HYPNO NEWS

Monday, October 10, 2016

Lelah 27 Jam Perjalanan Itu Tak Lagi Terasa



Minggu (9/10) tadi, saya mendapat undangan untuk mengisi Seminar Pengembangan Diri Berbasis Teknologi Pikiran ‘Quantum Life Transformation’, di Kota Tanjung, Kabupaten Tabalong – Kalimantan Selatan. Awalnya, agak ragu menerima undangan ini, mengingat kota ini jaraknya terbilang nanggung. Terlihat dekat, tapi nyatanya jarak tempuhnya sedikit sulit. Dianggap jauh, faktanya masih satu pulau, sama-sama di Kalimantan.


Namun, melihat semangat kawan-kawan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Tabalong, terutama penggagas seminar ini, Lyanta Laras Putri yang kemudian menjadi ketua panitia, saya pun luluh.

Sempat agak ragu. Moda transportasi apa yang digunakan untuk menjangkau kabupaten yang berbatasan dengan Kabupaten Paser, Kaltim ini. Ingin bawa mobil sendiri, nyatanya si roda empat yang selama ini setia menemani, masih dalam perbaikan di bengkel karena mengalami insiden beberapa waktu lalu. Ingin naik bus umum, dipastikan sampai di Tanjung tengah malam. Ini berarti saya tak punya banyak waktu untuk istirahat atau sekadar mempersiapkan diri. Pilihannya kemudian naik pesawat udara dari Balikpapan ke Banjarmasin (Banjarbaru).

Sebenarnya naik pesawat ini pun tidaklah dekat. Dari Samarinda, saya keluar rumah pukul 03.00 Wita dini hari menuju Bandara Sepinggan Balikpapan menggunakan travel. Selanjutnya, ikut penerbangan paling pertama ke Banjarmasin, pukul 07.15 Wita. Sampai di Banjarbaru, pukul 09.30. Dari kota ini, saya harus menumpang kendaraan travel lagi ke Tanjung. Tepat pukul 11.30 mobil travel Avanza yang ditumpangi mulai bergerak ke Tanjung, yang sebenarnya kembali ke arah Kaltim.

Beberapa kota dilalui dari mulai Martapura, Barabai, Kandangan, Rantau, hingga Tanjung. Mobil yang saya tumpangi sempat singgah sebentar di Warung Pinang dengan sajian Soto Banjar yang khas dan rasanya ciamik. Tepat pukul 18.00 Wita, akhirnya saya tiba Hotel Aston Tanjung. Ini satu-satunya hotel bintang tiga yang ada di kota ini. Itu berarti, dihitung dari mulai keluar rumah, total 15 jam saya harus berada di perjalanan.



Istirahat sejenak, malam harinya saya diajak makan malam bersama kawan-kawan panitia. Hujan tampaknya merata di seluruh Kalimantan, termasuk Tanjung. Sebab sejak saya beranjak dari Samarinda juga sepanjang perjalanan hujan terus mengguyur. Saya sempat diajak kawan-kawan untuk keliling Kota Tanjung ini. Apa daya, keindahan kota di malam Minggu itu terhalang guyuran hujan.

Café Pinochio menjadi tempat makan malam. Menunya beragam, perpaduan masakan Asia dan Eropa. Untuk menghangatkan badan saya memilih Kwetiau Ayam Lada Hitam. Begitu makanannya keluar, ternyata cara penyajiannya unik sekali. Piringnya menggunakan sebuah wajan kecil. 



Rasanya juga bikin ketagihan. Suasana dingin itu pun menjadi cukup hangat dengan obrolan ringan yang langsung akrab. Padahal, baru kali ini mengenal kawan-kawan panitia ini.


Sebelum beranjak untuk istirahat, sejenak meninjau lokasi acara. Pendopo Tanjung Bersinar yang menjadi satu dengan komplek Rumah Dinas Bupati Tabalong itu bangunannya khas dengan atap sangat tinggi. Bangunan khas rumah adat Kalsel yang disebut Baanjung ini cukup luas, dan menjadi lokasi utama acara-acara pemerintahan. Di depannya juga terdapat lapangan yang cukup untuk peringatan atau upacara hari besar tertentu. Selebihnya, kawasan ini sangat bersih dan nyaman dipandang.


Pagi harinya, hujan kembali mengguyur kota yang penghidupan utamanya dari tambang batubara PKP2B yang dikuasai PT Adaro ini. “Pak, pagi ini perasaan saya berbeda. Walaupun hujan, saya merasa biasa saja, ngga khawatir. Tidak hujan pun, kalau orang ngga mau hadir, ya tidak akan hadir kan pak?” pesan sang ketua panitia masuk ke ponsel saya. Rupanya diskusi saat makan malam tentang pola pikir sudah merasuk ke pikiran bawah sadarnya.


Nyatanya benar. Meski hujan, peserta seminar tetap datang dan antusias. Apalagi, menurut saya ini seminar yang sangat murah. Panitia hanya mematok kontribusi peserta Rp 30 ribu. Itu sudah termasuk dua kali makanan ringan, serta satu kali makan berat. Ditambah dengan seminar kit, plus balon gas yang digunakan untuk melepas impian. Rupanya, panitia lebih banyak mendapat dukungan dari sponsor. Itu terlihat dari banyaknya logo sponsor di backdrop seminar yang terpasang di depan panggung.


Begitu slide presentasi mulai dipaparkan, antusiasme peserta semakin terlihat. Apalagi, menurut pihak panitia, seminar berbasis terapi seperti ini, memang belum pernah digelar di Tanjung. Tak heran jika peserta pun datang dari daerah tetangga, seperti Amuntai yang jaraknya hampir 50 kilometer. Tak hanya pelajar dan mahasiswa, pegawai negeri dan beberapa pekerja swasta menjadi satu menyimak materi ini.



Beberapa teknik pun diberikan dan diajarkan agar bisa dipraktikkan oleh peserta sendiri nantinya. Sebagai contoh, seorang ibu yang takut dengan cicak, dibantu untuk mengatasi fobianya. Hasilnya, dengan sekali membaca skrip yang diberikan, level ketakutannya langsung turun di angka nol. Dia pun merasa berani dan badannya terasa hangat. “Biasanya badan saya langsung dingin dan ketakutan mendengar kata cicak,” katanya. Begitu juga peserta yang takut dengan kucing, juga dibantu dengan mudah untuk mengatasi rasa takut itu.



Makin penasaran dengan kekuatan pikiran, peserta pun saya ajak untuk merasakan kekuatan sugesti. Dari mulai jari lengket, hingga peserta yang namanya hilang dan tidak mampu lagi menyebutkan namanya sendiri. Saya juga memperlihatkan fenomena seseorang yang sedang dalam kondisi hypnosis. Seorang peserta, dengan induksi cepat, langsung saya bawa ke kedalaman pikiran bawah sadar. Tangannya langsung kaku (katarsis). Tak hanya itu, dengan sugesti pula, dia mampu melihat artis pujaannya Nike Ardilla. Saat buka mata, dengan yakin dia menunjuk peserta lain di hadapannya sebagai Nike Ardilla.



Usai sesi istirahat, peserta juga diajak untuk merasakan relaksasi pikiran. Meski hanya 17 menit, peserta mengaku merasa nyaman dan segar, seperti baru bangun tidur yang cukup panjang. Saat relaksasi inilah, peserta juga dipandu untuk membuang semua perasaan tidak nyaman, serta hal-hal negatif dalam dirinya. Inilah yang membuat peserta merasa sangat lega dan plong.



Usai relaksasi inilah, peserta kemudian dibimbing untuk menuliskan impiannya yang personal dan bermakna, yang nantinya diterbangkan dengan balon gas.



Wajah-wajah yang semangat dan antusias terlihat ketika proses pelepasan balon. Tak ketinggalan, saya pun menulis beberapa impian jangka pendek yang ikut saya terbangkan.


Cuaca yang sudah cerah sore itu, sangat mendukung dengan dengan cepat, balon gas yang dilepas puluhan peserta seminar itu terbang tinggi, setinggi harapan dan impian semua peserta.


Lelah selama perjalanan, tak lagi terasa melihat wajah-wajah peserta seminar yang memiliki pola pikir berbeda dari sebelumnya. Semoga saja antusiasme itu terus terjaga dan semua impian yang sudah diterbangkan bisa terealisasi, tentunya dengan izin Sang Maha Pencipta.




Seminar usai, saya masih harus melayani beberapa pertanyaan hingga diskusi ringan dan foto bersama beberapa peserta dan panitia. Menjelang senja, saya pun kembali ke hotel, membersihkan tubuh, dan bersiap meninggalkan hotel.


Ya, perjalanan panjang kembali ke Samarinda harus dilalui lagi. Namun, sebelum itu, saya diajak santap kuliner khas Tabalong yakni Paliat di Rumah Makan Paliat, tak jauh dari terminal kota ini. Paliat ini berasal dari kata ‘kelapa’ dan ‘liat’ alias lekat atau kental. Bisa dibayangkan, masakan ini kuahnya berupa santan yang sangat kental. Namun, diyakini mengandung kolesterol rendah karena proses masaknya dipadukan dengan limau kuit alias jeruk protol. Selain itu, ada juga unsur kunyit yang cukup terasa.


“Belum ke Tabalong sebelum makan paliat,” ucap Reynaldi, ketua KNPI Tabalong yang menjamu saya. Ternyata benar, sebuah udang galah yang cukup besar, rasanya benar-benar nendang dengan kuah paliat dan sambalnya yang sedikit asam.


Usai makan malam, menunggu waktu sebelum dijemput kendaraan travel, saya dibawa ke lokasi Masjid Islamic Centre. Masjid seharga Rp 51 miliar yang pembangunannya murni bantuan perusahaan tambang setempat PT Adaro ini bangunannya unik dan futuristic. Bangunan dengan atap kubah terbalik, sekilas menyerupai stasiun luar angka di film Star Trek.


Minggu (9/10) malam saya akhirnya benar-benar meninggalkan Tanjung menuju Bandara Sjamsudin Noor Banjarbaru. Tepat pukul 23.00 Wita, mobil travel menjemput. Sebuah keluarga baru, kawan-kawan pemuda Tanjung melepas dengan lambaian tangan seiring bergeraknya mobil Toyota Hiace yang saya tumpangi.

Jalanan yang lurus dan mulus, membuat mobil ini melaju rata-rata 100 km per jam. Sempat istirahat sejenak di Kandangan untuk makan, mobil travel ini akhirnya tiba di Banjarbaru pukul 04.00 Wita dini hari. Meski baru pukul 04.00 Wita dini hari, kesibukan di bandara ini sudah sangat terasa. Banyak penerbangan mulai pukul 06.00 Wita, termasuk Wings Air yang saya tumpangi ke Balikpapan. Tepat pukul 06.15 Wita pesawat bertolak ke Balikpapan dan sudah sampai di Balikpapan 07.30.

Perjalanan pun berlanjut pulang ke Samarinda, dan sampai rumah pukul 11.00 Wita. Praktis 12 jam waktu diperlukan dari Tanjung menuju Samarinda. Total 27 jam yang diperlukan untuk ke Tanjung dan kembali ke Samarinda. Sangat lelah, namun sungguh kelelahan itu tak lagi terasa, berganti perasaan yang membahagiakan karena semangat panitia dan semua peserta seminar.

Semoga materi yang diberikan bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan mampu membawa perubahan ke arah lebih baik. Sebab, sukses bukanlah tujuan. Sukses adalah perjalanan, dan nikmati saja perjalanannya dengan nyaman dan menyenangkan.



Demikianlah kenyataannya. (*)


    


   



Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes