Tuesday, August 23, 2016

Pelajaran Berharga dari Pedagang Sepatu

foto ilustrasi, sumber: wisata sidoarjo.com


Sore itu, tak seperti biasanya, saya duduk santai di teras rumah. Biasanya, sore seperti itu sudah mulai sibuk di depan laptop, menjalankan tugas memantau lalu lintas berita di Portal Kalimantan Prokal.Co.

Saat sedang santai di teras itulah, seorang pedagang sandal dan sepatu yang sedang jalan kaki sembari membawa tas penuh barang dagangan, langsung masuk rumah. Maklum, pagar rumah sedang terbuka lebar. Dengan wajah tampak kelelahan dan tubuh nyaris terhuyung, dia buru-buru menaruh barangnya di teras rumah, dan memohon izin untuk numpang duduk istirahat.

Melihat kondisi itu, jelas saya persilakan duduk di sebelah saya, sama-sama di teras, melantai. Saya minta istri membuatkan segelas kopi, serta membawa air mineral. Sembari duduk santai, pria asal Pelabuhan Ratu – Jawa Barat, belakangan dia menyebut namanya, Farid, sama sekali tidak menawarkan barang dagangannya.

Dia hanya mengeluh panasnya cuaca, dan menyampaikan baru berjualan dari kawasan Pasar Pagi, ke arah Proklamasi. Ini sangat jauh, apalagi dia berjalan kaki. Farid jelas tidak berbohong. Dari nafasnya yang masih tersengal dan tidak teratur, menunjukkan dirinya memang sangat lelah.

“Punggung saya kadang sampai berdarah pak,” ucapnya sembari menunjukkan bagian punggungnya. Jelas saja, tas penuh dagangan itu beratnya saya taksir lebih dari 30 kg. Penuh sandal dan sepatu.

Sebelum sampai di rumah saya, dia mengaku baru laku satu pasang. Jujur, saya memang sering mendengar keluhan pedagang sepatu seperti ini. Baru laku satu, atau bahkan belum ada laku. Ini biasanya kalau ada yang mampir di kantor. Namun, entah sore itu, saya merasakan vibrasi yang beda. Saya merasa Farid memang jujur, dan saya benar-benar nyaman diskusi dan ngobrol dengan Farid. Padahal, 10 menit sebelumnya juga ada sales yang menawarkan sesuatu, namun saya merasa kurang nyaman.

Laki-laki yang bahasa Sundanya cukup kental ini kemudian bercerita, terpaksa keluar dari pondok pesantren di Gentur – Cianjur, karena ayahnya meninggal. Padahal, sudah 10 tahun dia mondok di tempat itu. Ingin kerja, belum ada pengalaman. Mau tidak mau, mencoba mengadu peruntungan dengan berjualan sandal sepatu.

Usai dia menceritakan semua latar belakangnya, termasuk keluarganya, saya pun menyampaikan kepada Farid, bahwa saya dulu juga pernah berdagang asongan. Keliling jualan koran di Surabaya, termasuk pernah berjualan alat pijat dari kayu, serta jualan air PDAM menggunakan jeriken dan gerobak. Semua juga saya lakoni karena bapak saya juga meninggal sejak saya baru masuk SMP kelas 1. Farid menyimak apa yang saya sampaikan. Saya sampaikan kepada Farid, berdagang apa pun tak masalah, yang penting dia harus tetap memiliki impian untuk sukses dan berhasil.
Dengan nyaman, saya sampaikan materi-materi penting tentang teknologi pikiran serta prinsip sukses Quantum Life Transformation (QLT).
“Beneran pak, baru kali ini saya bisa dengar ilmu begini. Jarang-jarang saya diajak orang ngobrol seperti ini,” tuturnya sembari terus menyimak.
Saya sampaikan, bahwa apa yang ia lakukan adalah bekerja keras. Saya kemudian menyarankan pria berusia 23 tahun ini untuk mulai bergeser ke bekerja cerdas, serta mulai menggunakan kekuatan pikiran. Kekuatan Allah, jelas sudah pasti. Sebagai alumni pesantren, dia mengaku tak pernah meninggalkan salat. Karena itu, tinggal bagian diri Farid dan pola pikirnya yang ditingkatkan.
Dengan singkat, saya berikan teknik law of attraction (LoA), bagaimana cara menarik impian. Farid merasa nyaman, dan dia pun yakin bisa mencapai impiannya itu.
Banyak sekali obrolan yang terjadi, hingga tak terasa waktu menjelang maghrib. Tak lupa, saya membeli sepasang sandal, mengingat sandal yang saya pakai memang sudah tipis.
Terima kasih ya Farid, saya juga bisa belajar dari kerja keras yang sudah kamu lakukan. Saya juga mendapat pelajaran betapa pentingnya bersyukur atas apa yang sudah diraih selama ini.
Semoga kelak, bisa bertemu kembali dengan Farid yang berbeda. Farid yang sudah mencapai impiannya, dan sudah menjalani pekerjaan dengan pola bekerja cerdas. Aamiin. (*)
   






Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...