BREAKING NEWS

Saturday, August 13, 2016

Stress dengan Matematika? Anak Ini Akhirnya Mengalami...



Dalam setiap kesempatan sharing di event seminar, diskusi, hingga temuan di ruang terapi, masalah pendidikan anak memang menarik menjadi bahan pembicaraan. Tak sedikit anak-anak yang punya masalah di sekolah, baik sekolah reguler negeri maupun swasta, maupun sekolah sehari penuh (full day school) hingga boarding school seperti tinggal di asrama maupun pondok pesantren.

Saya pernah menjumpai anak-anak yang tertekan karena begitu banyak agenda yang harus dilakoni sehari penuh, dari bangun pagi sampai beranjak tidur lagi. Sementara orang tuanya begitu bangga karena anaknya benar-benar disiplin dan sudah diatur jadwal hariannya.


Dari mulai bangun pagi, semua sudah diatur menit per menit, apa saja yang harus dilakukan. Begitu juga saat pulang sekolah, semua sudah ada jadwalnya. Sang orang tua tidak menyadari dia sedang membentuk sebuah robot bernyawa. Orang tua ini ingin anaknya menguasai semua hal. Nilai untuk semua pelajaran harus sempurna.

“Saya ngga tahu nanti mau jadi apa. Mungkin mama kepengen aku jadi kalkulator. Bisa menjawab semua soal hitungan dengan cepat. Mama selalu membanggakan aku karena bisa menghitung cepat, di depan teman-teman arisannya,” sebut bocah yang sekolah di salah satu SMP favorit di Kaltim ini, saat berbincang di sesi konsultasi awal.

Lantas, kenapa anak ini sampai di bawa ke tempat praktik saya? Ternyata, sudah hampir dua bulan si anak tidak mau masuk sekolah. Mendengar kata-kata ‘sekolah’, dia langsung tertekan. Tatapan matanya kosong, lebih banyak tidur dan fisiknya sangat lemah.

Sang ibu panik. Sudah dibawa ke beberapa psikolog dan psikiater. Bahkan sempat dirukiyah karena khawatir terkena gangguan jin. Si anak manut saja dibawa orang tuanya kesana-kemari, bahkan hingga ke beberapa kota di Pulau Jawa untuk berobat dengan ‘orang pintar’.

“Ini kalau sampai ngga bisa juga diterapi, mau saya carikan psikiater di Singapura,” tutur si ibu kepada saya. Pendek kata, dia siap melakukan apa saja, siap keluar biaya berapa saja, yang penting anaknya kembali normal dan kembali menjadi sang juara kelas.

“Bagaimana kalau ibu yang lebih dulu menjalan sesi terapi?” kata saya, usai ibu ini  memberikan penjelasan.

“Kenapa saya yang diterapi? Yang bermasalah anak saya. Kok malah saya yang harus diterapi,” ucapnya dengan nada sedikit kurang nyaman. Saya hanya menyampaikan, ada baiknya sebelum anaknya yang diterapi, ibunya juga perlu menjalani sesi ini agar lebih nyaman.

“Kalau ibu tidak mau ya ngga apa-apa. Tapi saya belum mau juga melakukan terapi pada anak ibu,” ucap saya.

Kesal, ibu ini segera membawa anaknya pulang. Batal menjalani sesi terapi. Tapi dua minggu kemudian, si ibu melemah. Dia mengirimkan pesan pendek, bersedia menjalani sesi terapi dan meminta jadwal.

Dugaan saya tidak meleset. Apa yang terjadi pada anaknya, akibat dari sikap ibunya yang over demanding alias menuntut anaknya selalu sempurna. Melalui penelusuran di pikiran bawah sadar, ditemukan fakta bahwa ibu ini ketika masih sekolah lemah dalam pelajaran matematika.

Saat usia kelas 5 sekolah dasar, ibu ini dihukum di depan kelas karena tidak bisa mengerjakan satu soal, yang menurut gurunya sangat mudah. Padahal, mudah bagi gurunya, belum tentu mudah bagi sang murid.

Sakit hati atas perlakuan sang guru, membentuk pola pikir baru pada sang ibu, bahwa seseorang harus pandai matematika agar tidak dihukum. Hal inilah yang kemudian diterapkan pada anaknya. Anak semata wayangnya itu harus menjalani les cara menghitung cepat tiga kali dalam seminggu. Belum lagi les lainnya yang cukup menyita energi.

Pola pikir matematika adalah segalanya, sudah membuat ibu ini menuntut kesempurnaan pada anaknya. Dia akan panik dan marah besar jika nilai matematika anaknya di bawah 9.

Dengan teknik yang tepat, saya lakukan restrukturisasi di pikiran bawah sadar sang ibu. Tidak hanya restrukturisasi, penanaman pemahaman yang baru soal pendidikan juga ditanamkan untuk membentuk pola pikir yang lebih baik.

Hasilnya, sang ibu merasa nyaman dan plong. Beban ‘bodoh matematika’ yang sudah terbawa sejak kecil, berhasil dilepaskan.

Lalu, bagaimana dengan anaknya? Apa perlu diterapi? Sama sekali tidak. Sepulang dari proses terapi, sang ibu saya berikan tugas untuk meminta maaf pada sang anak. Ibu ini juga saya beri ‘PR’ untuk menjadi pendengar yang baik, mendengarkan semua keluhan dan apa yang diinginkan anak.

“Ternyata anak saya memang tidak suka matematika. Dia memang bisa, tapi tidak menjiwai. Dia mau menjalani hanya karena tidak ingin saya marah, hanya ingin menyenangkan ibunya,” jelas sang ibu, seminggu kemudian selepas sesi terapi.

Saat sesi permintaan maaf pada anaknya, sang buah hati menyampaikan bahwa dia lebih suka pelajaran bahasa Inggris. Si anak bercita-cita menjadi duta besar, dan ingin keliling dunia. “Itu kan tidak harus pandai matematika ya pak?” ujar si ibu. Kali ini dengan nada sedikit tertawa. Lalu, apakah si anak mau sekolah?

“Sudah pak, sudah saya pindahkan ke sekolah lain, sesuai keinginannya. Anaknya sudah mau sekolah. Ya ngga apa-apa ketinggalan pelajaran, yang penting mau sekolah. Tapi anaknya sendiri yang janji bisa mengejar,” ucapnya.

Pembaca yang budiman. Begitu banyak hikmah yang bisa dipetik dari kisah ini. Sukses tidaknya seseorang, tidak ditentukan oleh angka-angka atau nilai ujian. Coba cek kembali teman sekolah Anda masing-masing. Bagaimana hidupnya saat ini. Apakah yang dulu selalu menduduki ranking, sekarang sudah sukses? Sebaliknya, mereka yang dulu biasa-biasa saja, bahkan dianggap pembuat onar, ada yang hidupnya jauh lebih baik.     

Sikap orang tua lah yang terkadang membuat anak bermasalah. Ingat, dunia ini tidak hanya memerlukan  dokter atau insinyur. Ada begitu banyak profesi yang menjanjikan dan memiliki masa depan yang juga sangat cerah. Apa jadinya jika dunia ini hanya diisi pegawai negeri, dokter, insinyur, pilot, polisi, atau tentara dan guru. Kita tentu tidak akan bisa tertawa lepas dan bahagia karena ternyata tidak ada yang berprofesi sebagai pelawak atau penghibur.

Betapa dunia akan sangat sunyi sepi, karena tidak ada yang bersedia menjadi musisi atau penyanyi. Akan banyak yang menganggur karena tidak ada yang bercita-cita menjadi pengusaha.

Anda pun akan sulit mencari makanan yang enak, karena tidak ada yang mau bercita-cita menjadi koki. Busana pun tidak ada yang bagus, karena tidak ada yang mau menjadi perancang busana. Termasuk, warga bumi ini tidak akan tahu kejadian apa pun karena tidak ada yang mau bercita-cita jadi wartawan. Pun tidak akan pernah ada namanya olimpiade, karena tidak ada yang mau menjadi atlet. Pendek kata, begitu banyak profesi yang juga sangat menjanjikan.

Anda boleh bangga punya anak dengan prestasi yang juara dan nilai terbaik. Tapi rasa percaya diri yang ia miliki jauh lebih penting untuk masa depannya. Jangan cintai anak dengan syarat nilai bagus. Karena cinta dan sayang tidak memerlukan syarat itu.

Bukankah rasa bahagia tidak hanya milik seseorang yang pandai matematika? Sementara kadar kebahagiaan itu sendiri tidak bisa dihitung jumlahnya, bahkan dengan rumus apa pun. Tidak bisa matematika, tidak akan membuat dunia ini kiamat! 

Bagaimana menurut Anda? (*)



Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes