BREAKING NEWS

Saturday, March 4, 2017

Ini Penyebab Korban Pedofilia Melakukan Hal yang Sama Ketika Dewasa


Penjahat kelamin, menjadi momok yang semakin menakutkan. Terutama para predator seks pedofilia yang mengincar anak-anak laki-laki, untuk memuaskan syahwatnya. Anehnya, para pelaku pedofilia, di masa lalu ketika masih anak-anak, juga merupakan korban dari kejahatan yang sama.

Lantas kenapa ini bisa terjadi lagi? Bukankah sebagai korban pedofilia di masa lalu, mestinya dia sadar betul bagaimana dampak yang dirasakan. Saat menjadi korban, semestinya sudah memahami benar bagaimana rasa sakit hati yang sudah ia rasakan. Begitu banyak hal negatif yang sudah dialami saat menjadi korban, lalu kenapa harus melakukan hal yang sama kepada orang lain?


Apalagi pelaku yang sudah pernah menjalani hukuman dan ternyata mengulangi perbuatannya lagi. Apakah hukuman yang sudah dijalani tidak memberikan efek jera?

Jawaban atas pertanyaan di atas memang susah-susah gampang, atau gampang-gampang susah. Karena sulitnya mencari jawaban atas pertanyaan di atas, maka tak heran jika belum ditemukan formula tepat untuk menangani pelaku, termasuk membantu memulihkan trauma pada korban.

Sempat muncul wacana kebiri atas para penjahat kelamin ini. Apakah itu efektif? Sepertinya belum tentu efektif. Karena harus diingat, menangani manusia tidak bisa setengah-setengah. Penanganan harus dilakukan seutuhnya.

Seutuhnya yang dimaksud di sini adalah baik fisik maupun psikis. Tubuh dan pikiran harus ditangani secara intensif dan komprehensif, agar seluruh bagian diri dari korban maupun pelaku, benar-benar melepas memori atas kejadian ini.

Apa yang disampaikan di sini berdasarkan temuan di ruang praktik hipnoterapi berbasis teknologi pikiran yang rutin saya lakukan. Sebagai contoh, saya pernah menangani klien pria, usia 19 tahun. Dia memiliki kecenderungan suka terhadap sesama jenis.

Saat proses analisa di pikiran bawah sadarnya, pada kedalaman profound somnambulism (kedalaman pikiran yang sangat presisi untuk melakukan terapi), ditemukan fakta bahwa saat usia 6 tahun, pernah disodomi oleh anak-anak yang usianya lebih tua dari dirinya. Selain itu, fakta yang lain yang muncul adalah, pelaku sodomi terhadap dirinya itu, sebelumnya juga merupakan korban sodomi dari pria lain yang lebih dewasa pula.

Lalu bagaimana mengatasinya? Pembaca yang budiman, di dalam diri setiap manusia, sebenarnya merupakan kumpulan dari banyak bagian diri (ego personality/EP) yang memegang peranan berbeda-beda. Di kelas 100 jam Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy (SECH), Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology, saya mendapatkan materi khusus tentang ego personality ini.

Nah, pemahaman tentang ego personality inilah yang sangat membantu proses terapi terhadap korban maupun pelaku pedofilia ini. Pada korban pedofilia, saya tidak hanya berurusan dengan ego personality korban yang mengalami trauma atau sakit hati. Sebab, disadari atau tidak, sebenarnya ada ego personality lain pada diri korban yang muncul saat proses pelecehan seksual terjadi. Apa itu? Dia adalah ego personality atau bagian diri yang menikmati.

Meski mengalami trauma, ternyata ada bagian diri lain dari korban yang memang menikmati. Baik itu dari sensasi fisik yang dirasakan, maupun response fisik lain yang dianggap nyaman. Maka, proses terapi mau tidak mau bukan hanya menghilangkan rasa traumanya, tapi juga harus menyentuh bagian yang menikmati tersebut.

Jika tidak, bagian diri inilah yang akan terus tumbuh dan akhirnya saat sudah dewasa, bisa bergeser menjadi pelaku. Kenapa? Karena bagian diri yang menikmati terus menuntut untuk mendapatkan kenikmatan. Apalagi saat dewasa, dia memiliki kendali penuh atas korban lainnya yang lebih muda.

Maka, pada pelaku juga perlu dilakukan yang sama. Selain menghilangkan trauma di masa lalunya ketika menjadi korban, jika perlu menyentuh bagian diri pelaku yang menikmati.

Hal yang sama juga dilakukan saat melakukan terapi pada korban pemerkosaan. Jika tidak menyeluruh, tak jarang wanita yang dahulu merupakan korban pelecehan seksual, akhirnya lebih memilih melacurkan diri, atau bergeser pada perilaku suka sesama jenis.

Itulah kenapa proses terapi harus dilakukan menyeluruh, untuk menyentuh semua bagian diri yang berhubungan dengan kejadian tersebut. Jika hanya disentuh traumanya saja, maka kemungkinan korban atau pelaku mengulangi perbuatan yang sama, akan tetap terjadi.

Demikianlah kenyataannya. (*)
  

      

   

Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes