Friday, November 10, 2017

Boleh Jadi, Ini Penyebab Dokter Helmi Tembak Istrinya


Munculnya kasus seorang dokter yang menembak mati istrinya sendiri, jelas mengejutkan publik di Tanah Air. Bagaimana mungkin seorang dokter bisa memiliki senjata dan dengan mudahnya menembak istrinya sendiri hingga tewas.


Belum diketahui dengan pasti, apa motif di balik kasus penembakan yang diduga dilakukan dokter Helmi kepada istrinya sendiri dokter Letty Sultri. Namun yang jelas, dari sisi pikiran, patut diduga ada yang bermasalah.

Tentu tidak mungkin tiba-tiba ada emosi yang intens bahkan memuncak jika tidak ada penyebabnya. Apalagi ditemukan fakta, dokter yang dikabarkan pernah terjerat kasus pemerkosaan ini, juga mengonsumsi obat penenang. Konon, dokter Helmi menolak digugat cerai istrinya, sehingga memantik kemarahan hingga kemudian menembak istrinya sebanyak enam kali di Klinik Az-Zahra Medical Centre, Cawang - Jakarta Timur. Lalu, patutkah kemarahan itu dilampiaskan dengan membunuh istrinya sendiri?

Sejak mempelajari teknologi pikiran, hal-hal yang selama ini dianggap tidak mungkin, nyatanya banyak dijumpai di ruang terapi. Terlepas dari apa pun agama yang dianut setiap individu, pada prinsipnya, sifat dari pikiran adalah netral. Masing-masing individu itulah yang memberikan makna tersendiri dari setiap kejadian.

Maksudnya netral bagaimana? Sebagai contoh, saat kondisi di jalan tiba-tiba macet total, sejatinya kejadian itu adalah netral. Bukankah di hampir semua tempat juga kerap terjadi macet. Namun, sekali saja seseorang memberikan muatan ‘kesal’ atau ‘jengkel’ bahkan ‘marah’ atas kemacetan itu, maka mulai saat itu, kejadian macet akan memiliki muatan emosi negatif. Begitu program ini dijalankan, maka setiap kali macet, muatannya bukan lagi netral. Secara otomatis akan timbul perasaan tidak nyaman, kesal, jengkel, dan sejenisnya.

Demikian pula dalam hubungan suami istri. Mengambil contoh kasus yang terjadi pada dokter Helmi dan dokter Letty Sultri, sudah barang tentu ada akar masalah yang menjadikan ada muatan emosi negatif yang kemungkinan terus membesar dan berefek seperti bola salju.

Berdasarkan pengalaman saat membantu klien menjalani terapi, boleh jadi dokter Helmi berada pada titik kemarahan tertinggi karena kesalahannya sendiri? Kok bisa, dia yang salah dan dia yang marah? Nah di sinilah uniknya pikiran.

Begini, umumnya, saat seseorang ketahuan alias ketangkap basah melakukan kesalahan, yang dilakukan adalah segera melindungi dirinya atau menutupi kesalahannya. Caranya bagaimana? Ya salah satunya dengan marah meledak-ledak. Tujuannya adalah untuk menutupi kesalahannya lawannya menjadi kalah gertak dan tidak lagi fokus pada kesalahan yang sedang dibahas.

Mau contoh konkret? Coba perhatikan pengendara motor yang kena razia. Begitu ada yang tidak membawa surat lengkap kemudian kena razia, ada saja yang justru balik marah bahkan hingga memaki-maki petugas polisi. Kenapa melakukan itu? Tujuannya hanya satu, untuk melindungi dirinya sendiri dan enggan mengakui kesalahan sendiri.

Kembali ke kasus dokter Helmi, boleh jadi ada kesalahan besar yang pernah dilakukan sang dokter ini, hingga kemudian diketahui oleh istrinya sendiri. Nah, untuk menutupi kesalahannya, maka marah menjadi salah satu alat untuk melindungi diri. Apalagi sang istri dikabarkan menggugat cerai, maka intensitas marah harus semakin naik, agar istri membatalkannya. Sebab, kalau sampai cerai, maka hukuman sosial belum tentu bisa diterima dokter Helmi. Dan itu berarti, dia harus mengakui kesalahannya sendiri, apa pun itu.

Namun sayangnya, kemarahan yang timbul benar-benar pada titik paling tinggi, sehingga senjata menjadi alat mematikan untuk mencabut nyawa istrinya sendiri. Inilah bahayanya jika senjata api jatuh pada tangan orang yang kurang tepat dari sisi kejiwaan atau psikologis.

Sekali lagi, apa yang dituliskan di atas hanya sebatas dugaan dan analisa dari sisi pikiran, berdasarkan beberapa kasus yang kerap muncul di ruang praktik hipnoterapi.

Andai kasus penembakan belum terjadi, apakah kemarahan dokter Helmi bisa diredakan? Lalu, apakah gugatan cerai dari istrinya bisa dibatalkan? Menggunakan metode teknologi pikiran, semua bisa dinetralisir kembali.

Dari sisi dokter Helmi misalnya, bisa ditelusuri apa akar masalah yang menjadikan sang dokter mengalami guncangan secara kejiwaan. Belum tentu istrinya yang menjadi penyebabnya. Kejadian di masa kecil, atau trauma di masa lalu, kadang kerap menjadi pemicu munculnya masalah di saat ini. Maka, untuk menelusuri hal itu, bisa dilakukan menggunakan metode hipnoterapi, mengjangkau pikiran bawah sadarnya.

Lantas, bisakah istrinya mencabut gugatan cerainya? Bisa, asal memang sang istri bersedia dinetralisir emosinya. Lagi-lagi, belum tentu juga dokter Helmi yang menjadi akar masalahnya. Trauma masa lalu, apa pun itu, kadang bisa menjadi penyebab utama seseorang sulit mengendalikan emosinya.

Bagaimana jika dokter Letty Sultri memiliki trauma tertentu atas perlakuan suaminya? Dengan teknik khusus, trauma ini bisa dinetralisir dengan mudah. Saya pernah membantu seorang bidan, yang trauma melihat wajah suaminya sendiri. Kenapa? Karena dia sempat memergoki suaminya, melakukan hubungan badan dengan seorang perawat, di rumahnya sendiri. Oh ya, suaminya adalah seorang dokter, dan suami-istri ini bekerja di sebuah instalasi kesehatan yang sama.

Bisa dibayangkan, betapa berat trauma yang dialami sang bidan ini. Dengan dua kali sesi terapi, klien ini akhirnya kembali netral dan nyaman. Kehidupan rumah tangganya pun kembali normal. Keberhasilan itu tentu berkat kemauan dan kesediaan klien sendiri. Hipnoterapis hanya membantu memberikan bimbingan dan arahan. Jika klien enggan berubah dan tidak mau melepas emosinya, mustahil berhasil kembali netral.

Kembali ke masalah dokter Helmi, tentu banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil. Sekecil apa pun masalah, sebaiknya segera diselesaikan. Jangan biarkan menumpuk masalah hingga akhirnya menjadikan bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Tidak ada masalah yang berat, yang ada hanyalah orang yang enggan menyelesaikan masalahnya sendiri.

Demikianlah kenyataannya. (*)   

Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...