HYPNO NEWS

Thursday, January 17, 2019

Alhamdulillah, Anak Saya Kecelakaan

foto hanya ilustrasi



Beberapa waktu lalu, saya mendapat pesan masuk dari seorang ibu. Dia mengeluhkan tentang kondisi anaknya, yang menurutnya agak sulit diatur. Beliau mengaku sudah pusing menghadapi buah hatinya itu.


“Punya anak laki-laki satu, saya dibuat stress. Merokok terus sampai batuk-batuk. Bingung saya,” katanya. Selain itu, anaknya juga sering keluyuran. Dia pun meminta jadwal terapi, namun persoalannya, terapi harus dilakukan ketika yang bersangkutan berkenan. Karena anaknya belum mau, maka saya sarankan untuk melakukan pendekatan dengan lima bahasa cinta, serta meminta maaf dengan tulus.

Ibu ini memang sebelumnya berpisah dengan suaminya. Maka si anak yang kemudian jadi korban. Tak hanya anaknya, tapi sejatinya dia sendiri pun belum bisa menerima perpisahan itu. Jadwal terapi untuk ibu ini pun segera diatur, agar bisa membantu menetralisir semua perasaan tidak nyaman atas persoalan yang dia hadapi.

Malam tadi, saya kembali membaca pesan masuk melalui akun media sosial. “Anakku kecelakaan, patah tangan kirinya, patah paha sebelah kanan,” demikian pesan masuk tersebut. Saya seketika membalas dengan jawaban, “Alhamdulillah... wah kereen.” Mungkin pembaca ada yang bingung bahkan protes. Mendapat kabar ketidakberuntungan kok bilang Alhamdulillah?




Loh, inilah prinsip Magnet Rezeki. Tidak ada yang namanya ketidakberuntungan, karena sejatinya semua yang terjadi adalah rezeki. Saya kemudian menjelaskan, harus bersyukur atas kejadian itu. Sebab, bukankah ketidakberuntungan yang menimpa anaknya itu adalah jawaban dari doa ibu tersebut?

Dengan anaknya yang kurang sehat di bagian kaki dan tangannya, bukankah anaknya jadi tidak merokok dan tidak keluyuran lagi. Inilah momen berharga untuk merawat anak dengan tulus, memperbaiki hubungan agar lebih harmonis lagi dengan buah hatinya. Inilah cara Allah yang sangat luar biasa memberikan rezeki kepada hambanya.

“Makasih mas. Iya mas, dia hrs istirahat total di tempat tidur. Pada saat melihat dia pertama kali setelah kecelakaan, saya berusaha gak nangis, walaupun saya rasanya mau histeris. Tapi saya sudah ikhlas dengan ini semua. Saya berusaha terus menyemangati dia. Saya berusaha selalu tersenyum di depannya, walaupun dalam hati ini menangis melihat kondisinya. Saya selalu di sampingnya dan saya lega melihat dia bisa tersenyum dan tertawa. Dia bilang merasa tenang kalau saya di sampingnya,” jelasnya kemudian di pesan masuk itu.



Coba lihat cara Allah mendamaikan hubungan antara ibu dan anaknya ini. Ketidakberuntungan yang sedang dialami hanyalah jalan agar keduanya kembali damai. Sebab, kaki dan tangan yang kurang sehat masih mudah diobati. Namun hubungan hati yang kurang nyaman, lebih tidak mudah dalam mengatasinya.



Mendapat penjelasan tersebut, sang ibu akhirnya merasa sangat tenang dan nyaman. Dia bisa menerima kejadian ketidakberuntungan itu dengan lebih plong.

Sahabat, ketika terjadi sesuatu, terkadang sebagai individu kita sibuk mencari penyebab atau menyalahkan orang lain. Apa pun yang terjadi, pasti ada pihak lain yang menjadi penyebabnya. Padahal, hidup di dunia ini memiliki prinsip sebab akibat, tabur tuai. Ada sebab, pasti ada akibat. Siapa yang menabur, dialah yang menuai. Maka, apa pun yang terjadi, asal muasalnya pasti dari diri sendiri.

Saya pun menuliskan ini, tentu bukan berarti sudah menjadi pribadi yang paripurna. Sebagai manusia biasa, hanya bisa terus belajar dan belajar. Semakin tahu, maka saya makin memahami kebodohan saya sendiri.

Dalam hal membantu orang lain, dulu dengan salah satu teknik, saya sudah merasa teknik itu sangatlah hebat tiada tandingannya. Nyatanya, tak lama kemudian ada teknik lain yang malah lebih hebat dan efektif dalam membantu menyelesaikan masalah orang lain. Apakah ini sudah sangat hebat, nyatanya belum juga. Ada lagi teknik baru yang juga lebih cepat dan keberhasilannya juga sangat tinggi.

Pendek kata, ilmu terus berkembang, berbagai teknik terus diciptakan. Sebagai manusia biasa, sudah fitrahnya agar tidak berhenti belajar. Salah satunya belajar dari setiap kejadian yang sedang menimpa orang lain. Setiap kali membantu klien baik terapi maupun konsultasi, sejatinya saya juga sedang belajar. Begitu pun saat diminta berbagi atau diskusi, saya pun belajar dari setiap pertanyaan hingga pernyataan yang disampaikan orang lain.

Dari ibu yang anaknya mengalami ketidakberuntungan seperti kisah di atas, kita juga diberikan pelajaran yang luar biasa, bahwa ketulusan orang tua tidak akan pernah ada batasnya.

Bagaimana menurut Sahabat?  



Share this:

Post a Comment

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes