Thursday, November 17, 2016

Jengkel dan Mudah Emosi dengan Suami, Ternyata Wanita Ini



Awal Oktober lalu, seorang wanita datang dengan keluhan sulit menahan amarah dan emosi. Paling utama adalah marah dan emosi dengan suaminya sendiri.

“Rasanya kalau lihat muka dia itu bawaannya pengen marah. Apa pun yang ada di depan saya, bisa saya banting ke mukanya dia,” sebut wanita usia 44 tahun ini di sesi awal konsultasi.



Ia merasa, suaminya tidak mampu memenuhi semua kebutuhannya. “Kalau disuruh kerja dan usaha, hanya bisa mengeluh dan mengeluh. Sementara hidup terus berjalan. Kebutuhan untuk anak dan rumah tangga juga terus meningkat. Suami malah santai-santai saja, ngga ada beban sama sekali,” sambungnya lagi.

Sebagai terapis, saya tak berkomentar apa pun atas keluhannya itu. Hanya menyimak dan mendengarkan semuanya sampai tuntas. Setelah menyampaikan semua keluhannya, saya pun mulai melihat formulir yang dia isi. Terlihat, hampir semua emosi skalanya cukup intens dan kuat.

Ada marah, sakit hati, terluka, dendam, merasa tidak berharga, hingga beberapa emosi lain dengan skala maksimal. Klien menegaskan ingin mengurangi amarahnya dan berharap bisa damai dengan dirinya sendiri. Sebab, akibat amarahnya yang mudah meledak itu pula, sudah satu bulan terakhir dia dan suaminya tinggal di kota berbeda.

Sebelum proses terapi, klien diberikan penjelasan mengenai apa saja yang akan dilakukan. Klien pun bersedia dan siap dibawa masuk ke kondisi relaksasi pikiran yang dalam dan menyenangkan.

Proses induksi yang dilakukan berlangsung singkat. Dengan cepat klien berada pada kedalaman pikiran yang dalam dan presisi, yakni pada posisi profound somnambulism. Pada kedalaman inilah proses hipnoanalisis dilakukan.

Ternyata, akar masalah yang menyebabkan mudah marah dengan suami terjadi pada usia 16 tahun. Klien masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Ketika usia tersebut, orang tua dari wanita ini bangkrut. Kondisi ekonomi keluarga ini benar-benar hancur lebur. Sejak itulah, klien, sebut saja namanya Ani, selalu mudah emosi dan marah. Setiap kali ada keinginan dan kemauan, harus dituruti. Jika tidak, maka emosinya akan meledak-ledak. Jadilah kedua orang tuanya selalu berusaha memenuhi keinginannya.

Sejak kecil, Ani memang hidup selalu berkecukupan, bahkan boleh dibilang mewah. Hal inilah yang membuat pikiran bawah sadar Ani punya program, bahwa semua keinginannya pasti bisa didapatkan dengan mudah. Tak heran ketika keadaan berubah dan kondisi ekonomi sedang goyah, program ini tetap harus berjalan di pikiran bawah sadar.

Proses rekontruksi di pikiran bawah sadar Ani pun dilakukan. Selain mencabut akar masalahnya, pikiran bawah sadar Ani juga diberikan pemahaman dan edukasi yang tepat agar program yang sebelumnya berjalan, bisa direkondisi.

Proses selesai, klien mengaku lega dan plong. Diminta membayangkan ke masa depan, klien pun merasa tenang dan tidak cemas. Begitu juga ketika diminta membayangkan suaminya, dia mengaku kangen sekali, karena sudah lama tidak bertemu.

Usai terapi, segera Ani menyalakan handphone nya dan menghubungi suaminya, dia meminta maaf dan meminta suaminya segera pulang menemuinya.

Selamat ya bu Ani. Semoga ke depan selalu tenang dan nyaman. Demikianlah kenyataannya. (*)
  


Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...