HYPNO NEWS

Saturday, January 19, 2019

Mahasiswi Ini Langsung Pasrah, Hanya Gara-gara....

foto hanya untuk ilustrasi. Sumber: Tribunnews.


Sore itu, seorang mahasiswi dari Kabupaten Tabalong, Kalsel mengirimkan pesan pendek. Dia menyampaikan terima kasih atas artikel yang saya tulis. Kenapa? Karena artikel itu, dia akhirnya merasa ikhlas dan pasrah sepenuhnya atas persoalan yang dia hadapi.


Artikel yang dia baca berjudul, “Alhamdulillah, Anak Saya Kecelakaan.” Menurutnya, judul artikel itu aneh. “Patah tangan sama kaki kok ucap alhamdulillah?” tanyanya. Namun, setelah membaca utuh artikel tersebut, barulah dia memahami apa maksud dari tulisan yang mengambil konsep Rahasia Magnet Rezeki itu.  

Dia mengatakan, sebelumnya merasa tertekan karena nilai yang dia dapatkan di bangku kuliah menurutnya tidak fair. Dia menganggap sudah maksimal dan melakukan yang terbaik. Namun nyatanya, goresan nilai yang tertera di kartu hasil studinya tak sesuai harapan.

Ia pun mengaku sudah curhat ke sana ke mari, namun tak juga mendapatkan solusi. Sampai akhirnya dia ‘tersesat’ di artikel tersebut. “Gara-gara baca artikel tersebut, jadi merasa plong. Kemarin-kemarin curhat tidak mengurangi rasa sedih,” tulisnya melalui pesan Whatsapp. Selain itu, dia menyampaikan mengambil hikmahnya saja untuk belajar lebih giat dan memperbaiki nilai semester selanjutnya.

Sahabat, seringkali saat mendapatkan persoalan, yang kita lakukan adalah menambah rumit persoalan itu. Ibarat ada goresan luka, malah ditambah dengan perasan jeruk nipis. Akibatnya luka itu makin terasa pedih dan perih. Padahal, jika fokus pada bagaimana menyembuhkan luka, dan segera bangkit, maka luka itu bisa segera pulih.

Berapa banyak mereka yang sedang memiliki persoalan, akhirnya semakin drop dan terpuruk. Pikirannya langsung meratapi diri sendiri, menyalahkan diri sendiri, hingga puncaknya merasa diri tidak berguna, tidak berharga, dan benar-benar tak berdaya.

Wahai sahabat semua yang saat ini mungkin sedang mengalami ketidakberuntungan, mendapatkan persoalan, hingga bahkan sedang terbaring di klinik kesehatan, coba atur nafas sejenak. Segera fokus pada nafas. Tarik nafas yang panjang dan dalam dari hidung, kemudian embuskan perlahan melalui mulut. Lakukan sebanyak tiga kali.

Setelah itu, sadarilah diri sendiri. Haruskan terus terpuruk? Cobalah melihat dari sisi lain. Ibarat sedang di pasar malam, Anda yang terkena persoalan seolah sedang berada di wahana kursi ombak. Itu lho, wahana kursi yang berbentuk lingkaran, kemudian sengaja diayun-ayunkan seperti gelombang. Seketika pasti merasa pusing dan mual. Rasanya tidak bisa lepas dari persoalan dan berharap semua berhenti seketika.

Tapi coba lihat reaksi penonton, mereka justru tertawa lepas dan senang melihat diri Anda yang sedang pusing dan ketakutan. Maka, nikmatilah permainan itu seperti halnya penonton yang sedang merasa gembira. Ketika diri mendapat persoalan, segera keluar dari wahana. Lihat dari luar, dan cermatilah. Selalu ada celah untuk bisa menikmati persoalan tersebut. Selalu saja ada hikmah dan keberuntungan yang tersembunyi di balik ‘luka’ yang sedang dirasakan.

Anda yang sedang mendapat ketidakberuntungan, misalnya diberhentikan dari pekerjaan, tak usah meratapi kondisi itu. Jangan diberi jeruk nipis berlebihan. Segera sadari kenyataan itu. Kemudian cari dan lihatlah, pintu mana yang terbuka. Segera ambil hikmah di balik persoalan itu.

Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bahkan kalimat ini menjadi pembuka atas doa apa pun. Jika kembali pada doa ini saja, rasa-rasanya aneh jika ada yang merasa kurang beruntung. Berkah berupa kesehatan saja itu sudah sangat-sangat mahal harganya. Jadi segera bersyukur atas semua kejadian yang terjadi. Itu sebabnya, melalui konsep Magnet Rezeki, setiap individu harus selalu melatih diri segera mengucap Alhamdulillah setiap kali menemui sesuatu.

Nyaman atau tidak, beruntung atau kurang beruntung, bermanfaat atau tidak bermanfaat, pokoknya ucapkan Alhamdulillah setiap kali mengalami sesuatu. Dengan cara itu, maka diri akan selalu nyaman dan bisa mengambil hikmah atas setiap kejadian.

Beberapa waktu lalu misalnya, saya mengendarai motor sejauh hingga lebih dari 100 kilometer jaraknya. Meski kecepatan lumayan tinggi, alhamdulillah diberikan perlindungan keselamatan. Kemudian, saya sengaja istirahat sejenak di tepi sungai, untuk sekadar menikmati segelas kopi di sebuah rombong kaki lima.

Motor saya parkir di tepi jalan. Tak lama kemudian, ada seorang pria paruh baya dengan cucunya, berhenti sejenak ingin membeli jajanan. Si cucu tetap ditinggal di motor. Tak lama kemudian, ternyata si cucu tadi tak sengaja memegang stang motor, tepat di tuas gas. Spontan motor tersebut bergerak, jatuh, dan menimpa motor saya yang sedang parkir. Beruntung si cucu yang ikutan jatuh tidak apa-apa.

Segera saya berlari dan mengembalikan posisi motor pria tersebut, juga motor saya. Spontan saya mengucap Alhamdulillah. Juga segera tersenyum pada pria tersebut, yang bahkan tak mengucap kata maaf sama sekali. Pria itu malah menyalahkan cucunya. “Kenapa dipegang gasnya,” ujarnya. Saya pun menyarankan, sebaiknya posisi motor selalu mati, supaya tidak terjadi hal seperti ini lagi.

“Kalau dimatikan, susah pak menyalakannya lagi,” ujar pria itu. Saya pun tersenyum, dan kembali menikmati segelas kopi. Benar saja, tak lama kemudian, saya mendapati pria tersebut harus menyalahkan mesin motor dengan kaki kanannya. Beruntung tak lama kemudian menyala. Tak lupa dia melemparkan senyum ke arah saya, dan saya membalas juga dengan senyuman.

Setelah pria itu berlalu, saya kembali bersyukur. Bersyukur karena motor saya jatuh saat diparkir. Bukan jatuh ketika sedang mengendarainya. Apa jadinya kalau motor saya jatuh justru ketika saya sedang melaju kencang tadi? Maka, bersyukurlah kapan pun, di mana pun, dan di saat apa pun.

Bagaimana menurut sahabat?
     

Share this:

Post a Comment

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes