Wednesday, January 11, 2017

Cabai Naik dan Pikiran Bawah Sadar



Di antara banyaknya berita yang bertebaran, saya sangat tertarik dengan mahalnya harga cabai. Bahan baku pemberi rasa pedas ini memang sudah sangat akrab dan lekat bagi rakyat Indonesia. Bahkan, tak sedikit daerah di Indonesia yang dikenal memiliki keunggulan kuliner dengan rasa pedas.


Bahkan, ada pula warung atau rumah makan yang memiliki keunggulan juga dari sisi pedas. Hingga dalam mengukur pedasnya makanan, diberi level tertentu. Ini membuktikan, penggemar rasa pedas di Tanah Air memang seabrek. 

Lantas, bagaimana dengan harga cabe yang mahal? Tiba-tiba saja rasa pedas seolah menghilang di lidah. Warung menjadi ‘pelit’ memberikan sambal. Bahkan pedagang kaki lima dengan berani memohon penggemar pedas untuk mengurangi konsumsi sambal yang disiapkan, karena mahalnya benda yang satu ini.

Saya mencoba mengulas hal ini dari sisi teknologi pikiran. Benarkah selera makan hilang hanya karena kurang pedas? Sahabat, enak tidaknya makanan, bergantung pada emosi yang disematkan pada setiap makanan. Bagi Anda yang penggemar rasa pedas, coba diingat, kapan pertama kali makan pedas? Adakah bayi yang baru lahir langsung makan makanan yang pedas? Tentu tidak. Seseorang suka dengan makanan pedas tentu melalui proses. Termasuk level kepedasan yang disukai pun pasti tumbuh bertahap.

Nah, ketika menjalani proses menikmati sensasi rasa pedas inilah, pikiran bawah sadar menyimpan emosi muncul. Ketika Anda sangat suka dan menikmati rasa pedas ini, maka pikiran bawah sadar akan mengunci rasa itu, dan akan ‘menagih’ perasaan yang sama ketika sedang makan.

Sebaliknya, ketika makan pedas kemudian terjadi sesuatu yang negatif pada tubuh dan mengatakan kapok, maka pikiran bawah sadar pun akan dengan tegas meminta berhenti mengonsumsi cabai secara berlebihan.

Kebetulan, saya meletakkan rasa pedas ini pada posisi netral. Jika pedas, ya dimakan saja. Sebaliknya, jika tidak ada rasa sama sekali, jika tidak masalah. Ini sama dengan dahulu yang suka minum minuman manis. Setelah dibiasakan meminum air mineral serta minuman yang tidak manis, juga biasa saja.

Di awal, ketika rasa pedas hilang karena cabai mahal, pikiran bawah sadar tentu akan ‘menagih’ dan menuntut agar kebutuhannya akan rasa pedas dipenuhi. Namun, jika Anda biarkan dan tanamkan bahwa makanan tidak pedas pun tetap nikmat, maka pikiran bawah sadar pun perlahan pasti melakukan perintah itu.

Semua rasa, sejatinya netral. Emosi yang tersemat di setiap rasa itulah yang membuatnya berbeda. Semua bergantung dari diri Anda sendiri untuk memutuskan emosi apa yang ingin disematkan pada setiap rasa. Termasuk di antaranya, rasa “yang dulu pernah ada”. He he he.

Bagaimana menurut Anda?



Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...