BREAKING NEWS

Tuesday, April 4, 2017

Antara Uang Panai dan Kawin Kontrak Rp 1 Miliar ala Bella Luna



Kasus artis Bella Luna Ferlin (23) tiba-tiba menyeruak di permukaan. Dari awalnya dilaporkan melakukan penganiayaan terhadap pengacara Razman Arif Nasution (43), kasus ini justru membuka tabir mengejutkan. Apalagi kalau bukan kawin kontrak antara keduanya yang dihargai Rp 1 miliar. Tentu ini sebuah angka yang tidak sedikit.  


Di saat masyarakat perfilman sedang memberikan penghargaan atas Film Uang Panai, kasus kawin kontrak Rp 1 miliar untuk pernikahan selama 1 tahun ini jelas semakin membuat para jomblo hanya bisa mengelus dada.

Film Uang Panai mendapat penghargaan dalam Indonesian Box Office Movie Awards 2017 sebagai Film Produksi Daerah Terlaris Tahun ini, setelah ditonton 562 ribu pasang mata. Film asal Makassar ini mengisahkan seorang pemuda yang berusaha mendapatkan uang mahar senilai Rp 120 juta.

Tak hanya harus bekerja dengan maksimal, dua sahabat pemuda ini pun sampai mengumpulkan sumbangan di pinggir jalan demi mengumpulkan uang panai sebagai mahar pernikahan yang berlaku seumur hidup.

Sementara, dalam kasus Bella – Razman, pernikahan selama 1 tahun saja harganya Rp 1 miliar. Lantas, apakah itu benar-benar pernikahan atau biaya tidur selama 1 tahun? Tentu hanya mereka berdua yang bisa menjawabnya.

Pada film Uang Panai, banyak sekali pesan moral yang disuguhkan pada penonton. Betapa adat budaya di Indonesia sangat beragam, termasuk Uang Panai yang sangat tersohor di Makassar. Pernikahan yang awalnya sebagai salah satu ibadah yang sacral, mau tidak mau harus mengalami pergeseran. Dalam film Uang Panai, uang mahar bergeser menjadi uang gengsi untuk menaikkan status sosial.

Begitu pula dalam kasus Bella – Razman, pernikahan yang seharusnya sebagai ibadah, bergeser menjadi pernikahan sesuai kebutuhan duniawi semata. Meski dinyatakan sah secara agama karena kawin siri, bukankah sejak awal harus didasari dari niat itu sendiri. Jika kawin kontrak dengan rentang waktu tertentu, sudah pasti niatnya sudah tidak tulus dan bukan untuk menunaikan ibadah.

Terkait kasus Bella – Razman ini, jelas memantik reaksi beragam dari netizen. Dari mulai yang mencemooh, mencibir, mendukung, bahkan yang bijaksana. Semua tentu benar, berdasarkan pandangan dan persepsi masing-masing.

Mengapa Bella Luna bersedia diajak kawin kontrak? Ini tergantung dari timbangan mental setiap individu. Mau tidaknya seseorang melakukan sesuatu, termasuk Bella Luna, didasari atas timbangan mental yang dimiliki.

Sebagai contoh, ada klien yang takut dengan ayam. Jika tidak menggunakan teknik hipnoterapi, bisa saja timbangan mentalnya dipermainkan. Misalnya, klien ini ditawarkan uang Rp 1 juta untuk memegang ayam. Masih takut, coba nilai uangnya dinaikkan menjadi Rp 10 juta. Jika masih takut, bagaimana jika dinaikkan lagi menjadi Rp 100 juta, bahkan Rp 1 miliar? Bisa jadi, timbangan mentalnya mulai bergeser, dari mulai yang awalnya takut, menjadi berani karena ada iming-iming tertentu.

Anda mungkin masih ingat acara Fear Factor, sebuah tayangan yang mempermainkan perasaan takut setiap orang. Namun karena hadiah yang menggiurkan, rasa takut berhasil diatasi, karena timbangan mentalnya otomatis bergeser dengan sendirinya.

Itu pula yang terjadi pada Bella Luna. Tentu tidak mudah ketika dia mendapat tawaran untuk dinikahi secara kontrak. Boleh jadi angka yang ditawarkan tidak langsung Rp 1 miliar. Tapi, begitu mendengar nilai Rp 1 miliar, ditambah lagi mungkin dengan rumah dan mobil, maka timbangan mentalnya bisa saja bergeser. Apalagi, ada jangka waktunya, hanya 1 tahun. Terbukti, begitu kontraknya selesai, Bella mengaku sudah tidak ada rasa sama sekali. Lantas, selama satu tahun sebelumnya, perasaan apa yang sebenarnya muncul di dalam dirinya ketika melihat Razman? Lagi-lagi, hanya dia yang tahu.

Sekali lagi, kasus yang terjadi pada Bella Luna, bisa terjadi pada siapa saja. Bagi pemilik uang, dengan leluasa dia bisa mempermainkan timbangan mental lawan jenisnya. Sebaliknya, seseorang pun bisa luluh dan tergiur, tatkala timbangan mentalnya lebih mengedepankan nilai uang, ketimbang harga dirinya sendiri secara utuh.

Semua berpulang pada individu masing-masing. Timbangan mental paling penting tentu saja nilai-nilai kebenaran, kebijaksanaan dan keimanan. Jika timbangan mental ini sudah tidak ada, maka dengan mudah nilainya akan digeser dengan kebutuhan duniawi.

Bagaimana menurut Anda?

    


Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes