Thursday, October 6, 2016

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar



Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidupan anak-anak dan remaja saat ini? Saat itu saya sedang berada di rumah seorang kawan. Kawan ini mengajak saya sharing tentang teknologi pikiran, terutama mengenai hipnoterapi. Saya pun banyak bercerita tentang kasus-kasus yang sudah pernah saya tangani.

Dari mulai masalah fobia, trauma, hingga perilaku yang dianggap menyimpang. Saya ceritakan semua kasus secara gamblang, tentu dengan merahasiakan identitas pelakunya. Saya hanya mengisahkan kasusnya saja dan cara penanganan yang dilakukan.


Saya bercerita ini di teras rumahnya. Ternyata, diam-diam ada yang menguping pembicaraan saya dan kawan saya ini. Ya, anak tetangga kawan saya ini mendengar semua pembicaraan. Ini saya ketahui setelah dua hari kemudian.

“Om, saya yang tinggal di sebelah rumahnya om… (menyebut nama kawan saya). Saya mau tanya boleh kah om,” demikian bunyi pesan pendek yang masuk itu. Ya, bocah SMP sebut saja namanya Budi itu, sengaja melacak informasi tentang saya dan mendapat nomor telepon saya melalui media sosial.

“Saya awalnya cuma tanya, om namanya siapa. Akhirnya saya cari di internet,” kata Budi, pelajar salah satu SMP di Samarinda ini.

Budi akhirnya dengan gamblang menceritakan, dirinya punya perasaan suka berlebihan terhadap sesama jenis. “Kalau sama cewek biasa aja om,” katanya. Mendengar saya cerita pernah membantu klien gay yang kembali normal, makanya Budi pun penasaran. “Saya mau sembuh om,” ucapnya.

Namun, dengan terang-terangan, dia tidak mampu membayar jasa terapi. Sebagai pelajar, uangnya tak seberapa dan bergantung pada orang tuanya. “Kalau saya minta bapak, pasti tanya untuk apa. Nanti saya takut ketahuan om,” bebernya.

Karena niatnya untuk kembali normal sangat kuat, saya pun menyanggupi membantu dia. Sesuai waktu yang sudah disepakati, dia pun datang ke tempat saya untuk proses terapi.

Saya berikan penjelasan singkat di awal mengenai proses terapi yang akan berlangsung. Budi manut saja. Dia sudah benar-benar pasrah karena benar-benar tidak nyaman dan khawatir ketahuan orang lain.

Dengan mudah, Budi saya bimbing masuk kondisi relaksasi yang dalam dan menyenangkan. Di kedalaman pikiran bawah sadar yang presisi inilah, ditemukan akar masalah kenapa Budi sampai mengalami perasaan suka terhadap sesama jenis. Saat itu Budi berusia 5 tahun. Dia diajak temannya yang lebih tua usianya, untuk bermain di rumahnya. Saat itulah, si Budi mengalami pelecehan seksual. Dia disodomi oleh tetangganya sendiri. Inilah akar masalah yang menjadi penyebab semuanya.

Dengan teknik khusus, saya pun membimbing Budi untuk melakukan restrukturisasi terhadap pikiran bawah sadarnya. Akar masalah ini dicabut dan semua emosinya dinetralisir. Hasilnya, Budi merasa lega dan plong.

Ketika dikembalikan dari posisi kedalaman pikiran bawah sadar, Budi mengaku nyaman dan plong. “Kepala dan badan rasanya ringan om. Padahal tadi sakit rasanya. Agak pusing,” ujarnya. Saya pun memperlihat beberapa foto laki-laki di HP, yang sebelum terapi tadi, dia merasa tertarik. Ternyata usai terapi, dia merasa biasa saja melihat foto laki-laki itu.

Tadi siang, dia memberikan kabar melalui pesan pendek, bahwa dia semakin nyaman. Dia pun meminta tolong kembali, beberapa kawannya yang masih mengalami masalah sama, agar dilakukan terapi juga.

“Silakan saja, kasih saja nomor om ke temanmu itu,” pesan saya.

Apa yang terjadi di atas, bukanlah pepesan kosong. Sebelumnya, saya memang sempat bertemu Adji Suwignyo, ketua harian, Komisi Pelindungan Anak Indonesia Daerah Kaltim. Dia mendapati kasus 15 anak SMP yang mengalami perilaku penyimpangan seksual yang dikeluarkan dari sekolah.

Pria itu yakin, ini adalah fenomena gunung es. Yang ketahuan sedikit, tapi sejatinya masih ada lagi yang lain, belum terdeteksi.

Karena itu, para orang tua harus waspada. Jangan hanya panik ketika anak bermain dengan lawan jenis, namun patut diajak diskusi dari hati ke hati ketika anak juga bergaul dengan rekannya sesama laki-laki.

Demikianlah kenyataannya. (*)
  



Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...