HYPNO NEWS

Saturday, August 6, 2016

Ini Dia, Tiga Rahasia Sukses Bisnis Kuliner

Dago YUI di kawasan Dago yang selalu dipadati pengunjung.



Bijak mengatakan, pengalaman adalah guru yang terbaik. Namun, ada pula yang menyampaikan, pengalaman orang lain adalah guru yang terbaik. Sebab, kalau pengalaman diri sendiri yang selalu dijadikan pelajaran, berarti di antaranya juga harus gagal dulu. Sementara jika berkaca dari pengalaman orang lain, tentu tidak perlu terjerumus pada kegagalan yang sama.

Masih terkait oleh-oleh selama berada di Bandung – Jawa Barat, memang banyak kisah dan pengalaman yang saya dapatkan dari salah satu pengusaha kuliner, Yana Hendayana. Beliau adalah pemilik beberapa cafĂ©, di antaranya Djongko, Dago Yui, hingga RM Riung Panyaungan, serta di beberapa lokasi lainnya baik di Bandung maupun di luar kota. Obsesinya, pria ini ingin memiliki cabang di seluruh provinsi di Indonesia.


Lantas, apa rahasia suksesnya? Dari obrolan santai selama berdiskusi dengan beliau, ada tiga hal yang dijadikan hal utama dalam menjalankan bisnisnya. Ilmu ini ia dapatkan dari gurunya, dan diamalkan sampai saat ini. Ketiga hal itu adalah Al Alim, Ar Rahim, dan Asy Syakur.

Mari urai satu demi satu. Al Alim yakni ilmu pengetahuan. Menurut pria ini, dalam semua hal, sebaiknya dijadikan ilmu dan pelajaran. “Tidak ada satu pun yang ada di muka bumi ini sia-sia. Semua mengandung ilmu pengetahuan,” ujarnya. Itu sebabnya, ia selalu mengajak karyawannya untuk selalu belajar dan belajar dalam setiap pekerjaan.

Jika ingin menambah menu makanan baru, dia tinggal sampaikan ke karyawannya, “saya ingin buat makanan seperti ini”. Maka karyawannya pun pasti akan mempelajarinya, termasuk dia sendiri ikut mencari tahu agar sesuai selera yang dikehendaki. Proses belajar seperti inilah yang terus diasah dan dikembangkan.

Kedua, Ar Rahim alias saling menyayangi. Implementasi dalam pekerjaan sehari-hari, dia selalu mengajak karyawannya untuk menyayangi semua pekerjaan yang dilakukan.

Misalnya ketika ada karyawan yang bertugas mencuci beras. Maka ia mengajarkan agar merasakan setiap butiran beras itu dengan segenap perasaan. Ia mengajak karyawannya mencuci beras itu dengan penuh kasih sayang. “Supaya beras juga nanti menyayangi dia, “ ucapnya.

Yana Hendayana (kanan) dan penulis (kiri). 
Sekilas, mungkin kedengarannya aneh. Namun Yana meyakini, setiap benda sejatinya menyimpan energi. Jika yang disebarkan kepada benda itu adalah energi positif, maka hasilnya juga akan kembali positif untuk diri sendiri. Ketika para karyawannya bekerja dengan penuh kasih sayang, maka mereka benar-benar mencintai pekerjaannya.

“Tidak lagi hanya sebatas melaksanakan tugas atau disuruh. Tapi benar-benar bekerja dengan hati, dengan segenap perasaan,” urainya. Termasuk, ia menganggap semua bawahannya sebagai teman bahkan dianggap anak sendiri.

Yana meyakini, hukum tabur tuai memang nyata adanya. “Siapa yang menabur kasih sayang, ya dia akan mendapatkan kasih sayang itu lagi,” ucapnya.

Terakhir, Asy Syakur alias bersyukur. Dengan pandai bersyukur, sesuai janji Sang Maha Pencipta, nikmatnya akan ditambah. “Maka ya harus pandai-pandai bersyukur dengan apa yang sudah ada saat ini. Apa pun hasilnya, terus bersyukur,” pungkasnya.

Mudah-mudahan ada hikmah yang bisa diambil dari tulisan ini. Semoga. (*)

Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes