BREAKING NEWS

Tuesday, March 28, 2017

Ternyata Ini Penyebab Uus, Ernest, dan Inul Kena Boikot



Jempolmu harimaumu. Apa yang diketik di media sosial, bisa menjadi malapetaka bagi diri sendiri jika kurang berhati-hati. Ibarat bumerang, niatnya melempar sejauh mungkin, namun kembali mengenai diri sendiri.


Tengok saja beberapa artis yang tersandung ‘boikot’ akibat kalimat di media sosial yang mengandung hinaan atau cemoohan. Seketika, langsung mendapat balasan setimpal dan kontan, tanpa perlu menunggu waktu. Hanya dalam hitungan detik, apa yang dilontarkan di media sosial, bisa mendapat balasan, baik pro maupun kontra. Kondisi sosial politik di Indonesia memang belum bisa dikatakan benar-benar stabil. Maka, ada pemicu sedikit saja, apalagi dari para pesohor, seolah menjadi gas yang mudah terbakar cepat.

Komedian Uus misalnya, melalui Twitter sempat mengeluarkan beberapa cuitan yang dianggap menghina salah satu ulama. Akibatnya, petisi untuk boikot dan memecat Uus pun menggelinding bak bola salju. Hasilnya kontan, Uus tak lagi muncul di televisi. Meski sudah meminta maaf, pihak stasiun televisi tentu memilih jalur aman untuk sementara waktu dengan tidak menampilkan pria plontos yang terkenal sebagai komedian tunggal ini.  

Komedian tunggal lainnya, Ernest Prakasa ternyata tak mengambil hikmah atas kejadian yang menimpa rekannya, Uus. Tak lama setelah Uus kena boikot, Ernest juga sempat mengeluarkan cuitan di Twitter yang juga dianggap menghina ulama. Tak pelak, Ernest pun nasibnya setali tiga uang. Dirinya pun kena boikot. Rencana manggung di Makassar pun terkena imbasnya. Meski sudah meminta maaf, tetap saja aksi boikot menggelinding cepat. Bahkan produk Tolak Angin yang ia bintangi pun ikut terseret.

Yang baru saja terjadi menimpa pedangdut Inul Daratista. Pemilik goyang ngebor ini juga dianggap menghina ulama. Tentu menjadi pro dan kontra, apakah yang disampaikan Inul dianggap menghina atau tidak. Namun yang jelas, menulis di media sosial dengan menyentuh simbol-simbol khusus, jelas mudah memantik reaksi.

Lantas mengapa cuitan yang dianggap menghina itu dampaknya sedemikian besar? Ini dikarenakan yang menyampaikan pernyataan adalah para pesohor. Seorang selebritas, apa pun bidangnya, baik aktor, penyanyi, pelawak, hingga pemusik, adalah seorang publik figur yang sudah tentu memiliki otoritas. Sementara, pikiran bawah sadar sangat mudah ditembus oleh orang yang memiliki figur dengan otoritas tinggi. Saat kagum dan fanatik dengan pesohor, maka dengan mudah semua kalimat yang terlontar akan masuk ke dalam pikiran bawah sadar, tanpa penolakan sedikit pun.

Itulah mengapa, ketika figur yang memiliki otoritas ini menyampaikan sesuatu, dengan mudah masuk ke dalam pikiran bawah sadar. Nah, di dalam pikiran bawah sadar ini tersimpan ‘value’ atau nilai-nilai tertentu yang tersimpan dengan baik. Umumnya, value ini berupa agama, norma, etika, dan sejenisnya. Dengan demikian, saat ada kalimat yang dianggap tidak sesuai dengan value di dalam pikiran bawah sadar, dengan cepat pikiran bawah sadar pun memberikan response, baik pro maupun kontra.

Jika yang disampaikan pesohor sesuai dengan value yang tersimpan di pikiran bawah sadar fansnya, maka akan semakin memperkuat value itu sendiri. Sebaliknya, jika apa yang disampaikan tidak sesuai dengan value yang ada di dalam pikiran bawah sadar fansnya, otomatis pesohor itu seketika akan ditolak oleh pikiran bawah sadarnya. Maka jangan heran, meski awalnya sangat kagum dan fanatik, dengan seketika akan berubah sikap menjadi sangat membenci dan antipati.

Hal lain yang tidak disadari para pesohor adalah, mengeluarkan kalimat yang dianggap menghina juga berkaitan dengan energy dirinya sendiri. Saat mengeluarkan hinaan, seketika energi di dalam dirinya sendiri langsung drop alias berkurang drastis.

Penelitian mengenai hal ini dilakukan oleh doktor David R. Hawkins M.D., Ph.D. Peneliti ini telah membuat peta kesadaran (map of consciousness). Peta kesadaran itu hasil dari penelitian mendalam yang dituangkan dalam disertasinya berjudul Qualitative and Quantitative Analysis and Calibration of The Level of Human Consciousness. Disitu disebutkan, setiap perilaku manusia memiliki energi berbeda-beda.

Disebutkan dalam penelitiannya bahwa menghina atau merendahkan orang lain memiliki energi rendah yakni 10 pangkat 175. Namun, mereka yang marah atau benci, sebut saja yang marah karena merasa dihina, energinya ternyata jauh lebih rendah lagi yakni 10 pangkat 150.

Seseorang yang telah melakukan hinaan, saat mendapat perlawanan, tentu merasa bersalah dan meminta maaf. Saat ini terjadi, rasa bersalah itu energinya semakin drop lagi yakni 10 pangkat 30. Maka tak usah heran jika mereka yang telah melakukan hinaan, disusul dengan rasa bersalah, seolah merasa lemah dan tidak bertenaga, bahkan seketika merasa masa depannya suram. Ini pula penyebab beberapa artis dengan rasa bersalah yang terlalu dalam, energinya sangat drop dan lebih memilih mengakhiri hidupnya.  

Lantas bagaimana dengan energi yang lebih positif? Ternyata energinya memang lebih tinggi. Perasaan cinta atau menyukai sesuatu misalnya, energinya 10 pangkat 500. Masih ada lagi yang lebih tinggi yakni suka cita, dalam hal ini tertawa misalnya, energinya lebih besar lagi yakni 10 pangkat 540. Masih ada lagi yakni rasa bahagia dan kedamaian, energinya tercatat sebesar 10 pangkat 600. Pendek kata, semakin positif, semakin tinggi pula energi yang dihasilkan.

Energi inilah yang diperlukan setiap orang untuk menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk untuk mencapai semua impian. Itulah kenapa, mereka yang selalu bahagia, hidupnya lebih mudah merasa semangat dan optimistis, karena memiliki energi berlebih. Sementara mereka yang putus asa, malu dan minder, energinya sangat rendah sehingga sulit dalam mencapai tujuan dan cita-cita yang diharapkan.

Maka, tidak salah jika ada yang menyampaikan tertawa dan bahagia akan memperpanjang umur. Sebaliknya, stres dan putus asa hanya akan membuat seseorang lebih mudah sakit dan pendek umur.

Demikianlah kenyataannya. (*)
  
        





Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes