BREAKING NEWS

Tuesday, November 1, 2016

Asam Lambung Berlebih, Ternyata Wanita Ini ….



Sudah hampir beberapa pekan, belum sempat sharing soal kasus di ruang terapi. Maklum, aktivitas di kantor membuat waktu menulis kisah terapi sangat terbatas. Alhamdulillah, bisa menuliskan kembali kisah dari ruang terapi, yang sebenarnya sudah berlangsung bulan lalu.

Mawar, bukan nama sebenarnya, ketika itu datang atas rekomendasi salah satu sahabatnya. Dia sudah beberapa kali berobat ke dokter, namun sakit asam lambungnya tak kunjung sembuh.

“Paling hanya stabil sebentar, habis itu kambuh lagi. Akhirnya ya ke dokter lagi, minum obat lagi,” ujar Mawar.


Kalau sudah kambuh, semangat kerjanya jauh berkurang. Dia hanya bisa berbaring di ranjang dan malas melakukan apa pun. Bahkan untuk sekadar minum pun, malas dan tak ingin berbuat apa-apa. “Teman saya menyarankan hipnoterapi, karena katanya pernah baca artikel soal asam lambung, yang katanya disebabkan oleh pikiran,” kata Mawar kemudian.

Penjelasan temannya itu, diaminkan oleh Mawar. Apalagi beberapa kali dokter mengingatkan dirinya agar tidak stress. “Saya sendiri ngga tahu, stress karena apa. Yang jelas, saya orangnya santai aja kok pak,” tutur wanita berusia 52 tahun ini.

Yang jelas, dari formulir yang dia isi sebelum menjalani hipnoterapi, ada perasaan kecewa, sedih, kesepian, sakit hati, dendam, dan beberapa emosi lain yang cukup intens.

Seperti biasa, saya memberikan penjelasan tentang metode hipnoterapi yang akan berlangsung. Apalagi, dia mengaku baru kali ini mengetahui dan mengenal soal hipnoterapi. Setelah merasa yakin dan mantap, Mawar kemudian bersedia menjalani sesi tersebut dengan pasrah dan yakin.

Dengan mudah, Mawar dibimbing masuk ke kondisi kedalaman pikiran yang dalam dan menyenangkan. Setelah pada kedalaman yang presisi dan tepat untuk melakukan terapi, proses analisa masalah pun dilakukan. Dengan teknik khusus, Mawar dibimbing menjangkau akar masalah yang menjadi penyebab rasa cemas berlebihan selalu muncul, sehingga menyebabkan asam lambungnya selalu berlebihan.

Ternyata, pikiran bawah sadar Mawar mendarat pada kejadian lima tahun lalu ketika mendapat tugas dari kantornya ke Bandung. Ketika itu, perusahaan tempatnya bekerja, menugaskan dirinya untuk mengikuti pelatihan khusus selama sepekan.

Selama pelatihan itulah, ada pria yang sepuluh tahun lebih muda dari dirinya, selalu bersedia diminta menemaninya sekadar belanja atau jalan-jalan. Di awal, Mawar mengaku tidak ada perasaan khusus. Hingga akhirnya, ketika sedang makan bersama, pria tersebut sempat menyuapkan sesendok makanan ke Mawar. 

“Dia menyuruh saya mencoba makanan khas Bandung. Saya ngga suka, tapi dipaksa dia untuk mencoba,” tutur Mawar.

Saat itulah, Mawar mulai merasakan ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Sejak itulah, Mawar mengaku suka memikirkan pria tersebut, hingga akhirnya sering berkirim kabar dan pesan.

Hingga suatu saat, pesan pendek yang dikirimkan pemuda itu terbaca oleh suaminya. Mawar berhasil meyakinkan tidak ada apa-apa, dan suaminya pun percaya. Namun sejak kejadian itu, Mawar selalu cemas dan was-was. Hal itulah yang menyebabkan produksi asam lambungnya selalu berlebihan.

Atas persetujuan Mawar, saya pun membimbingnya untuk menetralisir perasaan dengan pria tersebut. Dengan teknik tertentu, memori terkait kejadian tersebut pun direkonstruksi. Hasilnya, Mawar mengaku lega dan nyaman.

Pengecekan akhir terapi dilakukan, klien tetap merasa nyaman dan bahagia. Bahkan dia merasakan sensasi di tubuhnya sangat nyaman dan ringan. Usai terapi, Mawar berkali-kali menyampaikan terima kasihnya karena merasa hilang semua beban di kepalanya.

“Terima kasih pak, saya sekarang jauh lebih bersemangat lagi. Lebih nyaman menjalani hidup, dan sudah ngga pernah ke dokter lagi,” ucapnya ketika menghubungi saya dua minggu setelah terapi.

Demikianlah kenyataannya. (*)




Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes