Thursday, December 8, 2016

Ingat, Matikan TV Sebelum Tidur



Tak sedikit mereka yang tidur dalam kondisi televisi masih menyala, atau sengaja sambil mendengarkan musik. Tahukah Anda, bahwa kebiasaan itu sangat kurang baik. Dari sisi kesehatan maupun dari sisi pikiran, kebiasaan tidur dalam kondisi televisi masih menyala, sudah sepatutnya dihentikan mulai dari sekarang.

Saat tidur, otak perlu proses untuk menurunkan gelombangnya. Perjalanan dari kondisi sadar hingga ke kondisi tidur, memerlukan tahapan. Di setiap tahapan menuju kedalaman tidur itu, pikiran masih terus bekerja.


Saat belajar di kelas 100 jam Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy (SECH) di Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology Surabaya diketahui, pikiran memiliki skala kedalaman tertentu. Tidur, berada di level kedalaman 40. Sementara pikiran sadar berada di level 0 (nol).

Begitu mata mulai terpejam dan tubuh secara fisik rileks, maka pikiran pun mulai rileks. Gelombangnya pun terus turun dari level nol menuju kedalaman hingga ke yang paling dasar yakni tidur, kedalaman 40.

Sebagai informasi, saya dan rekan sejawat hipnoterapis lulusan Adi W. Gunawan Institute, umumnya melakukan terapi ketika klien sudah pada kedalaman pikiran bawah sadar di level 30-an. Ini adalah level profound somnambulism yang sangat presisi untuk melakukan terapi. Namun tentunya, ini dilakukan secara sengaja dan kondisinya terus dipertahankan hingga proses terapi selesai.

Nah, ketika Anda mulai tidur, secara tidak sengaja, setiap orang pasti sempat melintas di level kedalaman profound somnambulism ini, sebelum akhirnya benar-benar tidur. Inilah hal yang ingin saya sampaikan. Pada kedalaman ini, informasi apa pun yang masuk ke pikiran bawah sadar, jelas akan diterima dan dimengerti tanpa ada penolakan sama sekali. Apa pun suara yang masuk akan direkam dengan jelas oleh pikiran bawah sadar.

Berapa lama berada di kedalaman ini? Tentu setiap orang berbeda-beda. Ada yang hanya beberapa detik, ada pula yang beberapa menit sampai akhirnya benar-benar tidur. Namun, kedalaman profound somnambulism inilah yang terkadang membuat seseorang mengalami mimpi yang dianggap benar-benar nyata ternyata. Atau di kedalaman ini, mendengar suara yang kemudian diyakini benar-benar terjadi, padahal dirinya sedang dalam posisi tidur.

Karena, ketika pikiran mulai turun di kedalaman hingga menuju tidur, jangan biarkan telinga Anda mendengarkan hal-hal negatif yang boleh jadi keluar dari televisi. Berita kriminal, dialog film atau sinetron yang negatif, otomatis akan masuk ke pikiran bawah sadar dengan mudah. Begitu juga ketika mendengarkan lagu dengan lirik negatif, misalnya musik patah hati, jelas akan direkam pikiran bawah sadar.

Dampak dari suara negatif yang masuk tanpa permisi ini, jelas akan berpengaruh pada kondisi psikis termasuk fisik seseorang. Saya pernah membantu melakukan terapi klien, siswi SLTA yang sangat takut tidur sendirian. Sehingga di usianya yang sudah dewasa pun, masih tidur ditemani ibundanya. Ternyata, rasa takut itu muncul ketika dia masih SD kelas 3. Ketika menjelang tidur, kakaknya di ruang tengah masih menonton film misteri. Suara dari film yang ditonton kakaknya itulah yang sayup-sayup didengar dan diterima klien ini, hingga kemudian menyebabkan perasaan takut berlebihan.

Studi mengenai hal ini juga disampaikan dua orang ilmuwan yakni Thomas Andrillon dan Sid Kouider. Melalui jurnal Current Biology yang dipublikasikan, disebutkan bahwa otak tetap aktif bekerja saat tidur. Ada bagian otak yang terus memproses informasi dan secara efektif membuat keputusan saat di bawah alam sadar.

Alat pemantau kinerja otak menunjukkan, otak manusia tetap bisa merangsang kata-kata yang didengar saat tidur. Meskipun hal tersebut tidak diingat lagi ketika sudah sadar. Namun ingat, informasinya sudah terlanjur masuk dan terekam di pikiran bawah sadar.

Disebutkan pula, suara televisi maupun musik, jelas membuat tidur kurang berkualitas. Kenapa? Karena gelombang suara atau cahaya yang dipancarkan tetap diterima indera pendengaran dan penglihatan. Akibatnya otak kembali terangsang untuk bekerja dan mengolah informasi yang masuk. Tentu saja, tubuh yang seharusnya istirahat, harus tetap bekerja karena otak masih terus mengolah informasi yang masuk.

Jangan heran jika ada yang merasa tidur cukup lama, tapi masih terasa lelah. Bandingkan jika tidur berkualitas. Meski hanya pulas 10 menit, rasanya seperti bangun tidur di pagi hari.

Selain itu, para peneliti di University of Rochester juga menemukan fakta bahwa kurang tidur membuat otak tak memiliki waktu cukup untuk pembersihan. Hal tersebut berpotensi membuat seseorang terkena penyakit neurodegenerative seperti parkinson dan alzeimer.

Jadi sebelum tidur, segera matikan TV Anda. Tidurlah secara lebih berkualitas. Kemudian izinkan tubuh Anda bangun tidur dalam keadaan sehat sempurna dan segar sepenuhnya. 

Demikianlah kenyataannya. (*)

Endro S. Efendi
Hipnoterapis & Trainer Teknologi Pikiran

Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...