BREAKING NEWS

Wednesday, September 28, 2016

Anda Pernah Berbohong? Saatnya Menulis



Ada yang mengatakan menulis fiksi sangatlah sulit. Bahkan, lebih sulit dari ujian soal matematika. Tapi coba tanya para penulis fiksi. Menulis yang tidak nyata justru sangat mudah, bahkan semudah merebus mi instan. Namun, ada satu tolok ukur yang jelas dalam menulis fiksi, yakni sesuatu yang bohong. Anda pernah berbohong? Itu artinya pasti bisa menulis fiksi. Bukankah bohong adalah sesuatu yang fiksi?


Ya bohong di sini bisa diartikan bohong sesungguhnya atau bohong dalam arti luas. Maksudnya bagaimana? Misanya saya sebagai tokoh utama dalam cerita, tentu saja saya berbohong tentang profesi saya, misalnya sebagai dokter. Namun, bagaimana perilaku dokter, apa yang dikerjakan dokter, jelas tidak boleh berbohong. Sehingga, perlu observasi khusus bagaimana para dokter menjalankan tugasnya. Inilah yang kemudian menjadikan penulisan fiksi tetap tidak bisa dianggap remeh.

Namun demikian, bohong dalam artian menghayal atau berimajinasi, sangat dibutuhkan untuk membuat sebuah karya fiksi. Bebaskan diri dari kebiasaan sehari-hari, dan mulailah mengembara menjadi apa saja, kapan saja, di mana saja. Meski faktanya saya menuliskan sebuah kisah di Samarinda, tentu saja saya bebas membuat tulisan dengan setting di mana saja, bahkan hingga ke luar negeri. Namun demikian, imajinasi ini tetap diperlukan data yang akurat dan tepat. Jangan sampai tiba-tiba menuliskan Menara Miring Eifel. Jelas ini salah, jika Menara Eifel akan dijadikan sebuah setting. Namun, dalam tulisan fiksi yang lebih liar, boleh saja dituliskan Menara Eifel miring hanya karena tiba-tiba ada roket yang jatuh dan menimpa ikon kebanggaan Kota Paris ini. Namanya juga fiksi, sah-sah saja.

Menulis fiksi memang tidak mudah. Selain membutuhkan imajinasi liar, juga tetap diperlukan observasi dan pengumpulan data yang valid. Lihat saja tulisan-tulisan Tere Liye atau Andrea Hirata, meski masuk kategori fiksi, namun data dan fakta yang disuguhkan sungguh berbobot, sangat nyata.

Contoh novel Laskar Pelangi yang sangat fenomenal. Itu adalah fiksi, namun pembacanya tetap menganggap semuanya nyata. Padahal sejatinya, tidak benar-benar nyata, karena beberapa alur cerita mengalami pengubahan sesuai kaidah fiksi. Namun demikian, saking detilnya, hingga kini, tak sedikit yang meyakini bahwa Laskar Pelangi itu 100 persen nyata.

Begitu pula novel karya Dan Brown, misalnya Angel & Demond, meski fiksi, namun begitu apik dan detail dalam menggambarkan lokasi kejadian di Vatikan, Roma. Sehingga, meski fiksi, pembaca seolah-olah larut dibawa ke lokasi kejadian yang nyata.
Memilih menulis fiksi atau nonfiksi, tentu bergantung dari masing-masing minat penulis. Ada yang menganggap fiksi lebih sulit, atau sebaliknya nonfiksi bahkan dianggap jauh lebih sulit. Yang lebih penting dari semua itu adalah, mulailah menulis. Tak jadi soal fiksi atau nonfiksi, namun mulailah menuangkan kata-kata dari untaian huruf menjadi kata, kalimat, paragraf, hingga lembaran kisah atau tulisan yang layak baca.

Sebab, sejatinya hanya ada tiga syarat untuk bisa menulis. Pertama menulis, kedua menulis, dan ketiga menulis. Pendek kata, mulailah menulis. Menjadi penulis tak perlu menunggu syarat khusus. Mulailah menulis sekarang, atau Anda hanya akan menjadi pembaca selamanya. Selamat menulis. (*)  



Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes