HYPNO NEWS

Saturday, October 1, 2016

Kenapa Orang Percaya Kanjeng Dimas?



Jauh sebelum kasus dugaan pembunuhan yang dilakukan Kanjeng Dimas Taat Pribadi mencuat, saya sudah pernah melihat videonya di media sosial terkait kemampuannya menggandakan uang. Ketika melihat video itu, saya berani menyimpulkan bahwa itu hanya tipu-tipu.

Namun, saya tak mengira jika aksi tipu-tipu itu mampu menjerat lebih dari 27 ribu orang. Pengikut Padepokan Dimas Kanjeng di Desa Wangkal, Gading, Kabupaten Probolinggo Jawa Timur itu berasal dari hampir semua pulau di Indonesia. Bahkan tak tanggung-tanggung, seorang profesor yang juga cendekiawan muslim serta lulusan luar negeri, pun ikut terlibat dalam padepokan milik Kanjeng Dimas. Bahkan, tercatat sebagai ketua yayasannya.


Saya langsung teringat Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang juga mampu mendapuk Bibit Samad Riyanto, mantan wakil ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sebagai pembina gerakan yang diduga menyimpang itu. Beruntung organisasi bentukan Ahmad Moshadeq yang pernah mengaku sebagai nabi itu akhirnya dibubarkan pemerintah.

Belum lagi terkuaknya kasus AA Gatot Brajamusti yang juga dikenal sebagai guru spiritual, dengan pengikutnya sebagian besar artis. Pria yang menjabat sebagai ketua Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) ini ditangkap setelah kedapatan pesta sabu. Bahkan belakangan diduga juga ada pesta seks di padepokan yang dipimpinnya.

Fenomena guru spiritual yang pernah muncul sebelumnya adalah Eyang Subur, yang pengikutnya juga kebanyakan para artis, hingga Lia Eden yang juga terang-terangan mengaku sebagai nabi.    

Saya yakin, di luar nama-nama yang muncul di atas, masih banyak lagi orang yang dianggap guru spiritual di Indonesia ini. Padahal hingga kini belum terbukti, apakah guru itu benar-benar punya kemampuan lebih atau bisa dibilang sakti. Kalau pun sakti, biasa hanya katanya dan katanya. Kata siapa? Ya kata orang-orang. Belum ada pembuktian secara kasat mata.

Walau belum terbukti, nyatanya orang-orang yang dianggap guru spiritual ini tetap laris didatangi para pemburu pangkat dan jabatan, kekayaan, atau kepopuleran.

Lantas, kenapa ini terjadi? Kalau dibilang tidak beragama, jelas pelakunya sebagian besar beragama. Justru, simbol-simbol agama itu pula yang menjadikan aksi para guru spiritual ini efektif diterima pengikutnya tanpa penolakan sama sekali. Itu sebabnya para guru spiritual itu juga menggunakan ritual-ritual atau embel-embel agama dalam melaksanakan aksinya.

Salah satu filter penting yang tertanam di pikiran bawah sadar adalah agama atau keyakinan. Untuk mengubah agama atau keyakinan ini, sangat sulit. Kenapa? Karena persoalan agama atau keyakinan ini berada di dalam  pikiran bawah sadar, dan keberadaannya dilindungi benteng pelindung yang sangat kuat. Benteng ini disebut critical factor alias faktor kritis. Maka, untuk menembus faktor kritis pikiran bawah sadar ini, simbol agama menjadi salah satu cara yang cukup jitu.

Tampil menggunakan busana khusus yang biasanya dipakai pemuka agama, maka dengan cepat keberadaannya akan diterima serta diyakini benar-benar sebagai seorang pemuka agama. Kalau sudah seperti ini, faktor kritis akan sangat mudah ditembus.

Fenomena guru spiritual ini bahkan pernah difilmkan secara apik dan menarik, diselingi humor segar oleh industri film India. Film berjudul PK (Peekay) yang diperankan Aamir Khan itu menunjukkan betapa simbol-simbol agama benar-benar menjadi alat yang mudah untuk mempengaruhi perilaku seseorang. Saking bagusnya film ini, chairman Kaltim Post Group Zainal Muttaqin bahkan perlu mengajak para pemimpin redaksi di lingkungan Kaltim Post Group untuk nonton bareng film ini di Plaza Senayan Jakarta, tahun lalu.

Ada yang bilang, ini karena faktor ekonomi. Kemiskinan dianggap menjadi penyebab orang tidak rasional dan mudah terkena bujuk rayu. Tentu saja pendapat itu bisa dipatahkan. Faktanya, salah satu pengikut Kanjeng Dimas dari Makassar, menyetor uang tak kurang dari Rp 300 miliar. Pengikutnya itu kini sudah meninggal, sebelum mendapat apa yang dijanjikan oleh guru spiritualnya itu. Status sosial, nyatanya tidak serta merta menunjukkan tingkat kesadaran dan kematangan berpikir berpikir seseorang.

Lantas apa penyebabnya? Di kelas Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy (SECH) yang pernah saya ikuti di Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology (AWGI), saya belajar tentang ego personality (EP) alias bagian diri. Nah, setiap orang tentu memiliki banyak bagian diri di dalamnya. Boleh jadi, mereka yang mudah tergiur dengan penggandaan uang dan sejenisnya adalah seseorang yang memiliki bagian diri yang serakah. Setiap orang, pasti punya keinginan untuk memiliki sesuatu. Tapi keinginan yang berlebihan dan menjurus serakah tak terkendali inilah yang membuat orang mudah tergiur tipu daya.

Keserakahan inilah yang kemudian menyebabkan benteng pertahanan pada pikiran bawah sadar terbuka lebar. Karena pagar pembatas pikiran bawah sadar sudah terbuka, maka tidak lagi mengenal baik dan buruk, pahala dan dosa, atau surga dan neraka. Apa pun yang ditanamkan ke pikiran bawah sadar, akan diterima dan dijalankan sepenuhnya.

Itu sebabnya, jangan heran jika mereka-mereka yang serakah, tidak lagi menggunakan hati nurani. Bagian dirinya yang bijaksana dikalahkan oleh keserakahan yang terus berkuasa. Apa pun akan dilakukan, yang penting keinginannya bisa dicapai dengan mudah.

Belajar dari kasus ini, benteng paling kokoh adalah kembali berpikir rasional dilandasi keyakinan dan keimanan pada agama yang sebenar-benarnya. Disadari atau tidak, banyaknya perdebatan soal agama, adanya kelompok yang saling klaim bahwa kelompok mereka paling benar, justru membuat keyakinan dan keimanan seseorang terganggu. Jika ini terus terjadi, maka ini menjadi celah munculnya guru-guru spiritual baru, yang akan memanfaatkan situasi tersebut. Maka lihat saja nanti, akan ada Kanjeng Dimas lainnya yang juga akan muncul dengan versi lain dan tipu daya yang berbeda. Demikianlah kenyataannya. (*)






Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes