HYPNO NEWS

Monday, January 28, 2019

Anak Benci Matematika? Atasi dengan Cara Ini




Salah satu pertanyaan yang kerap dilontarkan para orang tua adalah, bagaimana mengatasi anak yang tidak suka pelajaran matematika? Jujur, ketika saya sekolah dulu, kadang juga kurang suka dengan pelajaran satu ini. Namun kalau mau ditelusuri lagi, saya ternyata bukan tidak suka matematika-nya. Tapi lebih tepatnya, tidak suka dengan gurunya.


Sebab, ada juga masanya saya sangat suka matematika, karena cara mengajar sang guru sangat menyenangkan dan mudah dipahami. Pendek kata, saya terhipnosis dengan pola belajar yang beliau lakukan.

Walau tidak semua, namun nyatanya masih ada saja guru matematika yang terkesan ‘angker’, killer, serem, suka menghukum, dan sederet label kurang positif lainnya. Nah, anehnya, sebagian guru matematika malah menyukai label ini. Beberapa guru malah bangga atau merasa sangat puas ketika melihat siswanya kesulitan atau tidak mampu menjawab soal yang dia berikan.

Andai guru matematika ini menjalani sesi hipnoterapi, akan bisa diketahui, kenapa sampai tampil menjadi guru ‘killer’. Jangan-jangan di masa lalu ada trauma, atau malah sengaja ingin membalas dendam. Boleh jadi ketika dirinya masih siswa, pernah mengalami hal serupa.  Tapi ingat, ini hanya asumsi. Penyebab sesungguhnya ya tentu berbeda-beda bagi setiap orang. Penyebab ini baru bisa diketahui melalui sesi hipnoterapi klinis dengan standar yang tepat.

Secara umum, anak yang kurang suka pelajaran matematika disebabkan tiga faktor. Izinkan saya menguraikan ketiga faktor tersebut berdasarkan pemahaman yang saya miliki saat ini.




1.    Faktor Orang Tua

Orang tua menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan anak. Tak sedikit orang tua yang tidak sekadar mengejar prestasi, tapi juga sudah bergeser ingin meraup prestise alias kebanggaan. Akibatnya, anak jadi korban ‘keganasan’ orang tua.

Orang tua tipe ini akan bangga ketika anaknya dianggap jago matematika. Bangga ketika anaknya bisa menghitung angka hanya dalam waktu hitungan detik. Sayangnya, masa bahagia si anak dirampas karena harus les matematika, serta kursus menghitung dengan berbagai metode paling canggih. Pokoknya, anak harus bisa mengalahkan kalkulator.

Orang tua seperti inilah yang justru membuat anak kurang percaya diri hingga membenci matematika. Apalagi, tak jarang orang tua yang memberikan label ‘bodoh’, hanya karena anak tidak paham matematika. Kondisi itu membuat anak semakin tertekan, konsep dirinya terpuruk, dan jadilah semakin membenci pelajaran satu ini.

Lalu bagaimana solusinya? Paling utama, sebagai orang tua, harus memahami kondisi anak. Ingat, tidak jago matematika bukanlah akhir dari sebuah kehidupan. Hidup anak tidak akan kiamat hanya karena anak tidak bisa menjawab soal matematika.

Berikan semangat dan rasa percaya diri pada anak. Hentikan memberikan label ‘bodoh’ atau kurang positif lainnya, ketika anak belum mampu. Tetap berikan motivasi terbaik, dan dampingi dengan suasana belajar menyenangkan.

Memaksa anak belajar, atau bahkan memarahi anak untuk belajar, justru hanya akan membuat anak semakin tertekan. Sekecil apa pun kemampuan anak, hargai dan berikan pujian serta semangat. Jika rasa percaya dirinya sudah tumbuh, maka semakin mudah bagi anak mempelajari matematika.   




2.    Faktor Guru

Guru adalah salah satu faktor penentu dalam proses belajar dan mengajar di sekolah. Jika suasana belajar menyenangkan, maka siswa akan semakin semangat dan mudah menyerap semua ilmu yang diajarkan. Lantas, kenapa pelajaran matematika umumnya kurang menyenangkan? Nah, ini karena guru matematika masih ada saja yang kurang menyenangkan.

Seolah sudah menjadi prototipe, mereka yang suka ilmu pasti atau ilmu eksakta, kurang suka basa-basi atau bercanda. Mereka yang suka matematika, umumnya suka yang tegas dan jelas. Dalam rumusnya, satu ditambah satu ya harus dua. Berbeda dengan ilmu sosial yang jawabannya bisa berbeda bahkan bisa diperdebatkan.

Karena itu, guru matematika umumnya kurang suka basa-basi. Gaya komunikasinya sangat tegas. Hanya mengenal jawaban salah dan benar. Tidak ada istilah hampir benar atau mendekati benar. Pokoknya salah atau benar.

Tipikal guru matematika umumnya kurang pandai merayu, kurang pandai bersandiwara atau berpura-pura. Inilah yang membuat murid merasa tegang. Belum lagi jika guru suka menghukum, maka murid akan semakin tertekan dan makin tidak suka pelajaran ini.

Maka, ada baiknya para guru matematika meningkatkan kemampuannya dalam berkomunikasi yang nyaman dengan para siswa. Para guru bisa memahami bagaimana menyenangkan dan mengambil hati para siswa. Meminjam istilah dari DR Ahmad Bahruddin, guru berprestasi nasional asal Kaltim, guru hendaknya menjadi ‘kekasih’ bagi para muridnya. Hal itu pun beliau rumuskan dalam bukunya ‘Guruku Kekasihku’.

Sudah saatnya cara mengajar guru matematika digeser dari menghukum, menjadi lebih menghargai atau memberikan semangat. Lebih memilih memberikan hadiah pada siswa yang bisa menjawab soal, ketimbang menghukum siswa yang suka membuat onar.

Guru hendaknya memberikan suasana positif. Guru sepatutnya bisa menjadi pelawak, pesulap, bahkan penyanyi dan artis sinetron. Ini adalah bekal tambahan agar murid merasa mendapat suasana belajar yang menyenangkan.

Dalam beberapa kasus, ketika melakukan terapi pada klien, tak sedikit klien yang tidak percaya diri, mudah cemas atau kesulitan memahami sesuatu hanya karena di masa lalu pernah dihukum guru. Hukuman yang diharapkan memberikan efek jera, yang terjadi malah sebaliknya. Hukuman di masa lalu justru memberikan efek trauma berkepanjangan, terbawa sampai dewasa.

Hukuman tak selalu berupa fisik. Hukuman dalam bentuk kalimat verbal yang menyakitkan, juga akan memiliki pengaruh tidak kecil di pikiran bawah sadar. Ucapan-ucapan kasar dan terlanjur terlontar dari para guru, terkadang memberikan dampak kurang positif di kemudian hari.

Maka, mari mulai saat ini, anggap murid adalah mitra belajar. Anggaplah murid sebagai ‘kekasih’ dengan tujuan sama-sama menuntut ilmu. Sehingga semua merasa nyaman.          



3.    Faktor Anak  

Setiap anak dilahirkan dengan kecerdasannya masing-masing. Maka, sejatinya tidak ada anak kurang pandai. Semua anak pandai dan cerdas. Jika mendapati anak kurang suka belajar matematika, harus dipastikan terlebih dahulu. Apakah anak benar-benar tidak suka matematika, atau sebenarnya hanya karena tidak suka dengan gurunya.

Kalau tidak suka dengan matematikanya? Maka cobalah anak diajak belajar dengan suasana lebih menyenangkan. Bisa belajar dengan alat bantu video, musik, atau aplikasi bergerak lainnya. Yang penting, anak diajarkan konsep matematika secara tepat. Saat ini begitu banyak tersedia metode belajar yang menyenangkan. Prinsipnya, anak harus nyaman dan tidak ada tekanan.

Jika anak tidak suka dengan guru matematika, boleh jadi memang ada trauma mendalam di masa lalu. Ini bisa diatasi dengan sesi terapi khusus dengan ahlinya. Ada banyak teknik khusus yang bisa dilakukan pada anak, termasuk misalnya dengan hipnoterapi, agar anak bisa kembali merasa nyaman dan netral ketika bertemu dengan guru yang kurang menyenangkan itu.

Di SD Islam Al Himah Samarinda Seberang misalnya, saya rutin membimbing para murid kelas VI yang akan menghadapi ujian nasional. Yang dibantu untuk dibereskan adalah bagaimana siswa tidak lagi merasa takut, gugup, cemas, kurang percaya diri, deg-degan, was-was, dan semua perasaan tidak nyaman lainnya.

Para murid pun diajarkan teknik khusus, bagaimana jika sewaktu-waktu muncul perasaan tidak nyaman. Teknik itu tentu akan menjadi bekal berharga, bahkan bisa dipakai hingga dewasa nanti. Jika semua sudah nyaman dan netral, pasti para murid bisa mengikuti ujian nasional dengan perasaan semakin positif dan lebih percaya diri.



Dari tiga hal di atas, faktor mana yang menjadi penyebab anak Anda kurang suka matematika? Mari kita cek secara cermat dan teliti. Lihat dari sudut pandang yang netral, sehingga bisa sama-sama menemukan solusi yang tepat untuk membantu buah hati Anda.

Sebenarnya, apa yang ditulis artikel ini, secara garis besar juga berlaku untuk pelajaran lain. Hanya kebetulan matematika dijadikan contoh. Jadi dengan segenap hati yang tulus, izinkan saya memohon maaf bagi para ahli, para guru, serta penggemar matematika. Ini hanya sebagai bahan pembelajaran bersama. Maafkan saya jika dianggap salah dalam artikel ini, karena saya juga masih terus belajar dan tumbuh bersama para pembaca.

Bagaimana menurut Anda?    



Share this:

Post a Comment

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes