HYPNO NEWS

Sunday, April 2, 2017

Jengkel dengan Mertua, Wanita Ini Sempat Ingin Bunuh Diri



“Saya sudah tidak tahan lagi pak. Setiap kali saya melihat mertua dan kakak ipar saya, rasanya langsung ngga nyaman. Kepala rasanya langsung pusing dan hilang nafsu makan,” beber wanita berusia 42 tahun ini. Sebut saja namanya Irma, tentu ini bukan nama sebenarnya.


Hampir dua bulan Irma menunggu untuk bisa menjalani sesi hipnoterapi. Maklum, saya sempat lebih banyak berada di Jakarta. Akibatnya, harus mencocokkan jadwal ketika saya berada di Samarinda.

Wanita yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil ini rela datang jauh-jauh dari salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Utara ke Samarinda, untuk menjalani sesi hipnoterapi. Ia mengaku sudah tidak tahan dengan kondisi batinnya yang tersiksa.

“Setiap kali saya ke dokter, paling saya tidak boleh banyak pikiran. Saya tidak boleh stress. Nah saya bingung sendiri, gimana caranya supaya ngga mikir?” ujarnya kemudian.

Selama hampir dua tahun, dia mengalami kondisi tersebut. Selama itu pula, ia hanya bergantung pada obat antinyeri. Sesekali bahkan mendapat obat penenang dari dokter, ketika kondisinya memang sudah sangat stress.

“Malah saya pernah berpikir, ingin mengakhiri hidup. Rasanya percuma hidup dalam kondisi yang tidak tenang,” sambungnya. 

Beruntung, dia sempat buka-buka internet, dan mencari artikel tentang mengatasi stress. “Saya sempat baca salah satu artikel bapak di internet terkait masalah stress ini. Makanya saya tertarik untuk mencoba hipnoterapi,” bebernya.

Di sesi diskusi awal, wanita ini mengaku tidak tahu persis, kenapa dia sangat membenci mertua dan kakak iparnya. “Sementara rumah saya dengan rumah mertua dekat sekali. Itu yang membuat saya setiap hari tidak nyaman,” sambungnya.

Setelah dia menyampaikan semua keluhannya, saya pun memberikan penjelasan detail terkait sesi hipnoterapi yang akan ia jalani. Sebab, dalam proses terapi yang akan dilakukan, tidak boleh ada kejutan. Klien harus memahami dengan jelas, apa saja yang akan ia lalui. Sehingga, klien paham dan merasa nyaman dengan terapi yang akan dilakukan.

Begitu mengerti dengan semua alur dan proses yang akan dilalui, Irma bersedia dibimbing masuk ke kondisi relaksasi pikiran yang dalam dan menyenangkan. Dengan cepat, wanita ini berada di kedalaman pikiran bawah sadar yang sangat presisi. Pada level kedalaman pikiran inilah, klien kemudian dibimbing untuk mencari akar masalah yang menjadi penyebab dia jengkel dengan mertua dan kakak ipar.

Ternyata, dari hipnoanalisis, ditemukan kejadian traumatis yakni ketika dia memutuskan hubungan dengan pacarnya. Ketika itu, pacar yang sangat ia cintai, bahkan sangat yakin akan menjadi suaminya, mendapat pindah tugas ke Samarinda. Sementara dia tetap bekerja di salah satu daerah di Utara Kalimantan.

Setelah dua bulan berhubungan jarak jauh, tersiar kabar bahwa pacarnya selingkuh. Bukti kuat yang ia dapatkan, membuat pacarnya tak bisa lagi mengelak dan mengakui semua perbuatannya. Dengan perasaan hancur dan sakit hati yang mendalam, dia pun memutuskan pria tersebut. Meski mengaku masih sayang, namun rasa sakit yang dirasakan terlanjur pedih dan perih.

Untuk mengatasi trauma atas peristiwa tersebut, klien kemudian dibimbing dengan teknik tertentu agar emosinya lebih netral dan stabil. Setelah trauma atas peristiwa tersebut dicabut, klien pun dibimbing untuk menjalani pemaknaan ulang atas kejadian itu. Tak cukup dengan itu, klien pun dengan lapang hati bersedia mengambil hikmah atas kejadian tersebut.        

Proses terapi tuntas, Irma dibawa naik dari kedalaman pikiran bawah sadar. Dia mengaku nyaman dan plong. Segera dia menyalakan handphone, dan membuka obrolan di grup keluarga. Dia merasa sangat tenang dan nyaman. “Biasanya, kalau saya baca obrolan dari mertua dan kakak ipar di grup, langsung tidak nyaman. Kok sekarang biasa saja ya,” katanya.

Lebih dari itu, saya pun menantang Irma untuk menghubungi mertuanya melalui telepon. Tantangan itu ia terima. Segera ia telepon mertuanya, dan dia ngobrol dengan tenang dan lepas. Saya hanya menyimak saja, sembari sibuk membereskan buku terapi yang sebelumnya saya pergunakan.

“Ya nih pak. Sudah sangat nyaman banget. Syukurlah, saya ngga jadi bunuh diri,” ujarnya sembari tertawa lepas. Ia pun mohon pamit, karena ingin mampir ke pusat perbelanjaan.

“Mertua nitip oleh-oleh. Mumpung di Samarinda, ya belanja dulu. Maklum, di sana ngga ada mal,” pungkasnya. (*)


Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes