BREAKING NEWS

Monday, January 22, 2018

Ternyata Ini Penyebab ‘Lee Min Ho’ Suka Menunda Pekerjaan

Gambar hanya untuk ilustrasi. 


Punya banyak impian dan rencana pengembangan bisnis. Tapi, tak ada satu pun yang dikerjakan. Setiap kali ingin action, selalu muncul rasa menunda-nunda, bahkan terasa sangat malas. Itulah yang dialami Lee Min Ho. Tentu ini bukan Lee Min Ho si bintang asal Korea itu. Lee Min Ho yang satu ini asalnya dari Kaltim. Namun wajahnya juga tidak kalah menarik dibandingkan bintang film asal negeri ginseng itu.


“Saya sudah berusaha mencari tahu dalam diri saya, apa yang menyebabkan saya suka-suka menunda pekerjaan? Tapi tidak menemukan jawaban,” sebut pria 34 tahun yang nama aslinya seperti nama salah satu bintang sepak bola nasional ini.

Lee pun sudah berusaha berbicara dengan dirinya sendiri, mencoba melakukan negosiasi agar bagian dirinya yang suka menunda pekerjaan, bisa mendukung rencana bisnisnya. Namun lagi-lagi, belum membuahkan hasil maksimal. Atas alasan itu pula, Lee kemudian meminta bantuan untuk menjalani sesi hipnoterapi. Tujuannya jelas, ingin dibantu agar kebiasaan suka menunda pekerjaan itu bisa dilenyapkan dari pikiran bawah sadarnya.

Meski Lee sudah sangat mengerti cara kerja pikiran bawah sadar, namun sesuai protokol terapi, tetap diberikan penjelasan tentang apa saja yang akan dijalani selama proses terapi. Setelah diberikan penjelasan, Lee dengan mudah dibimbing masuk ke kedalaman pikiran bawah sadar yang tepat dan presisi.

Saat di bawah kedalaman pikiran bawah sadar inilah, dilakukan hipnoanalisis, untuk mengetahui apa yang menyebabkan Lee suka menunda pekerjaan. Dengan teknik khusus, ternyata pikiran bawah sadar Lee merujuk pada kejadian di usia 6 tahun. Di usia seperti itu, Lee merasa sangat malas karena sudah banyak dibebani berbagai les.

“Malas, capek. Mama nyuruh aku harus les ini itu,” tutur Lee. Beban les yang begitu padat di usia yang semestinya lebih banyak bermain, membuat pikiran bawah sadar Lee membuat program baru. Programnya adalah, jangan banyak pekerjaan agar tidak capek. Itulah yang menyebabkan dirinya menjadi lebih suka malas-malasan, lebih banyak menghabiskan waktu terbuang begitu saja.

Dengan salah satu teknik teknologi pikiran, akar masalah pada usia 6 tahun itu akhirnya dibimbing untuk dicabut. Program yang sudah mengendap selama puluhan tahun itu pun akhirnya berhasil dilenyapkan. Hasilnya, usai proses terapi, Lee merasa jauh lebih nyaman dan lebih bersemangat.

“Semoga, rencana bisnis saya 2018 ini bisa terwujud dengan baik,” ucap Lee optimistis usai sesi terapi.

Selamat ya Lee. Semoga usaha yang dirintis bisa sukses seperti yang diharapkan. 

Semoga. (*)





Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes