HYPNO NEWS

Sunday, December 16, 2018

19 Jam Bersama Dahlan Iskan




“Boleh jelaskan lebih teknis, mesin yang rusak itu bagian apa?” tanya Dahlan Iskan serius. Beliau memang sangat tertarik menulis kisah hidup Haji Nasir, pria pemilik usaha perikanan dengan bendera Piposs yang cukup tersohor di Berau, Kaltim.

Bertempat di restoran Hotel Palmy, Dahlan mencatat setiap informasi yang keluar dari mulut Haji Nasir menggunakan kertas HVS, yang diminta dari petugas hotel. “Crankshaft,” jawab Haji Nasir. “Tulisannya seperti apa? Bisa diejakan,” timpal Dahlan.




Tak hanya urusan teknis, pertanyaan terkait ‘asmara’ juga tak luput sebagai hal menarik yang selalu ditanyakan Dahlan Iskan. “Ketemu istri dulu di mana? Seperti apa ceritanya? Kenapa memilih dia?” itulah rentetan pertanyaan yang ditanyakan terkait kisah kehidupan rumah tangga nara sumber yang ada di depannya itu.

Saya melihat sendiri, betapa sosok Dahlan Iskan yang saya panggil ‘Abah’ itu begitu teliti dan detail. Pantas jika dulu beliau selalu mengingatkan, kalau menulis tidak teliti, sebaiknya jualan tomat saja. Itu pula yang menjadi penyebab, kenapa tulisan Dahlan Iskan selalu gurih, ringan, namun tetap berbobot.



Di tangannya, hal-hal yang rumit bisa disederhanakan dalam penulisannya. Kisah Haji Nasir boleh jadi sudah pernah dimuat di media lainnya. Namun, di tangan Dahlan Iskan, perjalanan hidup Haji Nasir tak sekadar ditulis sebagai kisah belaka. Tersirat banyak pesan yang menginspirasi para pembaca.

Akhir November 2018 itu menjadi momen paling istimewa dan membahagiakan bagi saya. Sebetulnya, saya sudah lama berkirim pesan pendek ke Abah. Mengundang beliau untuk sekadar berkunjung ke Berau. Setelah beberapa pekan, barulah pesan itu dibalas. Saya langsung diborong rentetan pertanyaan yang harus saya jawab dengan detail. Kalau tidak tahu, mending sampaikan belum tahu. Sebab dengan mudah beliau pasti tahu kalau saya tidak memberikan jawaban yang tepat.



Tepat 29 November 2018, saya benar-benar menjemput beliau di Tanjung Selor, ibu kota kabupaten Bulungan di Kalimantan Utara, dan menyusuri jalan darat menuju Tanjung Redeb, Berau di Kalimantan Timur. Sempat istirahat semalam di Berau, keesokan harinya, sejak pukul 05.00 Wita, langsung menemani Abah untuk menyusuri kawasan di pesisir Berau.



Selama menemani Abah, saya harus siap menjawab rentetan pertanyaan sepanjang perjalanan. Secara tidak langsung saya harus selalu berpikir. Sekali lagi, ketika tidak tahu jawaban atas pertanyaan beliau, lebih baik tegas menjawab, “tidak tahu”. Ketimbang semakin dikejar dengan pertanyaan lain, dan akan menunjukkan ketidaktahuan atas masalah yang ditanyakan.

Boleh jadi, itu yang menyebabkan saya sama sekali tidak mengantuk, meski harus menyetir mobil dari Tanjung Selor ke Tanjung Redeb, termasuk hingga ke pesisir selatan Berau, pulang pergi. 



Pelajaran lain yang saya dapatkan adalah, tepat waktu. Janji menuju pesisir Selatan Berau adalah pukul 05.00 Wita pagi, selepas subuh. Tiga puluh menit sebelumnya saya pun sudah siap di lobi hotel. Dan benar, tepat pukul 5 itu pula Abah sudah turun dari kamar dan berada di lobi, kemudian langsung bertolak menyusuri kawasan pesisir.

“Sarapan di mana bah?” tanya saya. “Nanti saja. Kalau ada penjual pisang, beli ya,” pesannya. Nyatanya mata Abah lebih awas. Beliau yang lebih dulu menunjukkan ada warung di sebelah kanan jalan, yang berjualan pisang. Dalam sekejap, beberapa sisir pisang pun langsung berpindah ke mobil yang kami tumpangi.



Menyusuri jalanan berkabut tebal, membuat laju kendaraan terhambat. Saya harus pelan-pelan karena tidak mampu melihat ruas jalan dengan jelas. Masih samar-samar. Belum lagi kondisi jalanan memang payah. Andai saja di dalam mobil juga ada orang hamil, bisa-bisa langsung kontraksi atau bahkan melahirkan di tengah jalan. Namun, Abah sama sekali tidak mengeluh dan tidak komentar. Beliau tetap santai, sesekali memperhatikan telepon genggamnya.

Jika saya sudah kelewat dalam menginjak pedal gas, hanya memberikan isyarat lambaian tangan untuk mengurangi kecepatan, atau sebagai isyarat lebih hati-hati karena jalanan berlubang. Selama perjalanan, jangan coba-coba bertanya soal politik. Jawabannya selalu tegas, “tidak tahu!” Maka, lebih nyaman menimba ilmu motivasi hingga bisnis yang memang sudah dikuasai Abah.



Abah malah lebih semangat ketika bicara soal tambak udang. Ya, usaha ‘emas bungkuk’ itu sudah dijalankan di Lombok Timur. Saya sempat ditanya soal pendidikan, segera saya buat ‘pengakuan dosa’ karena pernah sampai semester 5 kuliah di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman Samarinda. Namun, harus terhenti karena lebih memilih menjadi jurnalis. Abah pun hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan saya.

Abah pun makin semangat memberikan informasi bagaimana tambak udang bisa menjadi salah satu usaha yang bisa digalakkan. Namun, Abah menyampaikan, usaha yang dilakukan harus dengan teknologi tinggi. “Kalau yang biasa, biarkan itu milik masyarakat. Jangan sampai mengganggu usaha rakyat,” pesannya.



Sesekali Abah memberikan penjelasan soal pengelolaan tambak, namun juga bertanya, apakah saya paham atau tidak. “Anda pasti belum tahu. Anda kan kuliah hanya sampai semester 5. Ini pelajaran semester 17,” gurau Abah. Kami pun tertawa lepas, sejenak melupakan jalanan rusak yang kami lalui.

Dalam perjalanan pulang dari pesisir Berau itu, kami sempat mampir ke lokasi pabrik PT Kiani Kertas yang sampai kini berhenti beroperasi. Salah satu yang ingin diketahui adalah pembangkit listrik di lokasi perusahaan tersebut.

Tentu saja sekuriti yang berjaga di perusahaan tersebut terkejut, mendapati seseorang turun dari mobil yang kami tumpangi, dan wajahnya sangat familiar. “Wah pak Menteri, kami tidak tahu ada kunjungan,” kata sekuriti.

“Saya mampir saja, mau lihat-lihat,” kata Abah. Dia pun meminta agar ada staf di lokasi tersebut yang boleh mengizinkan melihat pembangkit listrik tersebut. Hanya berselang 15 menit, seorang pria yang bertanggung jawab di lokasi itu datang dan menemani Abah melihat pembangkit tersebut.



Usai melihat pembangkit itu, dalam perjalanan pulang ke Tanjung Redeb, wajah Abah terlihat serius. “Sayang sekali. Andai saya dulu tahu, ketika masih direktur PLN, pasti pembangkit ini bisa dioperasikan. Saya tidak tahu kalau ada pembangkit besar di sini,” sesalnya. Ya itulah Abah, masih memikirkan beberapa hal, yang sejatinya bisa diperbaiki, tanpa birokrasi yang berbelit.

Saat hendak pulang ke Surabaya, di Bandara Kalimarau Berau, Abah beberapa kali memasang wajah takjub. “Bandara ini bagus sekali. Bersih. Sangat bersih dan bagus. Di Tawau Malaysia saja kalah bersih,” katanya. Maklum, sebelum ke Berau, Abah memang berkunjung ke Kota Kinabalu dan Tawau. Maka tak heran jika pujian tulus itu berkali-kali diberikan untuk bandara di utara Kaltim ini.

Saat saya tawarkan untuk foto di salah satu dinding bandara, dengan senang hati Abah bersedia. Foto itu pula yang kemudian dipasang di Instagram beliau @dahlaniskan19. Pun saat beberapa petugas bandara minta foto bersama, Abah dengan senyum selalu bersedia melayani.  

Banyak lagi kesan mendalam sepanjang saya bersama Abah. Namun biarlah itu menjadi kenangan terbesar dalam hidup saya. Semoga nanti bisa saya tuliskan kembali. Demikianlah seharusnya. (*)   

 



Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes