HYPNO NEWS

Monday, January 14, 2019

Ini Empat Penyebab Anak Tak Bisa Dikendalikan



Belum lama ini, saya mendapat curahan hati dari pasangan suami istri. Persoalannya adalah, anak terakhirnya sangat sulit dikendalikan. Apa pun yang diminta harus segera tersedia. Kalau tidak, maka akan langsung menugamuk dan apa pun yang di dekatnya pasti akan melayang. Lantas bagaimana mengatasinya?


Seperti biasa, mendapati kisah seperti ini, saya tidak langsung fokus pada anak. Saya selalu ingin menelusuri pola asuh kedua orangtuanya. Sebab, tidak mungkin sikap anak terbentuk seperti itu dalam sekejap, tanpa ada peran serta dari kedua orangtuanya. Mendidik anak tentu tidak seperti kisah Roro Jonggrang yang meminta seribu candi dalam waktu semalam.

Ketika berdiskusi tentang persoalan anaknya, kebetulan anak yang dimaksud juga ada di situ. Bagi saya, ini sekaligus momen, sebagai ‘orang asing’ harus menembus pikiran bawah sadarnya dengan cepat. Maka, sengaja saya membuat bahasa sindiran dengan suara keras, yang tujuannya agar menembus pikiran bawah sadar anak ini.

Terbukti, si anak langsung bereaksi. Kedua tangannya bersedekap, menunjukkan sikap otoritasnya. Dari gaya bocah yang baru duduk di bangku prasekolah itu sudah terlihat, selama ini dia sudah begitu berhasil mengendalikan ayah dan ibunya. Kedua orangtuanya benar-benar tidak berdaya, tunduk dan patuh pada perintahnya.

Saya sengaja bercerita tentang kisah Nabi Nuh, terutama soal anaknya yang tidak patuh pada ayahnya. Alhasil, si anak tersapu banjir bandang. Maka tidak ada alasan apa pun yang membenarkan ada anak yang tidak patuh bahkan melawan orangtua. Pasti anak itu hidupnya kelak kurang baik.

Ketika saya menyampaikan itu, si anak merasa ‘diserang’. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan dengan bertanya sesuatu kepada ayahnya. Melihat itu, saya membuat volume suara saya semakin nyaring. Namun apa yang saya sampaikan tetap santun dan terarah. 

Saya fokus memberikan informasi ke pikiran bawah sadar anak ini, bahwa saat itu saya sedang pegang kendali atas kedua orangtuanya. Dia tidak boleh merebut kendali itu sesukanya. Anak ini langsung diam, dan terpaksa menatap ke depan dengan pandangan kosong.

Dengan cara ini, saya ingin menunjukkan kepada kedua orangtuanya, bahwa kendali anak harus pada orangtuanya. Jika ada anak yang sudah mengambil alih peran ini, maka tentu ada sesuatu yang kurang pas dan perlu dibenahi.

Berikut beberapa hal yang mungkin bisa menjadi penyebab kenapa anak berhasil mengendalikan orangtuanya, sekaligus solusi yang bisa dilakukan agar anak bisa dikendalikan.

1.    Ayah dan Ibu, Sibuk Bekerja.

Ini biasanya menjadi salah satu persoalan yang dialami banyak keluarga. Pasangan suami istri masing-masing sibuk bekerja, atau berkarir. Akibatnya, anak merasa kurang mendapat perhatian. Maka sebagai balasannya, anak akan menuntut hal-hal yang di luar kewajaran. Tujuannya satu, membuat kedua orangtuanya merasa bersalah dan tak berdaya. Begitu program ini berhasil, maka yakinlah, pikiran bawah sadar anak akan terus menjalankan program ini.

Bagaimana mengatasinya? Bagi ayah dan bunda yang sibuk bekerja, maka hendaknya patuhi aturan ini, jangan pernah membawa pekerjaan ke rumah. Tak jarang pasangan yang sudah sibuk bekerja, begitu sampai rumah masih harus lembur. Kalau pun tidak lembur, tapi lebih banyak pegang telepon seluler, mengurusi pekerjaan dari rumah. Ini juga tetap lembur namanya. Sebab secara fisik orangtua memang di rumah, tapi pikiran tetap di pekerjaan, atau dengan rekan kerjanya. Kondisi tersebut akan membuat anak semakin drop tidak berdaya.



Ibarat telepon seluler, anak sedang butuh daya. Namun, orangtua justru sibuk dengan pekerjaan di rumah. Ingat, anak butuh ayah atau ibunya. Anak tidak butuh pengusaha, pedagang, pegawai, karyawan, bahkan bos atau direktur. Yang dia butuhkan adalah orangtuanya secara utuh.

Jadi hindari membawa pekerjaan di rumah. Begitu sampai di rumah, pastikan berikan perhatian penuh pada buah hati.

Terus bagaimana jika tempat usahanya di rumah sendiri? Bagi waktu yang tepat dan garis batas yang jelas, kapan bekerja dan kapan untuk anak-anak. Bahkan jika perlu izin sama anak ketika ingin bekerja. Ini penting dalam upaya menghargai buah hati.   

2.    Orangtua Belum Paham Bahasa Cinta

Seperti disampaikan sebelumnya, ibarat telepon seluler, anak harus selalu diisi baterai kasih sayangnya. Nah, mengisi baterai kasih sayang itu ada lima, masing-masing pujian, sentuhan, waktu berkualitas, pelayanan dan hadiah. Hal tersebut sesuai teori yang pernah disampaikan Gary Chapman melalui bukunga 5 Love Languages.    

Jadi, cek dengan tepat, sudahkah ayah dan bunda mengisi baterai kasih sayang kepada mereka. Jika tidak, tentunya anak akan berperilaku kurang baik dan pasti akan menuntut kebutuhannya dengan cara mengendalikan ayah ibunya.  

3.    Kurang Tegas Pada Anak

Bisa dipastikan, anak yang mampu mengendalikan orangtuanya, kedua orangtuanya kurang tegas dalam pola asuh sehari-hari. Padahal, sikap tegas juga sangat penting. Tegas bukan berarti tidak sayang. Ini yang membuat beberapa orangtua tidak berdaya, karena takut ketegasan itu akan melukai hati anak. Tegas di sini tetap disampaikan dengan kelembutan dan kasih sayang. Tegas bukanlah dengan marah meledak-ledak.  


Saat minta mainan di mal, misalnya, anak akan menangis. Ini sebenarnya hanya senjata agar orangtua menuruti. Orangtua kadang tidak mau pusing, bahkan malu, sehingga terpaksa menuruti maunya anak. Padahal, justru sikap itulah yang membuat anak berhasil menjalankan misinya. Pikiran bawah sadar anak otomatis membuat program, minta sesuatu harus dengan cara menangis di depan umum.

Padahal, coba saja biarkan dia menangis, dan sampaikan, “Kamu menangis sampai kapan pun, ayah atau bunda tidak akan belikan. Sebab, sudah sering kok dibelikan. Ada waktunya kita beli, tapi nanti. Tidak harus sekarang. Kamu juga harus bisa belajar mengendalikan diri. Sekarang silakan nangis sepuasnya, biar ayah atau bunda tunggu sampai selesai.”

Percayalah, sekali disampaikan, pikiran bawah sadarnya pasti akan membatalkan program ini, karena dianggap gagal. Kemungkinan anak akan mencoba kembali di lain kesempatan, maka lakukan hal yang sama. Dengan demikian, hal itu pasti tidak akan dilakukannya lagi, karena sudah terbukti gagal.

4.    Kedua Orangtua Masih Menyimpan Emosi Masa Lalu

Penyebab lain anak yang sulit dikendalikan adalah, kedua orangtuanya ternyata juga ada menyimpan emosi atau trauma di masa lalu. Sebagai contoh, ada seorang ibu yang dulu ketika dirinya masih kecil, sering mendapat perlakuan kasar dari orangtuanya. 

Akibatnya, ketika dewasa, ibu ini tidak mau memperlakukan anaknya, sama seperti dia dulu diperlakukan. Sebenarnya, hal itu baik. Sebab pikiran bawah sadar sudah mempunyai program, jangan menyakiti hati anak. Namun, yang belum diingat adalah, ketegasan tetap perlu, demi masa depan anak.

Namun ada pula ayah dan bunda yang di masa lalunya mendapat perlakuan sangat kasar dari kedua orangtuanya, maka pola asuh terhadap anaknya pun keras. Karena keras, anak pun berusaha memberontak juga dengan kekerasan. Maka, mata rantai pola asuh yang keras dan kurang terkendali akan semakin liar.


Lantas bagaimana mengatasinya? Untuk orangtua dengan trauma masa lalu yang menumpuk, sebaiknya harus dibereskan dulu. Bisa dengan melakukan terapi pada diri sendiri, atau meminta bantuan orang lain melalui sesi terapi khusus, misalnya kepada hipnoterapis klinis. Ini untuk menetralisir semua emosi atau trauma masa lalu yang mengganggu.

Semoga saja, empat penyebab tersebut di atas bisa diatasi, sehingga ayah dan bunda kini lebih mampu mengendalikan buah hatinya. Semoga buah hati dari ayah bunda semua, menjadi anak yang saleh dan salehah, dan kelak bisa dibanggakan oleh ayah dan bunda.

Demikianlah kenyataannya. (*)  

  





Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes