Wednesday, April 12, 2017

Antara Koruptor, Air Keras dan Novel Baswedan


Cukup lama tak terdengar, jenis air ini tiba-tiba kembali populer. Apa itu? Apalagi kalau bukan air keras. Ya, jenis air ini kerap dikaitkan dengan emosi dan kemarahan. Entah apa salahnya air ini, sehingga seolah menjadi air yang sangat jahat.


Air keras adalah larutan asam yang cukup pekat. Jika terkena kulit, bisa mengakibatkan luka bakar. Di antara jenis air keras adalah asam klorida. Contoh lainnya larutan asam sulfat dan asam nitrat.

Sebenarnya, asal klorida digunakan industri logam untuk menghilangkan karat, atau kerak besi baja. Juga untuk mengukur kadar asam basa pada sebuah larutan. Sementara asam nitrat digunakan untuk proses pemurnian logam platina, emas dan perak.

Namun, ibarat pisau, bisa berguna untuk mengiris bawang, atau membunuh orang. Demikian pula dengan air keras. Meski banyak manfaatnya, nyatanya reputasinya juga cukup mumpuni dalam mencelakakan orang lain.  

Tengok saja, Selasa (11/4) tadi penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan disiram air keras oleh seseorang tak dikenal usai salat subuh di Masjid Al Ihsan, sekitar 4 rumah dari kediaman Novel di Jalan Deposito T Nomor 8, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Hasilnya, Novel sampai harus dirujuk ke Singapura untuk menjalani pengobatan. Targetnya jelas, supaya proses penyidikan kasus rasuah yang ditangani pria ini tersendat.

Terlepas siapa yang melakukan, air keras ini jelas berisi muatan emosi yang sangat tinggi. Baik pelaksana penyiram air keras maupun otak pelaku di balik kejadian ini, saya yakin sejatinya adalah orang baik. Bahkan, sangat baik. Lantas, kenapa sampai berani melakukan penyiraman air keras?

Inilah fakta yang harus disampaikan. Bahwa di setiap diri manusia, selalu ada sosok ‘jahat’ yang bisa muncul siapa saja. Sosok jahat ini sebenarnya juga punya tujuan baik. Yaitu, untuk melindungi diri dari serangan orang lain.

Sekarang, anggap saja pelaku penyiraman air keras adalah koruptor. Baik melakukan sendiri atau membayar orang lain. Sebagai manusia yang utuh, si koruptor ini tetap memiliki bagian diri yang baik. Terbukti, dia pasti sayang dengan pasangannya dan anak-anaknya, serta keluarga besarnya. Bahkan boleh jadi, sesekali juga sedekah atau berbagi pada orang lain.

Tapi, kenapa sampai melakukan korupsi? Nah, ternyata dalam diri sang manusia itu secara tidak disadari, tumbuh bagian diri baru yang sangat dominan. Siapa itu? Ya itulah bagian diri yang suka korupsi.

Ingat, tidak ada bayi yang dilahirkan langsung menjadi koruptor. Perilaku korup lahir karena banyak hal. Dari mulai keadaan, sistem, atau karena kerakusan. Semua bergantung pada nilai (value) yang dimiliki setiap pikiran bawah sadar manusia.

Awalnya, boleh jadi korupsi karena sistem. Manusia ini masih pasif, dan menerima manfaat dari kegiatan korupsi yang dilakukan orang lain melalui sistem. Begitu hasilnya dirasakan nyaman dan enak dinikmati, maka tumbuhlah nilai atau value di pikiran bawah sadar, bahwa uang hasil ‘sistem’ itu enak.

Maka, mulai ada pergeseran yang awalnya pasif, menjadi aktif menciptakan sistem tersendiri untuk mendapatkan kekayaan yang lebih cepat dan mudah. Jika ini berhasil, maka value di pikiran bawah sadar semakin kuat dan meningkat, bahwa uang hasil ‘sistem’ memang benar-benar sangat nikmat.

Itulah yang kemudian memberikan penguatan, sehingga perilaku ‘korup’ disetujui dan dijalankan pikiran bawah sadar secara otomatis. Apa pun yang dikerjakan, harus ada ‘sistem’ yang membuat uang mengalir dengan mudah ke pundi-pundi yang sudah disiapkan.

Lantas, kenapa sampai berani menyiram air keras? Siapa pun yang sedang nyaman kemudian diusik, pasti marah. Coba saja anda sedang PW alias posisi wenak, kemudian diganggu, pasti tidak nyaman. Nah, aktivitas KPK yang sedang mengganyang para koruptor, tentu membuat pikiran bawah sadar pelaku korup merasa terancam.

Ingat, pikiran bawah sadar sudah menjalankan sistem korupsi secara sistematis. Maka, pikiran bawah sadar pun siap menghadapi program apa saja yang menggagalkan upaya korupsi ini. Perintah pikiran bawah sadar inilah yang kemudian membangunkan bagian diri koruptor yang memegang kendali kejahatan.

Saat bagian diri manusia yang jahat sudah aktif dan memegang kendali operasi di pikiran, semua logika dan akal sehat tidak berlaku. Itulah yang membuat pelaku kejahatan bisa melakukan pembunuhan sadis, mutilasi, membakar hidup-hidup, hingga menyiram air keras.

Dari sini, kadar jahat sang koruptor levelnya masih nanggung. Kenapa? Karena tidak mau langsung menghabisi. Kalau level jahatnya lebih tinggi, tentu lebih mudah langsung melakukan penembakan dari jarak jauh, dan Novel Baswedan pasti langsung tewas.

Sang koruptor seolah ingin menitip pesan, semua bisa dilakukan negosiasi dan berharap dirinya tidak diganggu atau diusik. Sang koruptor lupa, bahwa KPK mendapat dukungan penuh dari rakyat. Energi rakyat tentu tidak bisa dikalahkan dengan mudah. Maka, perhitungan koruptor dalam hal ini, salah besar.

Namun yakinlah, andai sang koruptor membaca tulisan ini, saya hanya ingin berbicara bagian diri pelaku yang bijaksana. Wahai bagian diri pelaku yang bijaksana, apakah Anda tidak menyesal telah melakukan ini? Atau apakah Anda yakin Tuhan memang tidak ada, sehingga ada bebas melakukan semua demi memenuhi ambisi menumpuk harta?

Cukup dua pertanyaan ini saja. Dan saya berharap sang bijaksana memberikan nasihat dan pemahaman kepada bagian diri yang koruptor untuk mengakhiri semua ini.

Bagaimana menurut Anda? (*)    


Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...