Sunday, December 3, 2017

Kenapa Selepas Reuni Muncul Perselingkuhan?


Sehabis menghadiri acara reuni, ada saja yang kemudian berlanjut dengan hubungan terlarang alias perselingkuhan. Istilah “kids zaman now” adalah CLBK alias cinta lama bersemi kembali atau cinta lama belum kelar.

Meski masing-masing telah berkeluarga, namun seolah-olah hal itu tidak menjadi penghalang. Hubungan tidak semestinya itu pun berlanjut. Ironisnya, ada pula yang selepas reuni, rela bercerai dengan pasangannya masing-masing. Kemudian berlanjut menikah dengan teman CLBK-nya itu.
Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan perselingkuhan mudah terjadi? Begini penjelasannya. Di dalam setiap diri manusia, sejatinya terdiri atas banyak sekali bagian diri. Ini biasanya disebut sebagai ego personality (EP). Kumpulan bagian diri inilah yang secara bergantian mengambil peran dalam pikiran setiap manusia.
Dalam diri manusia, selalu ada bagian diri anak-anak, remaja, dewasa, pegawai, pimpinan, dan bagian diri lainnya. Tergantung masing-masing individu. Saat sekolah dulu, secara tidak langsung juga terbentuk bagian diri SD, SMP, SMA, atau kuliah. Bagian diri ini tersimpan rapi di dalam diri setiap manusia, dan otomatis muncul ke permukaan ketika ada pemicunya.
Nah, reuni adalah salah satu pemicu, munculnya bagian diri ketika sekolah secara tiba-tiba. Sebagai contoh, saat seseorang menghadiri reuni SMA. Maka, saat berada di acara itu, otomatis yang aktif hanya bagian dirinya yang SMA. Inilah yang menyebabkan, bagian dirinya yang sudah punya pasangan, bahkan punya anak hingga cucu, langsung “mode off” alias kurang aktif.
Karena hanya bagian diri SMA saja yang aktif, maka semua memori, emosi, dan perasaan ketika mengenakan seragam putih abu-abu itu keluar dengan sendirinya. Yang jadi masalah adalah, ketika yang muncul adalah memori, emosi dan perasaan terhadap seseorang yang spesial.
Begitu melihat wajah orang yang spesial itu, maka seketika semua emosi dan perasaan positif langsung menyelimuti tubuh. Bahkan, seluruh sel tubuh memberikan respons dari mulai perasaan deg-degan, jantung berdebar, keringat dingin, dan sejenisnya. Pendek kata, semua rasa saat SMA itu kembali tersaji dengan jelas dan nyata.
Ingat, pikiran bawah sadar sejatinya tidak mengenal masa lalu dan masa depan. Semua yang terjadi di pikiran bawah sadar langsung dikonfirmasi sebagai kejadian sekarang juga, saat itu juga. Meski rasa cinta dan suka dengan seseorang itu sejatinya sudah terjadi belasan tahun sebelumnya, namun pikiran bawah sadar kembali memunculkannya sekarang.
Membahayakan apabila, ketika bagian diri SMA ini selanjutnya mendominasi seseorang yang pulang dari reuni. Secara tidak sadar, seketika mudah lupa atau mengabaikan pasangan dan anak-cucunya, karena seketika dirinya merasa masih SMA. Pikiran bawah sadarnya lebih dominan mengaktifkan dirinya yang SMA. Karena memang seperti itulah cara kerja pikiran bawah sadar. Dia tidak mengenal baik-buruk. Yang dia tahu, begitu program dijalankan, maka secara otomatis langsung bekerja.
Apalagi, jika hal ini diikuti dengan komunikasi dan pertemuan yang intens. Maka bagian diri SMA tersebut akan semakin kuat, meningkat, dan mempertegas bahwa diri ini harus benar-benar memegang kendali atas diri individu itu. Kondisi ini akan semakin parah jika salah satu, atau kedua teman yang reuni tersebut sedang mengalami masalah dalam rumah tangganya.
Orang yang kehidupan rumah tangganya sedang goyang, hal itu mengindikasikan pikiran bawah sadarnya mudah dibobol atau ditembus. Maka, cukup dengan komunikasi dan perhatian yang intens saja, pertahanan di pikiran bawah sadar pasti bisa ditaklukkan.
Lalu bagaimana cara mencegahnya? Di antara cara mencegah yang baik adalah, ketika reuni harus tetap membawa pasangan. Meski pasangan tidak terlibat langsung, namun kehadirannya akan membuat bagian diri yang masih sekolah tidak dominan. Kenapa? Karena masih ada bagian diri yang sudah berumah tangga, tetap aktif dan menjadi pengingat.
Lalu, bagaimana jika sudah terlanjur CLBK? Menggunakan terapi berbasis teknologi pikiran, ikatan CLBK ini bisa diputuskan dan dikembalikan dengan pasangannya yang sah. Tentu, ini juga atas seizin yang bersangkutan. Jika salah satu atau keduanya tidak bersedia dilakukan terapi, proses tidak akan bisa dijalankan dengan baik. Yang pasti, tujuan awal reuni tentu baik, untuk menjalin silaturahmi. Namun, pastikan tujuan mulia itu tidak menyebabkan bagian diri yang tidak dikehendaki justru aktif dan memegang kendali. Semoga. (*)

Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...