Sunday, November 5, 2017

Astaga, Jadi Gay Gara-gara Mamanya Melakukan Ini



Penyebab seseorang mengalami disorientasi seksual memang sangat beragam. Bahkan terkadang sulit ditebak. Maka, setiap kali melakukan terapi pada klien yang mengalami lesbian, gay, biseks dan transgender (LGBT), sebagai terapis, selalu berusaha fokus pada proses agar akar masalah benar-benar ditemukan.



Beberapa waktu lalu misalnya, seorang klien dari luar kota, tiba di tempat praktik. Pria berusia 41 tahun ini mempunyai kecenderungan suka terhadap sesama jenis. “Saya sudah berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan, tapi nyatanya tidak bisa,” ujar klien ini.

Bahkan, klien ini pun sudah memberanikan diri bertemu dengan pemuka agama, meminta solusi. Hasilnya justru membuat dirinya semakin terpuruk. “Saya langsung divonis sebagai pendosa, disuruh bertobat dan memohon ampun. Kalau soal itu, tentu saya sudah tahu. Justru saya meminta solusi karena tidak mau terus menerus berbuat dosa,” bebernya panjang lebar. Soal bertobat pun bukan tidak pernah dia lakukan. “Setiap hari saya sudah berdoa, memohon ampun kepada Tuhan,” sambungnya.

Sejak bertemu dengan pemuka agama itu, klien ini semakin terpuruk. Dia merasa tidak mendapatkan solusi dan akan sulit sembuh. “Saya sempat pasrah, dan akan menjalani kehidupan dengan tetap menjadi seorang gay,” tutur pria yang bekerja sebagai aparatur sipil negara di daerahnya.

Masih terus berusaha bertobat dan mencari solusi, usai membaca kitab suci, klien ini coba berselancar di internet. Ketika itulah muncul metode hipnoterapi untuk mengatasi masalahnya. “Ini pun saya masih sempat ragu. Hampir satu tahun saya belum berani dan menimbang-nimbang untuk menjalani hipnoterapi,” urainya.

Hingga akhirnya, menjelang perayaan HUT Kemerdekaan RI beberapa waktu lalu, klien ini memberanikan diri menghubungi saya dan mengatur janji untuk konsultasi dan terapi. “Saya harus mengatur waktu cuti,” imbuhnya.

Saat tiba di tempat praktik pun, hari pertama klien belum siap menjalani terapi. Yang klien lakukan adalah mempertanyakan secara detil dan mendalam seputar hipnoterapi. Hampir 4 jam saya melayani klien berdiskusi dan melakukan tanya jawab mengenai metode hipnoterapi berbasis teknologi pikiran ini.

Hari kedua, keesokan harinya, barulah klien mengaku siap dan pasrah untuk bisa melepaskan diri dari masalahnya. Karena hari pertama sudah diberikan penjelasan secara rinci, maka hari kedua, langsung dilakukan proses induksi. Klien dibimbing menjalani relaksasi yang dalam dan menyenangkan. Dalam waktu singkat, klien sudah berada kedalaman pikiran bawah sadar yang sangat presisi.

Pada kedalaman itulah, dilakukan hipnoanalisis untuk menelusuri akar masalahnya. Ternyata pikiran bawah sadar klien merujuk pada kejadian ketika usianya 8 tahun. Saat itu, ayahnya sedang pergi ke luar kota. Klien hanya bersama mamanya di rumah. Ketika itu siang hari, klien sepulang sekolah langsung tidur. Saat tidur itulah, klien mendengar suara-suara yang tidak biasanya dari kamar sebelah, tempat mamanya.

Penasaran, klien kemudian menuju ke kamar mamanya, dan melalui lubang kunci, klien melihat pemandangan yang membuatnya takut dan gemetar. “Mama sedang ‘begituan’ dengan om tetangga sebelah,” sebut klien.

Namun karena ketakutan, klien tidak berani bicara dengan siapa-siapa. Apalagi dia sangat tahu mamanya sangat galak atau mudah marah.  

Saat mamanya selingkuh itulah yang menyebabkan pikiran bawah sadar klien memiliki program baru, bahwa wanita adalah sumber masalah dan mudah berkhianat. Bahkan, mamanya yang seharusnya menjadi figur otoritas utama bagi klien, nyata-nyata selingkuh di depan matanya.

“Saya tidak percaya lagi sama perempuan,” tuturnya. Sejak itulah, klien merasa sangat kagum dengan papanya, dan kemudian menjurus kagum terhadap sesama jenis.

Setelah diketahui akar masalahnya, klien dibimbing untuk mengatasi traumanya. Melihat mamanya selingkuh, membuat klien trauma sangat dalam dan begitu membenci mamanya. Inilah yang kemudian dinetralisir dengan teknik tertentu. Tak hanya itu, klien juga dibimbing untuk kembali suka terhadap lawan jenis.

Begitu proses pencabutan akar masalah selesai, klien mengaku merasa nyaman dan plong. Dilakukan pengecekan di pikiran bawah sadarnya juga sudah tidak masalah. Klien mulai memiliki rasa suka terhadap wanita yang selama ini mendekatinya di tempat kerjanya.

Setelah beberapa bulan, kemarin, klien memberi kabar bahwa dirinya semakin mantap untuk merancang pernikahannya dengan wanita yang selama ini sangat mencintainya. “Doakan ya pak, semuanya lancar. Nanti bapak saya kirim undangannya,” kata klien.

Ia mengaku tidak mau lagi menunda-nunda karena usianya sudah sangat kritis. “Calon istrinya saya juga sudah 35 tahun. Kasihan lagi nunggu lagi, kelamaan,” ujarnya melalui telepon seluler.
Selamat ya, semoga semua berjalan lancar dan bisa membangun rumah tangga yang berbahagia. Demikianlah kenyataannya. (*)    
     
  
       

Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...