Wednesday, August 3, 2016

Calon Dokter Gigi Ini Takut Tangani Pasien Hanya Gara-gara…



Jadi dokter gigi profesional adalah impian dari Sari (bukan nama sebenarnya). Setelah lulus dan mendapat gelar Sarjana Kedokteran Gigi (S.KG.) di salah satu universitas ternama di Pulau Jawa, Sari masih harus menjalani koass alias co-assissten. Ini adalah pendidikan profesi yang harus dijalani sebelum resmi menyandang gelar dokter gigi (drg).

Awalnya, semua berjalan normal dan biasa-biasa saja. Namun seiring waktu, calon dokter gigi ini merasa semangatnya semakin lemah dan kurang fokus. “Kalau pas pulang ke Samarinda, senang dan semangat. Begitu mau kembali ke kampus, koass lagi, rasanya malas. Sama sekali ngga semangat,” tuturnya.


Wanita ini merasa ada yang aneh. Sebab, saat masih aktif sebagai mahasiswi, dirinya tergolong yang cukup rajin dan mampu mengoleksi indeks prestasi komulatif (IPK) yang selalu memuaskan. Berusaha mencari jawaban, yang ada malah semakin bingung mencari penyebabnya.

Gara-gara asmara atau pacar? Ternyata bukan. Gadis ini sangat serius dengan pendidikannya, sehingga masih mengabaikan urusan hati. Urusan dengan orang tuanya? Juga tidak ada masalah. Justru, ia sering diskusi dengan kedua orang tuanya untuk mencari tahu penyebabnya.

Atas saran kedua orang tuanya pula, wanita ini kemudian dibawa ke tempat praktik saya. Harapannya, dengan teknik hipnoterapi, bisa diketahui akar masalah yang menjadi penyebab menurunnya semangat calon dokter gigi ini.

Waktu yang disepakati tiba. Klien bersama keluarganya datang tepat waktu. Seperti biasa, saya memberikan penjelasan soal alur terapi yang akan dilalui. Tak lupa, saya juga sempat menyampaikan bahwa metode hipnoterapi juga sudah diaplikasikan di dunia kedokteran gigi. Drg Mia Gracia CCH, dokter gigi sekaligus rekan sejawat sesama hipnoterapis lulusan Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology, telah menulis buku Hypnosis in Dentistry, bahkan sudah membuat workshop dengan tema yang sama. Tujuannya memudahkan para dokter gigi untuk menangani pasien tanpa bius, cukup menggunakan metode hipnosis.

Penjelasan tuntas, klien pun siap menjalani proses terapi. Sementara keluarganya menunggu di ruang tamu. Tak sulit membawa Sari masuk ke kondisi kedalaman pikiran bawah sadar yang nyaman dan menyenangkan. Setelah di kedalaman yang cukup presisi, proses hipnoanalisis pun dilakukan. Perasaan yang sangat mengganggu ketika menjalani pendidikan profesi adalah rasa ragu saat menangani pasien. Akar masalah dari perasaan ini ternyata terjadi ketika klien masih berstatus mahasiswi.

Ketika itu, Sari sedang praktik penanganan gigi. Ternyata, hasil kerjanya dianggap kurang bagus oleh sang dosen. Yang membuat klien tidak nyaman adalah, sang dosen sempat membandingkan hasil kerjanya dengan hasil kerja kakaknya. Maklum, sang kakak juga kuliah kedokteran gigi di kampus yang sama.

Dosen membandingkan hasil kerja klien dengan kakaknya, tentu berniat baik. Harapannya bisa menjadi motivasi tersendiri. Namun, bagi pikiran bawah sadar, belum tentu dianggap sebagai motivasi. Justru inilah akar masalah yang membuat klien menjadi tidak semangat dan malas menjalani koass.

Proses restrukturisasi di kedalaman pikiran bawah sadar pun dilakukan. Semua trauma dan perasaan tidak nyaman dikuras habis. Hasilnya, wanita ini merasa sangat lega dan nyaman. Ia pun merasa sangat siap dan lebih bersemangat menyelesaikan studinya.

Kini, harapan dan semangatnya hanya satu, ingin membanggakan dan membahagiakan kedua orang tuanya ketika pulang kembali ke Samarinda dengan tambahan nama depan “drg” alias dokter gigi.

Semangat ya Sari. Semoga segera lulus dan berhasil menjadi dokter gigi profesional. Demikianlah kenyataannya. (*)   

    



Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...