Tuesday, August 9, 2016

Setuju Full Day School, Asal….



Bukan rahasia umum bagi negeri ini. Ganti menteri, ganti pula kebijakan. Masil lekat dari ingatan ketika Menteri Pendidikan Anies Baswedan meluncurkan program mengantar anak di hari pertama sekolah. Belum lagi ada evaluasi atas program ini, muncul pula pergantian kepada Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy yang sudah ancang-ancang membuat program baru, Full Day School (FDS) alias sekolah sehari penuh.

Sebenarnya, ini bukan program baru. Di hampir semua daerah di Indonesia, ada saja sekolah unggulan yang menerapkan sekolah sehari penuh ini. Masalahnya, program ini akan diberlakukan untuk semua murid SD dan SMP baik negeri maupun swasta. Sementara faktanya, masih banyak sekolah yang belum memiliki ruang kelas memadai, sehingga harus berbagi antara kelas pagi dan sore. Jika kebijakan ini langsung diterapkan, praktis akan ada persoalan yang tidak mudah dipecahkan.


Ada pula sekolah yang ruangannya berbagi dengan jenjang lainnya. Misalnya pagi digunakan untuk jenjang SMP, siangnya digunakan untuk SMA. Jika kemudian diterapkan sekolah satu hari penuh, jelas akan ada yang dikorbankan. Ini baru dilihat dari sisi infrastruktur.

Lantas bagaimana dari sisi lainnya, seperti tenaga pengajar atau guru. Apalagi berbicara sekolah satu hari penuh, tidak hanya membutuhkan guru. Sekolah juga membutuhkan kehadiran pembimbing, baik itu di bidang seni, budaya, olahraga, lebih-lebih masalah moral dan agama.

Apakah full day school memang benar-benar sistem sempurna? Jelas tidak ada sistem yang sempurna, tapi boleh jadi terbaik. Sebab sempurna itu hanya milik Allah, juga milik Andra & The Back Bone, he he he. Karena itu, izinkan saya menyajikan beberapa fakta yang muncul di ruang praktik saya sebagai praktisi hipnoterapis.

Tiga bulan terakhir, sedikitnya saya menangani 7 klien yang merupakan ‘korban’ dari sistem sekolah sehari penuh. Dari mulai usia anak-anak, maupun yang sudah dewasa.

Saya ambil contoh kasus seorang siswi kelas 4 SD sebuah sekolah unggulan di Kaltim, yang tiba-tiba memiliki rasa cemas berlebihan. Orang tuanya panik karena tiba-tiba anak menjadi sangat penakut. Saat proses terapi, saya menjumpai akar masalah, anak ini ketika masih kelas 3, sempat dihukum karena terlambat menjalankan salat ashar oleh pengasuhnya.

Hukumannya mungkin dianggap sepele, yakni menghafal salah satu surah pendek Alquran di juz 30. Namun, hukuman inilah yang menjadi pemicu rasa cemas hingga terus menggelinding bak bola salju semakin membesar. Hingga terakhir, rasa cemasnya membuncah saat menjalani hukuman membersihkan meja makan, gara-gara makanan yang disiapkan tidak ia makan, karena sama sekali tidak selera.

Beralih ke kasus lain, seorang siswa kelas 2 SMP tiba-tiba tidak mau lagi pergi sekolah. Padahal, liburan sudah usai. Sebelumnya siswa ini bahkan diajak berlibur ke luar negeri oleh kedua orang tuanya. Sangat menyenangkan. Namun ketika sekolah mulai masuk, ia enggan sekolah dengan berbagai alasan.

“Sempat empat kali dibawa ke psikiater, dikasih minum obat, bahkan sampai di-ruqiyah tiga kali. Tetap tidak mau sekolah,” tutur orang tua siswa ini.

Melalui metode hipnoterapi, muncul fakta di pikiran bawah sadar bahwa rasa takut ke sekolah disebabkan oleh kejadian dibentak oleh guru olahraga. Seperti biasa, di sekolah sehari penuh ini, di antaranya diisi waktu dengan olahraga. Nahas, klien ini lupa membawa training olahraga. Walhasil, siswa ini dibentak oleh sang guru yang memang dikenal tegas.

Bagi murid lain, mungkin bentakan itu dianggap biasa. Namun bagi siswa ini, dia merasa harga dirinya hancur dan dipermalukan di depan teman-temannya.

Tentu masih ada beberapa kasus lain yang terkait sekolah satu hari penuh ini. Namun poin pentingnya adalah, jika sistem ini benar-benar diberlakukan, sekolah harus benar-benar siap menjadi rumah kedua, bahkan rumah utama bagi anak-anak dalam proses tumbuh kembangnya. Sudahkah para guru dan pengasuh di sekolah mempersiapkan diri sebagai orang tua yang bijak bagi para murid selama satu hari penuh?

Demikian pula orang tua, harus memahami dan menyadari beban pendidikan yang sudah diterima anak-anak. Fakta yang pernah saya dapatkan di ruang terapi adalah, anak-anak merasa stress. Setelah satu hari full sekolah, eh malam harinya masih ada beban les ini dan itu, kursus ini dan itu. Inilah yang bagi sebagian siswa jadi masalah. Mungkin, ada yang tahan, namun nyatanya tak sedikit pula yang membuat pikiran bawah sadar anak menjadi ‘korslet’.

Selain itu, orang tua juga harus menyadari tetap wajib mengisi baterai kasih sayang anak, ketika sudah berada di rumah. Manfaatkan momen kebersamaan keluarga dengan lebih berkualitas. Jangan sampai anak yang sudah satu hari penuh terpisah dari orang tua, sampai rumah pun orang tua tidak ada interaksi dengan anak-anaknya. Sibuk masing-masing. Akibatnya, anak jadi merasa dekat di mata namun jauh di hati.

Sekali lagi, saya sangat mengapresiasi rencana pemerintah menerapkan sekolah satu hari penuh. Namun harapannya, pemerintah harus mempersiapkan segalanya, dari “A” sampai “Z”, berikut semua tanda bacanya, sehingga semua siap dan tidak ada yang tertinggal.

Bagaimana menurut Anda? (*)


Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...