HYPNO NEWS

Thursday, November 16, 2017

Ini Alasan Setya Novanto Menghilang



Publik Tanah Air dibuat heboh. Ketua DPR RI Setya Novanto dikabarkan menghilang saat Komisi Pemberantasan Korupsi hendak menjemput paksa dirinya Rabu (15/11/2017) pukul 21.40 WIB di Jalan Wijaya XIII, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Seketika spekulasi dan dugaan banyak bermunculan. Termasuk komentar warga belantara maya pun beragam. Ada yang positif maupun negatif. Namun umumnya malah menjadikan pejabat negara ini sebagai lelucon.

Betapa tidak, ketika ditetapkan sebagai tersangka untuk pertama kali oleh KPK, tiba-tiba dikabarkan sakit dengan selang memenuhi tubuhnya. Meme kocak pun bermunculan. Begitu gugatan praperadilannya dimenangkan, seketika juga langsung sembuh dan kembali beraktivitas.

Hingga kemudian, komisi antirasuah ini kembali menyematkan status tersangka, dan ‘papa minta saham’ ini kembali dikabarkan sakit, hingga akhirnya menghilang sebelum dijemput paksa.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada ketua Partai Golkar ini? Sejak memahami cara kerja pikiran, banyak hal yang mungkin terjadi pada pria ini. Yang pasti, di setiap diri manusia, selalu ada sosok ‘jahat’ yang bisa muncul kapan saja. Sosok jahat ini sebenarnya juga punya tujuan baik. Yaitu, untuk melindungi dirinya dari serangan orang lain.

Ketika ditetapkan sebagai tersangka, maka secara tidak langsung, Setya Novanto langsung mendapat label sebagai koruptor oleh publik. Padahal, label ini belum tentu benar karena harus dibuktikan dulu di pengadilan. Azas praduga tak bersalah sudah sepatutnya dijunjung tinggi.

Namun masalahnya, publik di Indonesia sudah terbiasa lebih dulu ‘menjatuhkan vonis’. Terbukti, seorang pria pun tewas dibakar publik meski belum terbukti sebagai pencuri amplifier di sebuah surau.

Kembali ke label ‘koruptor’ yang diberikan kepada Setya Novanto, tentu sebagai manusia utuh, pimpinan partai ini tetap memiliki bagian diri yang baik. Terbukti, dia pasti sayang dengan pasangannya dan anak-anaknya, serta keluarga besarnya. Bahkan boleh jadi, sesekali juga sedekah atau berbagi pada orang lain.

Bukti kebaikan lainnya adalah, dipilih menjadi ketua partai politik. Bukankah sebagai ketua tentu dipilih melalui mekanisme yang sangat demokratis dan dianggap terbaik?

Tapi, kenapa seseorang bisa melakukan korupsi? Nah, ternyata dalam diri sang manusia itu secara tidak disadari, tumbuh bagian diri baru yang sangat dominan. Siapa itu? Ya itulah bagian diri yang suka korupsi.

Ingat, tidak ada bayi yang dilahirkan langsung menjadi koruptor. Perilaku korup lahir karena banyak hal. Dari mulai keadaan, sistem, atau karena kerakusan. Semua bergantung pada nilai (value) yang dimiliki setiap pikiran bawah sadar manusia.

Awalnya, boleh jadi korupsi karena sistem. Manusia ini masih pasif, dan menerima manfaat dari kegiatan korupsi yang dilakukan orang lain melalui sistem. Begitu hasilnya dirasakan nyaman dan enak dinikmati, maka tumbuhlah nilai atau value di pikiran bawah sadar, bahwa uang hasil ‘sistem’ itu enak.

Maka, mulai ada pergeseran yang awalnya pasif, menjadi aktif menciptakan sistem tersendiri untuk mendapatkan kekayaan yang lebih cepat dan mudah. Jika ini berhasil, maka value di pikiran bawah sadar semakin kuat dan meningkat, bahwa uang hasil ‘sistem’ memang benar-benar sangat nikmat.

Itulah yang kemudian memberikan penguatan, sehingga perilaku ‘korup’ disetujui dan dijalankan pikiran bawah sadar secara otomatis. Apa pun yang dikerjakan, harus ada ‘sistem’ yang membuat uang mengalir dengan mudah ke pundi-pundi yang sudah disiapkan.

Namun, ini hanya sebatas analisa. Tulisan ini tidak bermaksud menuduh Setya Novanto sebagai koruptor. Sebab, terbukti atau tidak, hanya pengadilan yang berhak mengungkapnya.  

Lalu kenapa pria ini dikabarkan menghilang? Tentu, siapa pun yang sedang nyaman kemudian diusik, sangatlah terganggu. Aktivitas KPK tentu membuat pikiran bawah sadar siapa saja, termasuk Setya Novanto merasa terancam.

Lari dan menghilang, dianggap bisa menghindarkan diri tersangka koruptor dari ancaman. Setidaknya, tetap merasa nyaman, apalagi bisa mengatur segalanya dengan uang yang ada.  

Namun yakinlah, andai Setya Novanto membaca tulisan ini, saya hanya ingin berbicara pada bagian dirinya yang bijaksana. Wahai bagian diri Setya Novanto yang bijaksana, apakah Anda tidak lelah terus menghindar dari proses hukum? Atau apakah Anda yakin Tuhan memang tidak ada, sehingga ada bebas melakukan apa saja sesuai kemauan?
Cukup dua pertanyaan ini saja. Mudah-mudahan sang bijaksana dalam diri Setya Novanto memberikan nasihat dan pemahaman kepada bagian dirinya yang menghindari proses hukum, untuk mengakhiri semua ini.

Bagaimana menurut Anda? (*)

Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes