BREAKING NEWS

Tuesday, August 23, 2016

Narkoba… Kamu Jahat!!!


“Sudah dengar kabar?” tanya salah seorang kawan melalui telepon selulernya. Kedua tangan saya masih fokus di stir kemudi. Panggilan yang saya terima melalui speaker itu bernada heran dan penuh tanya. Saya sama sekali tidak tahu apa yang ia maksudkan.

“Katanya kawan kita ada yang digerebek BNN,” sambung pria di ujung speaker tersebut, seraya menyebut nama rekan kerja yang saya kenal cukup dekat.  


Tinggal sekitar 20 kilometer lagi, saya akan sampai di Samarinda, setelah melakukan perjalanan dari Balikpapan. Pedal gas saya injak lebih dalam lagi, ingin lebih cepat sampai kantor dan mencari kebenaran atas informasi tersebut.

Belum lagi saya mampu mengatur nafas setelah menaiki anak tangga, beberapa kawan ternyata membenarkan aksi penggerebekan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Kaltim itu. Salah seorang kawan lainnya bahkan menceritakan lebih rinci.  

Saya tak mampu berkata-kata lagi. Pikiran saya terlempar pada masa-masa ketika bagaimana ikut berjuang membesarkan perusahaan ini. Apalagi saya tahu persis komitmen perusahaan ini. Jangankan berurusan dengan narkoba, rokok saja haram dilakukan. Ketika saya diberikan amanah mendirikan dan memimpin salah satu anak usaha, tercatat sudah 3 orang saya berhentikan hanya karena kedapatan merokok. Kenapa? Karena sejak awal sudah teken kontrak, karyawan tidak diperbolehkan merokok.

Karena itu, lagi-lagi saya masih tidak percaya dan benar-benar tidak habis pikir. Narkoba benar-benar mampu menembus benteng perusahaan ini. Perusahaan yang dibesarkan dengan cucuran keringat dan tenaga ratusan karyawan. Perusahaan yang menjadi tempat hidup bagi ribuan anggota keluarga. Gara-gara narkoba, semua perjuangan itu rontok seketika. Ibarat mendirikan sebuah menara eifel, sudah berdiri kokoh dan tinggal menyempurnakan saja, menara itu kini harus hancur lebur.

Kejadian ini, jelas membuat mereka di luar sana bangga dan bahagia. Peristiwa ini tentu menjadikan kegembiraan tersendiri bagi para pesaing yang selama ini tak rela melihat kami membangun sebuah menara. Apa yang terjadi seolah memaksa saya beserta semua anggota perusahaan ini menundukkan kepala, menyembunyikan wajah.

Mohon maaf, semua itu salah. Justru, ini membuat kami semakin semangat. Menara boleh hancur lebur, tapi semangat tak boleh ikut terkubur. Ada banyak anak dan istri yang menggantungkan penghidupan di tempat ini. Menara impian itu, jelas harus kembali berdiri. Perang terhadap narkoba justru semakin mengalir di masing-masing diri.


Tipu daya narkoba benar-benar membuktikan tak kenal tempat dan waktu. Maka, Anda semua di luar sana berhentilah tertawa bangga dan puas bahagia. Ambil hikmah dari kejadian ini dan perkuat benteng masing-masing keluarga, terutama diri sendiri. 

Perang kepada narkoba adalah harga mati. Jika tidak segera disudahi, entah akan menjerat siapa lagi? Kalau sampai terjadi, lagi-lagi yang jadi korban adalah keluarga, pasangan, anak, bahkan tempat bekerja selama ini. (*) 

Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes