Monday, April 3, 2017

Kenapa Iklan Pembesar Mr P Berkeliaran di Media Sosial?



Menulis di media sosial terbukti memiliki efek candu yang akut. Ragam tulisan yang disuguhkan di media soal, benar-benar memberikan tambahan wawasan bagi siapa saja, sesuai dengan minatnya masing-masing. Berhubung saya menyukai dunia teknologi pikiran, maka saya pun mencoba memfokuskan diri menulis bidang ini. 

Namun terkadang, sesekali ada yang tidak nyaman. Apa itu? Apalagi kalau bukan iklan pembesar penis yang secara masif dan rutin melakukan penetrasi ke artikel-artikel yang dianggap banyak pengunjungnya. Beberapa kali, iklan mr P muncul pada kolom komentar di bawah artikel yang saya buat. Dihapus, nongol lagi, dihapus lagi, muncul lagi. Begitu seterusnya.


Namun, ada juga pertanyaan yang muncul dari kegigihan iklan tanpa izin itu. Benarkah ukuran mr P menjadi penentu kepuasan hubungan suami-istri? Adakah faktor lain yang juga diperlukan dalam urusan pemenuhan kebutuhan batin ini?

Izinkan saya untuk mengambil beberapa contoh kasus yang terkuak dari ruang praktik hipnoterapi. Beberapa kesimpulan yang muncul, keperkasaan lelaki tidak ditentukan oleh ukuran. Percuma saja besar, jika kemudian loyo atau tidak bisa bekerja maksimal. Atau percuma saja besar, namun kemudian muntah sebelum memberikan kepuasan kepada pasangan.

Berhubungan intim memerlukan pikiran tenang dan nyaman. Obat perkasa terbaik untuk bisa menjalankan kewajiban memberikan nafkah batin kepada pasangan adalah pikiran yang selalu bahagia. Karena banyaknya pria yang stress di tempat kerja, beban pikiran yang menumpuk, hingga masalah yang tak kunjung selesai, akibatnya tidak sedikit yang gagal memberikan nafkah batin pada pasangannya.

Belum lagi masa lalu seperti perasaan kecewa, trauma, marah, sakit hati, dendam dan berbagai masalah emosi lainnya, yang tentu akan mengganggu aktivitas seksual.  

Beberapa klien yang awalnya memiliki masalah dalam hal hubungan di atas ranjang, nyatanya bisa menjalankan kewajiban dengan tuntas dan bisa memuaskan pasangannya, setelah berbagai masalah yang mengganggu pikirannya dicabut.

Sebagai contoh, ada seorang pria, sebut saja Rambo, yang sering tidak berhasil memuaskan istrinya. Bahkan istrinya sudah mengancam akan menceraikan dirinya jika benar-benar tidak bisa memberikan layanan maksimal. Dalam proses hipnoterapi berbasis teknologi pikiran yang dilakukan, ternyata ditemukan akar masalah yang bisa saja dianggap sepele. Apa itu? Ketika dia masih SMP, ternyata kakak laki-lakinya yang sudah berkuliah menghamili pacarnya. Ayah ibunya marah besar, karena dianggap sebagai aib sangat memalukan bagi keluarga.

Akibat kejadian itu, secara tidak disadari, ada program yang masuk ke dalam pikiran bawah sadar Rambo yang masih SMP, yakni, jangan sampai berhubungan badan. Karena kalau sampai ada yang hamil, sangat memalukan keluarga.

Ternyata, program inilah yang terus terbawa sampai dewasa, bahkan ketika dia sudah menikah. Hampir enam bulan menikah, istrinya masih belum berhasil dipuaskan. Meski sudah berusaha menonton film dewasa untuk memancing gairahnya, tetap saja gagal dan harus terhenti di tengah jalan.

Program yang terlanjur masuk inilah yang harus dicabut dari pikiran bawah sadarnya. Setelah program ini dicabut, hasilnya ternyata sangat manjur. Rambo benar-benar seperti pahlawan sesungguhnya di film. “Sehari kadang bisa dua kali sampai tiga kali mas,” sebut Rambo dua hari kemudian, setelah proses terapi.

Karena itu, bagi Anda yang punya masalah seksualitas, pilihan tetap ada pada diri Anda sendiri. Mau bergantung pada obat, atau membereskan masalah dalam diri sendiri. Rutin melakukan relaksasi pikiran juga sangat dianjurkan agar diri selalu merasa tenang dan nyaman. Itulah kenapa dalam Islam disunnahkan untuk salat dulu sebelum melakukan hubungan suami-istri. Ini sejatinya sama dengan relaksasi pikiran. Membuang semua persoalan, dan menyiapkan semua bagian diri untuk menjalankan kewajiban dalam memenuhi kebutuhan batin pasangan.

Bagaimana menurut Anda?  

  

Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...