Monday, September 19, 2016

Setelah Tax Amnesty, Jangan Lupa Lakukan Hatter Amnesty


Sejak aktif menulis, sejak itu pula saya semakin banyak berinteraksi dengan beragam sikap manusia. Ada yang biasa saja, santun, simpatik, lebay, over acting, hingga masuk kategori hatter alias pembenci.

Syahdan, isi kepala setiap orang berbeda-beda. Apa yang ada di dalam pikiran saya, tentu berbeda dengan pikiran para pembaca tulisan saya. Maka, jelas saya tidak berhak memaksakan isi pikiran saya agar diikuti orang lain. 


Sebaliknya, orang lain pun tidak berhak memaksakan cara berpikirnya kepada saya. Kenapa, karena masing-masing orang punya pagar pelindung pada pikirannya masing-masing, yang tidak mudah ditembus. Itulah kenapa, ketika memiliki hatter alias pembenci, sampai kapan pun jangan pernah bermimpi untuk berharap dia berbalik arah menyukai. Itu sama saja dengan mendirikan benang basah, atau mencari jarum pentul dalam tumpukan jerami.

Pola pikir saya, boleh jadi bisa salah. Karena itu, setiap kali sebelum melempar sebuah artikel, secara acak saya selalu meminta orang lain untuk membaca terlebih dahulu. Meminta bantuan orang lain untuk melakukan ‘scanning’ awal ini sangat penting, setidaknya untuk menghindari dampak buruk.

Jujur, saya juga pernah jadi korban bully yaitu ketika salah satu tulisan saya di Kompasiana, ternyata lebih banyak yang tidak setuju atau kontra. Inilah pentingnya keberadaan seorang hatter, sebagai pengingat bahwa pola pikir saya salah. Tak usah pusing, tinggal delete saja tulisan itu. Saya memang sengaja memunculkan tulisan itu karena ingin tahu reaksi yang timbul setelahnya.

Sebaliknya, jika pembenci hanya satu atau dua, sementara yang sepaham dengan cara berpikir yang ditawarkan lebih banyak, maka santai saja. Inilah pentingnya melakukan hatter amnesty, alias ampuni saja para pembenci itu. Sebab, sampai kapan pun, tidak akan bisa memaksa orang lain mengikuti pola pikir yang kita suguhkan.

Hampir setiap nabi memiliki hatter, apalagi saya yang hanya seorang manusia biasa. Sebagai manusia biasa, saya jelas-jelas punya banyak kesalahan dan terus berusaha menjadi pembelajar terus-menerus.

Uniknya adalah, jelas-jelas hatter ini kontra dengan setiap pendapat yang dimunculkan, tapi kok ya masih mau mengikuti atau membaca apa yang disajikan. Saya hanya menduga, jangan-jangan ketika apa yang disampaikan benar, maka hatter diam saja, seolah-olah tidak pernah membacanya. Namun begitu ada celah untuk membenci, maka seketika dilakukan. Padahal, jika memang tidak suka dengan apa yang disampaikan, simpel saja, stop berteman. Jangan lagi berteman atau menjadi followernya. Tapi ya lagi-lagi, ampuni saja para pembenci itu, karena boleh jadi itulah hiburan terbaik bagi mereka. Mungkin, kalau tidak mencela orang lain, bisa jadi kepalanya pusing dan tidak bisa tidur nyenyak.

Berbuat hal positif kemudian dibenci, masih jauh lebih baik ketimbang tidak melakukan apa-apa, tapi hanya sibuk mencela karya orang lain. Mari gunakan kecerdasan yang dimiliki untuk membangun negeri ini, diawali dengan membangun di lingkungan yang paling kecil terlebih dahulu.

Sekali lagi, saya bukanlah seseorang yang tidak luput dari salah dan khilaf. Karena itu, untuk para hatter, ampuni saya jika apa yang saya sampaikan tidak berkenan di hati Anda. Namun yang pasti, hal itu tidak akan menghentikan langkah saya untuk terus berkarya dan berkarya, sesuai bidang yang saya tekuni.

Demikianlah kenyataannya. (*)  




Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...