik dan keagamaan.

Dijelaskan Endro, pondok pesantren adalah tempat yang sangat strategis dan tepat untuk membentuk karakter santri. Sebab, semua komponen untuk menanamkan program ke pikiran bawah sadar, semuanya ada di dalam pondok pesantren.

Endro menyampaikan, ada lima cara untuk memasukkan program ke pikiran bawah sadar. Pertama, figur otoritas, kedua emosi dengan intensitas tinggi, ketiga repetisi ide, keempat identifikasi kelompok, dan kelima relaksasi pikiran. “Kelima cara ini, semua ada di pondok pesantren,” ujarnya.

Pertama, figur otoritas. Semua ustaz dan pengasuh pondok merupakan figur otoritas bagi para santri. Karena itu, disarankan Endro, agar para ustaz dan pengasuh sebagai figur otoritas tidak sembarangan dalam bertindak dan mengucapkan sesuatu yang mungkin kurang tepat.

“Bisa saja niat ustaz bercanda, atau sekadar memberikan contoh. Tapi jika kalimat yang digunakan kurang pas dan menyinggung perasaan santri, akan menjadi trauma berkepanjangan,” tuturnya. Apalagi menyangkut hukuman fisik, sangat berbahaya dampaknya bagi tumbuh kembang santri kelak.

Kedua adalah emosi dengan intensitas tinggi. Menurut Endro, para santri yang mondok terkadang memiliki masalah kurang kasih sayang, karena memang terpisah dari kedua orang tuanya. Hal ini menyebabkan santri terkadang mudah galau karena menyimpan rindu terhadap keluarganya. “Jika itu terjadi, pikiran bawah sadar sedang terbuka lebar. Maka apa pun yang disampaikan para guru dan pengasuhnya, akan masuk ke pikiran bawah sadar. Itu sebabnya, sebaiknya berikan program yang tepat,” ujarnya.

Bersama Ustaz Mamat (tengah) dan pendiri pondok pesantren Yana Hendayana (kanan)

Ketiga, repetisi ide atau pengulangan. Tanpa sadar, terkadang ustaz atau pengasuh mengulang-ulang kalimat yang kurang pas pada santri. Hal ini bisa menjadi program yang berpengaruh di masa mendatang. Sebagai gantinya, gunakan kalimat-kalimat yang positif dan memberikan semangat serta motivasi pada para santri. Jika dilakukan terus-menerus, maka santri akan tumbuh menjadi pribadi yang semangat dan siap maju menghadapi tantangan.

Selanjutnya keempat, identifikasi kelompok. “Pondok pesantren ini sendiri merupakan kelompok khusus. Maka, apa pun yang disampaikan kepada para santri, jelas tidak akan ada penolakan. Semua akan diterima pikiran bawah sadar,” ujar Endro.

Terakhir, relaksasi pikiran. Di ruang terapi, ketika Endro menangani klien, selalu menggunakan metode hipnoterapi. Ini adalah metode untuk mengakses pikiran bawah sadar. Dengan relaksasi pikiran, program akan mudah ditanamkan atau untuk mencabut akar masalah.

“Namun dalam Islam, relaksasi pikiran sudah ada waktunya, lima kali sehari, yaitu salat wajib. Sayangnya, ketika salat belum tentu bisa kusyuk,” bebernya. Untuk itu ia menyarankan, ketika para santri salat, apalagi ketika salat tahajjud, adalah saat yang tepat untuk memperbaiki diri sendiri.

“Sebelum salat, selain memang berniat untuk menghadap Sang Maha Pencipta, tak ada salahnya berniat untuk melepas semua masalah yang sedang dihadapi, sehingga pikiran menjadi tenang dan nyaman,” sarannya.

Di akhir sharing, tak lupa Endro mengajarkan teknik khusus kepada para ustaz dan pengasuh, bagaimana cara melepas emosi yang tenang dan nyaman. Teknik berbasis teknologi pikiran itu, diharapkan bisa membantu para pengasuh dan guru pondok pesantren ini, agar selalu tenang dan nyaman dalam mendidik para santri.

“Selama ini, kami memang sering mengajarkan, jika ada masalah sebaiknya berserah diri, pasrah dan ikhlas kepada Allah. Tapi ya nyatanya kadang masih ada saja yang mengganjal. Alhamdulillah dengan teknik yang diajarkan, mudah-mudahan bisa membantu kami untuk melepas perasaan tidak nyaman dengan benar-benar ikhlas,” ucap Ustaz Mamat usai sesi diskusi berlangsung. (*)



Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes