HYPNO NEWS

Friday, August 12, 2016

BRUAKKK!!!!..., Bocah SMP Itu Terlempar dari Motornya



Jumat (12/8) pagi, seperti biasa saya bermaksud menghadiri rapat lintas kota Samarinda – Balikpapan, melalui fasilitas videoconference di kantor Kaltim Post Samarinda. Melaju perlahan, tak lebih dari 40 Km/jam, saya juga bermaksud ingin ke kantor DPRD Kaltim selepas rapat.

Saat stir kemudi perlahan berbelok ke kanan, di tikungan cukup tajam di Jalan Biawan Samarinda, tiba-tiba dari arah berlawanan ada sebuah motor yang mencoba menyalip kendaraan di depannya. Tak  terkendali, motor yang dikendarai bocah salah satu SMP negeri di Samarinda itu oleng. Bagian belakang motornya menghantam bemper mobil yang saya kendarai.


“Bruakkk!!!!....” suara tabrakan yang cukup nyaring itu, sontak menyita perhatian warga di kawasan tersebut. Termasuk warga yang lalu-lalang mengurangi kecepatannya, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Sementara, bocah SMP yang mengendarai motor itu, terlempar dari kuda besinya, hingga beberapa meter.

Segera saya menepi. Beberapa bagian dalam bemper mobil tampak terlepas di jalan. Saya langsung mengamankan bagian bember yang lepas ini serta menghampiri bocah SMP yang terlihat sudah dibantu beberapa warga untuk menepi. Begitu pula dengan motornya.

Bemper mobil rusak parah. Begitu pula dengan motor si bocah ini. Pada roda belakang, terlihat beberapa rujinya putus. Rodanya tak lagi presisi di asnya, terlihat pilas dan tak bisa lagi dikendarai. Pelat nomornya lepas, begitu pula beberapa bagian motornya pun rusak parah. Beruntung, bocah ini tidak apa-apa. Hanya luka lecet, dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Segera saya amankan kunci motor yang masih menempel. Seorang ibu, lari tergopoh-gopoh, mencoba memberikan sebotol air mineral kepada bocah yang duduk lesu di tepi trotoar, pas di sebelah sebuah bengkel motor. Wajahnya pucat, lesu, dan raut wajahnya begitu ketakutan.

Melihat kondisinya, rasanya memang tidak tega. Tapi jika ingat aksi ngebutnya sebelum kejadian, siapa saja pasti jengkel melihatnya. “Makanya jangan ngebut. Lagian masih SMP sudah naik motor. Pasti belum punya SIM,” komentar seorang warga. “Saya tadi juga lihat, dia ngebut,” sahut warga lainnya.

“Ngga bawa SIM om,” ucap anak ini saat saya tanya soal kelengkapan yang ia miliki. “Sudah ngaku aja, kamu ngga ada SIM,” kata salah satu warga yang ikut berkerumun. Bocah ini hanya diam saja. Tatapannya kosong. Sesekali dia melihat motornya yang rusak parah. “Maaf om, saya tadi ngga lihat ada mobil di depan,” ucap bocah ini.   

Sebenarnya, ingin segera pergi dari tempat ini. Tapi hati kecil saya menyampaikan, bocah ini tetap perlu diberikan pemahaman. Sebab, jika hanya dibiarkan berlalu begitu saja, tentu tidak ada hikmah dan pelajaran yang bisa dia petik.

“Minta tolong sama teman-temanmu, bawa orang tuamu ke sini,” pinta saya. Dua temannya, yang sebelumnya sama-sama konvoi pulang sekolah, segera tancap gas. Saya pun menunggu, tak banyak komentar. Banyak sekali provokasi warga yang meminta saya agar melapor polisi untuk memberikan efek jera. Saya tak banyak menanggapi. Saya hanya ingin orang tua anak ini tahu kejadian yang sebenarnya.

Cukup lama menunggu, akhirnya orang tua bocah ini datang. Kebetulan yang datang ibunya. Melihat anaknya, si ibu tak bisa membendung tangisnya. Dia pun duduk di tepi trotoar sembari menyayangkan apa yang terjadi pada anaknya.

“Sudah dibilang hati-hati, jangan ngebut. Kenapa kamu begini,” ucap si ibu. Sang anak hanya diam saja.

“Mari bu, kita bicarakan saja ini di rumah ibu. Supaya nyaman, motor biar di titip di bengkel sini saja,” kata saya. Ibu dan anaknya pun segera beranjak ke mobil. Jalan dalam kondisi bemper yang rusak parah, tentu saja di sepanjang jalan, hampir semua pengendara pasti melempar pandangan ke arah bagian depan yang rusak. Di sepanjang jalan, tak henti-hentinya sang ibu ngomel pada anaknya yang duduk di belakang.

Keluarga anak ini, tinggal di sebuah gang. Mobil tak bisa masuk. Harus jalan kaki melewati jalan setapak menuju kediamannya. Saya mengikuti langkah ibu yang sudah mulai reda tangisnya beserta si anak di depan saya.

Rumahnya hampir di atas bukit. Sebuah rumah sederhana, dibuat dari bahan-bahan bekas. “Bapaknya belum pulang. Saya sama bapaknya kerja cari barang bekas mas. Jadi pemulung,” ucap ibu ini membuka obrolan di kediamannya.

Sang ibu menyampaikan, terpaksa membiarkan anaknya naik motor ke sekolah, karena tidak sanggup antarjemput setiap hari. “Dulu saya antar jemput, tapi saya jadi ngga bisa kerja. Saya juga bantu suami saya cari barang-barang bekas,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Ingin rasanya batin ini berontak dan marah dengan si bocah. Tak tega rasanya melihat bapak ibunya yang harus banting tulang menjadi pemulung, sementara si anak ugal-ugalan di jalan. Saya coba komunikasi dengan bagian diri saya. 
“Sang Bijaksana” dalam diri saya dengan tegas memberi arahan agar saya memaafkan dan tak perlu menuntut apa-apa. Namun, bagian diri saya yang lain juga menyampaikan, tetap perlu ada pelajaran yang diberikan untuk bocah ini. Tujuannya, agar kelak dia semakin berhati-hati. Termasuk pelajaran bagi keluarga ini, bahwa bagaimana pun, anak usia SMP tidak dibenarkan mengendari motor karena secara emosi belum mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Agar semua bagian diri saya nyaman dan setuju, saya pun harus kompromi dan mengambil jalan tengah. Memaafkan, namun tetap memberikan pelajaran. Sekali lagi ini bukan soal mampu atau tidak membayar biaya perbaikan. Ini adalah pentingnya memberikan pelajaran berharga pada si anak, walau sangat sedikit.

Lantas, sudah pantaskah anak usia SMP dibiarkan berkendara di jalan raya? Bagaimana menurut Anda? (*)    


Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes