Thursday, August 4, 2016

YA AMPUN, Pria Ini Sempat 10 Tahun Bergantung Obat Antidepresan

Yana Hendayana (kanan) di RM Riung Panyaungan miliknya, di Km 2 Ciherang - Bandung.


Hampir sepekan berada di Bandung – Jawa Barat untuk mengikuti event Pekan Olahraga Nasional (Porwanas) XII, akhir Juli 2016 tadi, saya berkesempatan kenal lebih dekat dengan Yana Hendayana. Beliau adalah sahabat saya, pernah sama-sama mengikuti workshop Quantum Life Transformation (QLT) di Tretes – Pasuruan – Jawa Timur.

Kenal sejak akhir 2014, selama itu pula komunikasi hanya dilakukan melalui media sosial. Itu pun tidak intens. Lebih sering basa-basi bertanya kabar, atau sesekali diskusi tentang teknologi pikiran.


Begitu mendengar saya berada di Bandung, beliau langsung mendatangi tempat saya menginap. Keesokan harinya saya bahkan langsung ‘diculik’ dibawa ke kediamannya di kawasan Jalan M Thoha Bandung. Di tempat tinggal sekaligus menjadi tempat usaha kulinernya, Djongko, saya dijamu secara spesial. Semua menu andalan dikeluarkan, dan wajib mencicipi.   

Tak hanya itu, ‘penculikan’ pun berlanjut ke kawasan Ciherang. Saya dibawa ke Rumah Makan Riung Panyaungan. Rumah makan yang ia dirikan sejak 1996 itu, suasanya sangat nyaman. Tempat makan berupa puluhan saung yang berdiri di atas lahan satu hektare itu, benar-benar membuat siapa saja betah menikmati suasananya. Sawah di sekeliling rumah makan dengan suhu udara yang cukup sejuk, membuat pengunjung semakin betah berlama-lama.

Di tempat ini pula, semua masakan andalan juga dikeluarkan. Lagi-lagi, saya wajib melakukan eksekusi terhadap semua makanan ini. Mau tidak mau, saya harus negosiasi dengan bagian diri saya yang mengatur berat badan, agar memberikan izin menyantap makanan ini. Dari mulai nasi liwet dengan cabe gendot, gurame bakar, karedok, ayam kampung goreng, ikan asin balado, daging gepuk, oseng dorokdok dengan bahan utama kerupuk kulit sapi.

Khusus nasi liwet, bagi Anda yang ingin makan di sini, sebaiknya pesan dulu. Sebab, perlu waktu 1 jam untuk membuat nasi liwet yang benar-benar membuat ketagihan. Apalagi ternyata beras yang dipakai juga hasil tanaman sendiri. Lokasi sawahnya tak jauh dari rumah makan ini.

Ada pula iga bakar, sayur lodeh, sayur asem dan lalapan pendukung lainnya. Itulah pertama kali lidah saya seolah puas berpesta karena berhasil menikmati semua makanan yang rasanya benar-benar maknyus.

Tapi siapa sangka, tiga tahun lalu, Pak Yana justru sering merasa tersiksa ketika berada di rumah makan ini. “Kadang tiba-tiba saya nangis ketika lihat banyak orang yang makan di tempat ini. Kalau sudah begitu, saya biasanya langsung minum Xanax. Habis minum obat, langsung bisa tertawa lagi,” kenang Yana sembari terus menyantap suguhan istimewa, resep warisan dari ibundanya itu. Namun efek obat itu hanya sesaat. “Nanti sembuh, ngga lama ya kambuh lagi, jadi tidak bisa permanen,” jelasnya.

Tak terasa, lebih 10 tahun pria berdarah Sunda ini harus selalu menyimpan obat antidepresan tersebut. Sebab, rasa aneh dalam dirinya tak tahu kapan akan muncul. “Kadang lihat nasi aja bisa nangis. Lihat ikan di kolam saja saya bisa nangis sendiri. Entah kenapa?” ujarnya.

Emosi labil yang tiba-tiba meledak itu jelas membuatnya bingung. Kalau sudah seperti itu, badannya kadang menggigil dan dia hanya bisa meringkuk, berusaha menghangatkan tubuhnya. Persis efek sakau yang dialami pengguna obat terlarang. Kalau sudah seperti ini, beliau praktis tidak bisa beraktivitas apa pun.

Itu pula alasan psikiater yang mendampingi dirinya, memberikan obat antidepresan, agar emosi pria ini tidak sampai membuncah semakin parah. Tak hanya psikiater. Entah sudah berapa banyak pengobatan tradisional juga dilakoni. Berbagai ‘orang pintar’ juga pernah disambangi demi mencari kesembuhan atas dirinya itu.

“Ritualnya juga macam-macam, semuanya aneh-aneh. Hasilnya ya tetap saja,” ujarnya. Jika dihitung-hitung, tak kurang dari 30-an ‘orang pintar’ yang pernah didatangi.  

Belum puas, berbagai buku juga ia borong untuk mencari jawaban atas penyakitnya. Urusan dengan Sang Pencipta, jangan ditanya. Sebagai alumnus pondok pesantren, pria ini sudah sangat khatam bagaimana cara berdoa yang tepat dan bagaimana harus memohon kepada Sang Khalik.

Namun, justru di situlah dia merasa bersyukur. “Rupanya Allah ingin saya terus belajar dan belajar,” ujarnya. Hingga suatu ketika, dia membaca buku milik Bante Karyadi, berjudul “Sembuh dengan Hipnoterapi”.

Berbagai kisah yang dimuat dalam buku itu, membuat Pak Yana juga ingin menjalani metode ini. “Saya sudah siap mau berangkat ke Medan, menemui Bante Karyadi,” ujarnya. Namun oleh Bante Karyadi, beliau disarankan tidak perlu ke Medan, tapi bisa menemui terapis sesama lulusan Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology (AWGI) yang ada di Bandung.

Pak Yana akhirnya menjalani sesi hipnoterapi dengan Adi ST, hipnoterapis AWGI yang ada di Bandung. “Saya menjalani terapi sampai 6 kali. Satu demi satu akar masalah yang membuat saya sampai mengalami gangguan kejiwaan, berhasil ditemukan dan dicabut,” urainya.

Hasil terapi benar-benar ia rasakan selama tiga tahun ini. “Hidup saya benar-benar nyaman. Dulu, kalau saya cerita tentang masa lalu saya, biasanya langsung sedih dan semakin trauma. Kalau sekarang, saya cerita ke Mas Endro, ya biasa-biasa saja,” ujarnya sembari tersenyum.

Sembari mendengarkan kisah Pak Yana, tak terasa tiga potong daging gepuk yang rasanya seperti abon, berpindah ke perut. Belum lagi ikan gurame dan iga bakar, plus ikan asin balado, semuanya berebut ingin masuk ke lambung.

Lantas, apa sebenarnya akar masalah yang membuat Pak Yana harus menjalani hidup yang tidak nyaman selama 10 tahun itu? Secara gamblang, tentu tidak patut dituliskan di sini. Namun yang jelas, ada trauma masa lalu yang melekat sehingga membuat emosi beliau mudah terguncang. Bahkan, trauma itu sudah ada sejak beliau masih dalam kandungan ibunya.

Pria ini merasa sangat bersyukur. Meski sempat mengalami masa-masa yang sulit, istrinya tetap setiap mendampingi bahkan ikut berperan dalam proses penyembuhannya.

Usai menjalani hipnoterapi dan bebas dari masalah emosinya, membuat Pak Yana semakin semangat mengenal dirinya sendiri. Itu pula yang menyebabkan dirinya mengikuti workshop Quantum Life Transformation, bahkan hingga. “Istri juga sudah ikut QLT, biar energinya sama-sama nyaman,” urainya.

Sebelum itu, beliau juga pernah mengaku mengikuti workshop lain bahkan hingga ke level yang paling tinggi, kelas eksklusif. Namun tetap tidak berhasil membantu mengatasi persoalan pengendalian emosinya.

Pengalaman hidupnya yang sempat mengalami guncangan emosi, membuat dirinya semakin paham akan dirinya sendiri dan mudah memberikan masukan dan saran kepada orang lain.

“Sekarang, saya jadi tahu dan paham. Mana orang yang benar-benar kesurupan, dan mana yang sebenarnya hanya stress,” tuturnya.

Tak terasa sudah hampir dua jam menyimak dan mendengerkan kisah dari Pak Yana. Kami berdua harus segera beranjak ke lokasi lain, yakni pondok pesantren yang juga pernah didirikan beliau.  

Sebelum beranjak, tak lupa, saya pamit dan bersalaman dengan ibunda Pak Yana. “Resep masakannya enak-enak bu,” ucap saya. Wanita itu berterima kasih atas kunjungan singkat itu seraya tersenyum menanggapi apa yang saya sampaikan. (*)


Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...