BREAKING NEWS

Sunday, April 23, 2017

Ternyata Anies – Sandi Gunakan Metode Hipnosis, Ini Penjelasannya



Terlepas dari rasa suka atau tidak suka serta keberpihakan yang sejak awal sudah terbentuk, ada faktor penting dalam kemenangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (Anies-Sandi) pada Pilkada DKI Jakarta. Anies-Sandi harus diakui lebih piawai dalam menembus faktor kritis (critical factor) yang menjadi pagar pengaman pikiran bawah sadar (subconscious mind).



Saat mempelajari teknologi pikiran (mind technology) di Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology Surabaya, dijelaskan bahwa pikiran terbagi dua, yakni pikiran sadar (conscious mind) dan pikiran bawah sadar (subconscious mind).

Dari dua pikiran ini, yang paling memegang peranan penting adalah pikiran bawah sadar (PBS). Pikiran bawah sadar mengendalikan perilaku manusia 95 sampai 99 persen, sementara pikiran sadar hanya 1 sampai 5 persen. Ibarat orang menunggang gajah, orang sebagai gambaran pikiran sadar, sementara gajah adalah PBS-nya. Jika belum memahami cara mengendalikan gajah, bisakah si penunggang mengarahkan gajah? Tentu tidak bisa.

Itulah kenapa, pikiran sadar tidak mudah mengendalikan pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar memiliki pagar pengaman berupa faktor kritis yang menjadi filter masuknya program ke pikiran bawah sadar. Faktor kritis inilah yang menjadi penentu apakah sebuah program bisa masuk atau tidak dalam pikiran bawah sadar. Ibarat rumah, faktor kritis ini berfungsi sebagai pagar, supaya tidak sembarangan program bisa masuk dan dijalankan oleh pikiran bawah sadar.

Untuk bisa menembus pikiran bawah sadar ini, salah satunya adalah dalam hipnosis. Orang dalam kondisi hipnosis, pikiran bawah sadarnya lebih aktif dan faktor kritisnya sudah terbuka. Inilah yang menyebabkan para hipnoterapis mudah membantu mengatasi masalah klien, karena dilakukan dalam kondisi hipnosis.   

Lalu kenapa Anies – Sandi dikatakan menggunakan metode hipnosis? Harus diakui, metode kampanye dan provokasi yang dilakukan mampu mengaktifkan pikiran bawah sadar pemilihnya. Faktor kritis dalam pikiran bawah sadar memiliki filter berupa empat elemen penting. Masing-masing agama dan moral, keselamatan hidup, benar atau salah, terakhir masuk akal atau tidak.

Coba kita bahas empat elemen tersebut. Pertama agama. Bukankah sentimen agama benar-benar dikedepankan oleh pasangan Anies – Sandi. Terlepas bahwa apa yang terkandung dalam Alquran Surat Al Maidah memang benar adanya dan tidak bisa dibantah, namun faktor agama benar-benar mampu menggalang dukungan maksimal. Sementara dari sisi moral, apa yang dilakukan Ahok sedikit mencederai warga kelas bawah. Saat marah-marah, memaki-maki, hingga melakukan penggusuran, pasti membuat pikiran bawah sadar warga DKI kelas bawah kurang nyaman. Walau banyak yang mendukung tindakan itu, akan lebih baik jika dilakukan dengan tutur sapa yang baik.

Masih dari filter agama, apa yang disampaikan Ahok dalam kampanye di Pulau Seribu yang kemudian menggelinding bak bola salju, tentu menembus faktor kritis para pemilih Muslim. Andai tidak menyinggung Alquran, hasilnya bisa berbeda. Tapi karena yang disinggung adalah kitab suci, sementara Ahok jelas bukan seorang muslim, inilah yang membangkitkan pikiran bawah sadar pemilih Jakarta.

Ingat, agama menduduki peringkat paling utama alias kasta tertinggi sebagai filter di pikiran bawah sadar setiap individu. Taat atau tidak, melaksanakan tuntunannya atau tidak, begitu agama yang disinggung, pikiran bawah sadar pasti langsung aktif dan menjalankan program untuk melawan.

Sementara dari sisi moral pula, Anies – Sandi memanfaatkan momen Alexis karena dianggap tidak sesuai nilai moral. Terlepas benar-benar dilakukan atau tidak, yang penting bisa menembus pikiran bawah sadar para pemilih karena dianggap mewakili nilai moral.  

Kedua, filter keselamatan hidup. Siapa pun, ketika dalam kondisi terancam, pasti akan membuat program pertahanan diri. Sikap Ahok yang mudah tersulut emosinya, jelas membuat orang yang berkepentingan merasa terancam dan langsung membuat program bertahan. Cara bertahan yang dilakukan adalah, tidak mau lagi Ahok menjadi Gubernur. Maka apa saja dilakukan agar bukan Ahok yang memimpin Jakarta. Itulah kenapa bergulir kalimat Asal Bukan Ahok yang kemudian terus membesar.

Sementara Anies-Sandi, saat menggulirkan program rumah dengan DP nol persen, tentu langsung mengaktifkan pikiran bawah sadar warga menengah ke bawah. Bagi warga, program itu dianggap menyelamatkan hidup mereka yang ingin punya tempat tinggal. Terealisasi atau tidak, ya tinggal ditagih nantinya.

Filter ketiga adalah benar atau salah. Penilaian benar atau salah, tentu relatif bagi setiap individu. Namun jika ini bisa dipermainkan dengan baik dalam kampanye, tentu bisa merebut hati pemilih.

Begitu juga filter terakhir, masuk akal atau tidak. Ini juga relatif, bergantung dari penilaian masing-masing pemilih. Jika program yang dilemparkan dianggap masuk akal, tentu akan diterima. Jika tidak, ya jelas tidak akan berpengaruh.

Namun yang pasti, pengaruh paling besar pada Pilkada adalah filter agama dan moral, serta keselamatan hidup. Memainkan isu berkaitan dengan agama dan moral serta keselamatan hidup, jelas akan lebih mudah menjaring pemilih.


Bagaimana menurut Anda? (*)



Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes