Sunday, September 18, 2016

“Waktunya Kurang Pak”



Sabtu (17/9) pagi tadi, saya mendapat kesempatan mengisi Seminar Parenting, Cara Mendidik Anak yang Efektif, Hypnotherapy for Children. Seminar ini khusus diberikan untuk para orang tua atau wali murid kelas 1 SD Islam Al Hikmah Jalan Tanjung Jone Samarinda Seberang. Tentu, tak semua orang tua atau wali murid hadir. Kenapa? Ya sudah menjadi kebiasaan acara di sekolah, tidak semua orang tua memiliki waktu untuk menghadiri. Boleh jadi sedang sibuk, atau ada pekerjaan lain yang tidak bisa ditunda.


Karena itu, Kepala SD Islam Al Hikmah menyampaikan, ada dua hal yang patut disyukuri oleh para orang tua yang bisa hadir, yakni memiliki kesehatan dan kesempatan. Sebab, dalam kondisi sehat pun, belum tentu punya kesempatan untuk hadir. Sebaliknya, boleh jadi ada kesempatan, namun kesehatannya kurang mendukung.


Sementara Ketua Yayasan Al Hikmah Yan Purba menyampaikan, sengaja menggelar acara ini karena dalam mendidik anak, tiga komponen harus saling mendukung, yakni sekolah, siswa, dan orang tua. Dihadirkannya orang tua dalam kegiatan ini tentu sangat penting karena faktanya anak-anak lebih banyak berada di rumah ketimbang di sekolah.

Ia juga berharap, agar terjalin komunikasi yang efektif antara orang tua dan pihak sekolah, demi kelangsungan pendidikan anak. “Mudah-mudahan bisa sama-sama membuat pondasi pendidikan terbaik untuk anak-anak, mengingat sekarang kenakalan anak tidak hanya terjadi di usia remaja, tapi bahkan sudah usia SD dan SMP,” tutur Yan Purba.

Saya sendiri, mau tidak mau menyampaikan materi dengan sedikit ‘ngebut’. Maklum, durasi waktu yang diberikan memang menyesuaikan dengan kepulangan anak murid kelas 1. Sabtu pagi para murid kelas 1 pulang lebih awal, pukul 9.30 Wita. Praktis kurang dari dua jam waktu yang saya gunakan untuk menyampaikan materi. Namun yang penting, poin utama sempat tersampaikan. Apa itu? Apalagi kalau bukan teori tangki kasih sayang dengan lima bahasa cinta.

Para orang tua siswa terlihat sangat antusias, bahkan mengakui selama ini tidak sengaja mengabaikan bagaimana mengisi tangki kasih sayang anak. “Terima kasih pak, sudah diingatkan lagi. Kelihatannya sepele, ternyata itu sangat penting,” ucap salah satu orang tua usai seminar.

Selain teori tentang bagaimana mengisi tangki kasih sayang anak, saya juga banyak memberikan contoh kasus yang pernah saya temui di ruang praktik. Faktanya, sebagian besar masalah terjadi pada masa anak-anak, meski klien ketika datang sudah sangat dewasa. Berdasarkan pengalaman itu, saya menyampaikan kepada para orang tua siswa agar tidak mengulangi kesalahan tersebut. Bukankah pengalaman memang guru yang terbaik, tapi pengalaman orang lain adalah guru yang lebih baik lagi. Sebab, kalau belajar dari pengalaman orang lain, praktis tidak perlu harus mengalami masalah itu terlebih dahulu.

Di akhir seminar, tak lupa saya memberikan beberapa teknik simpel yang bisa dipraktikkan di rumah. Seandainya waktu mencukupi, tentu saya bisa memberikan contoh atau demo. Namun, pihak sekolah menyampaikan, berikutnya akan dialokasikan waktu lebih lama lagi agar orang tua bisa mendapat kesempatan lebih banyak untuk belajar.

Usai acara seminar, beberapa orang tua menyampaikan beberapa pertanyaan, dan terjadi diskusi singkat. Beberapa yang lain bahkan merasa belum puas. “Waktunya kurang pak,” ucap salah satu orang tua. Bahkan beberapa orang tua meminta agar saya meluangkan waktu untuk sharing dan diskusi lagi di lain waktu. Dengan senang hati, tentu saya siap meluangkan waktu, asalkan memang di luar jam kerja kantor atau agenda lain.

Saya pribadi, juga belum sempurna dalam mendidik anak. Namun, terus belajar dan belajar adalah cara terbaik agar hasilnya maksimal untuk buah hati. Bukankah memang tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua. Universitas kehidupan justru memberikan banyak pelajaran berharga. Saya sendiri beruntung dan bersyukur, dari ruang praktik hipnoterapi yang saya lakukan, banyak memberikan pelajaran penting dan bisa diambil hikmahnya.  


Demikianlah kenyataannya. (*) 

Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...